Kebakaran Hutan Gunung Bromo, Komisi IV Minta Drone Pantau Titik Api Real-Time

Kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, terus meluas. Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan meminta pemerintah memanfaatkan teknologi drone untuk memantau titik api secara real-time untuk mendukung proses pemadaman.
Daniel mengatakan pemantauan menggunakan drone diperlukan untuk memetakan sebaran api secara akurat, terutama karena sejumlah titik di kawasan Tengger sulit dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.
“Kami turut prihatin atas kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang hingga Kamis (6/8) telah meluas hingga sekitar 70 hektare dan merembet ke wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur," kata Daniel kepada wartawan, Senin (10/8).
"Kawasan konservasi ini bukan hanya aset ekologis penting, tetapi juga penopang ekonomi wisata masyarakat sekitar, sehingga setiap hektare yang terbakar adalah kerugian jangka panjang yang tidak mudah dipulihkan,” tambahnya.
Menurut dia, kondisi medan di sejumlah titik kawasan Tengger yang sulit dijangkau membuat penggunaan water bombing menjadi salah satu pilihan dalam upaya pemadaman. Namun, operasi tersebut perlu didukung dengan pemetaan titik api yang akurat.
“Kami memahami medan di beberapa titik Tengger sulit dijangkau tim darat, sehingga segera lakukan water bombing menjadi pilihan yang tepat,” ujar Daniel.
“Saya mendorong agar operasi pemadaman dilakukan secara sistematis dan didukung penuh oleh teknologi: pemantauan titik api secara real-time melalui drone untuk memetakan sebaran api secara akurat, sekaligus meminimalisir personel darat yang harus masuk ke titik-titik berisiko tinggi di medan berbahaya tersebut. Data dari drone ini juga bisa menjadi dasar penentuan prioritas sasaran water bombing agar lebih efektif dan tepat sasaran,” sambung dia.
Daniel menilai pemantauan melalui drone juga dapat membantu mengurangi risiko terhadap personel yang bertugas di lapangan. Selain penggunaan drone dalam proses pemadaman, Daniel meminta koordinasi antarlembaga diperkuat.
“Koordinasi antara BNPB, BPBD, Balai Besar TNBTS, TNI/Polri, dan relawan juga perlu diperkuat agar tidak ada tumpang tindih maupun titik yang luput dari pemadaman. Kami komisi IV juga meminta pemerintah pusat memastikan kecukupan anggaran serta dukungan logistik bagi personel di lapangan, mengingat keselamatan mereka harus jadi prioritas utama di medan seekstrem ini,” kata Daniel.
Dia juga mendorong adanya evaluasi terhadap kesiapan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan konservasi. Menurutnya, pencegahan perlu diperkuat agar kebakaran serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
“Ke depan, perlu evaluasi menyeluruh atas kesiapan mitigasi karhutla di kawasan konservasi, termasuk investasi pada early warning system berbasis drone dan satelit, agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau. Terutama tahun ini yang telah diprediksi el nino yang panjang harus siap siaga atas dampaknya,” ujarnya.
Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat luas kawasan Gunung Bromo yang terdampak kebakaran meluas. Luas lahan yang terbakar kini mencapai 520 hektare.
Luasan tersebut meningkat dari data sebelumnya sekitar 176 hektare.
“Tercatat hingga saat ini ada 520 hektare kawasan terdampak kebakaran,” kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha di Gunung Bromo, Jawa Timur, Minggu (9/8).
Perluasan area terdampak terjadi setelah api kembali berkobar di kawasan Gunung Bromo pada Sabtu (8/8) malam. Api tidak hanya membakar tebing, tetapi merambat ke area savana Gunung Bromo.
Rudi menjelaskan, kebakaran meluas akibat hembusan angin yang cukup kencang sejak Sabtu siang. Kondisi tersebut membuat api menjalar dengan cepat dari bagian atas tebing ke arah bawah.
