Menilik Kisah Cinta dan Peran Ratna Dewi di Sisi Sukarno

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Istri ke-6 Presiden Soekarno Ratna Sari Dewi Sukarno di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026).
 Foto: Bay Ismoyo/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Istri ke-6 Presiden Soekarno Ratna Sari Dewi Sukarno di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Kehadiran istri keenam Presiden Pertama RI Sukarno, Ratna Sari Dewi, dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8), menarik perhatian publik.

Perempuan yang kerap disapa Dewi Sukarno itu kembali melihat kawasan Istana yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya bersama Sukarno. Momen tersebut membuat ia kembali mengingat wujud Istana pada masa itu.

Ia mengaku terkejut melihat sejumlah perubahan pada kompleks Istana dibandingkan dengan yang masih diingatnya.

“Saya kaget sekali istananya sudah ganti banyak ya, ada gedung yang dulu tidak ada. Dulu antara Istana Negara dan Istana Merdeka ada halaman yang besar, sekarang ada gedung,” kata saat hadir di Peringatan HUT ke-81 RI.

Bagaimana perjalanan kisah cinta Ratna Dewi dan Sukarno serta perannya di sisi sang presiden?

Dilansir dari Kemendikbud.go.id, Ratna Sari Dewi lahir di Tokyo pada tanggal 6 Februari 1940, sebagai putri ketiga dari seorang pekerja konstruksi migran di Tokyo. Ratna memiliki nama asli Naoko Nemoto.

Ia lahir dari keluarga sederhana, sehingga mengharuskan Naoko untuk bekerja sebagai pramuniaga di sebuah perusahaan asuransi jiwa di Chiyoda, hingga ia lulus dari sekolah menengahnya pada tahun 1955.

Masa kecil Dewi Sukarno diwarnai pengalaman pahit tentang Tokyo yang dilanda Perang Dunia Kedua. Pada saat usianya menginjak 2 tahun, ia terjebak dalam situasi mencekam ketika Perang Dunia II berkecamuk. Bahkan, dengan mata kepalanya sendiri ia merekam aksi pesawat bomber B-29 yang memuntahkan bom-bom berdaya ledak besar di seantero Tokyo (Zara, 2007: 2).

Aktris Inggris Sydne Rome, aktris Prancis Claudine Auger dan istri Presiden ke-1 RI Soekarno Ratna Sari Dewi (tengah) saat peragaan busana Jun Ashida di Paris, Prancis, pada 23 Maret 1977. Foto: AFP

Dewi mengawali pendidikan dasarnya di Togai School, Tokyo, pada sekitar tahun 1946. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya tersebut, pada 1952-1955 ia melanjutkan pendidikan menengahnya di Koryo School dan Mita School, yang keduanya berada di Tokyo (Mat Enh dan Ghani, 2012: 119).

Dewi remaja pada saat itu memiliki ketertarikan terhadap dunia seni dan sastra. Ketertarikannya inilah yang membuat ia mempelajari tarian klasik Jepang, bernyanyi, hingga bermain drama di Sishere Hayakawa Art Production. Hal tersebut menjadi titik awal Dewi terjun ke dunia entertainment.

Untuk mendukung kemampuannya tersebut, Dewi Sukarno memutuskan mempelajari bahasa Inggris. Keputusan itu menjadi salah satu jalan menuju pertemuannya dengan Presiden Sukarno.

Awal Pertemuan Dewi-Sukarno

Mengenai pertemuan antara Sukarno dengan Dewi, terdapat dua versi berbeda yang dituliskan dalam beberapa referensi. Versi pertama, mereka bertemu di Copacabana Super Club, dan versi kedua—dan yang paling banyak dikisahkan—mereka bertemu di Hotel Imperial.

Salah satu referensi yang mengisahkan mengenai pertemuan Sukarno dan Dewi pada versi pertama adalah buku dari Azlizan dan Abdul Ghani (2012) yang berjudul Wanita dan Masyarakat. Diceritakan bahwa Dewi remaja bekerja pada sebuah club mewah yang bernama Copacabana Super Club, yang mana pengunjung dari club tersebut hanya kalangan pejabat dan pengusaha besar saja.

Tanggal 16 Juni 1959 menjadi tanggal pertemuan Sukarno dengan Dewi, yang pada saat tersebut sedang mengunjungi tempat Dewi bekerja, Akasaka’s Copacabana (Mat Enh dan Ghani, 2012: 122).

Presiden ke-1 RI Soekarno didampingi istri Ratna Sari Dewi saat tiba di Bandara Orly, Prancis pada 1 Juli 1965. Foto: AFP

Versi kedua, dan yang paling banyak dikisahkan, menyebutkan bahwa pertemuan antara Dewi dan Sukarno terjadi di Hotel Imperial, pada 16 Juni 1959. Karena paras cantik dan kepiawaian dalam dunia seni, khususnya melukis, sastra, dan drama, membuat Sukarno jatuh hati pada Dewi.

Setelah pertemuan pertama tersebut, Sukarno kemudian mengirimkan undangan kepada Dewi yang pada saat tersebut merupakan remaja berusia 19 tahun, untuk datang ke Indonesia. Dia pun tiba di Jakarta pada 14 September 1959.

Setelah melalui berbagai proses, akhirnya pada 3 Maret 1962 Dewi resmi menjadi istri dari Presiden Sukarno yang keenam.

Namun, hubungan Dewi dengan Sukarno tidak hanya menjadi kisah cinta. Selama menjadi istri Presiden Sukarno, Dewi juga memainkan beberapa peran penting, dari mulai bidang seni, politik, hingga ekonomi.

Disebutkan bahwa Bung Karno sangat mencintai Dewi. Saking cintanya Sukarno terhadapnya, Bung Karno berpesan:

“Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai istri yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal, kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku…” (Erka, 1978: 2).

Di balik parasnya yang cantik, Dewi juga dikenal piawai dalam bernegosiasi. Diketahui bahwa Presiden Sukarno mempunyai hobi melukis, sedangkan Dewi Sukarno merupakan seseorang yang sangat apresiatif terhadap karya seni rupa.

Hal ini kemudian membawa keduanya pada pencapaian penting Sukarno dalam bidang yang disukainya, yakni seni lukis. Seperti yang disampaikan oleh Dermawan (2004) “…pada tahun 1964, Ratna Sari Dewi berhasil melakukan lobi-lobi di Jepang, sehingga sebagian koleksi Bung Karno yang dibukukan berhasil dicetak di Negeri Matahari itu…..” (Dermawan, 2004: 50).

Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa daya tarik dan kemampuan negosiasi Dewi Sukarno berhasil mewujudkan salah satu keinginan Sukarno untuk dapat mempublikasikan hasil-hasil karya seninya.

Peran Dewi di Sisi Sukarno

Dari sekian istri Presiden Sukarno, Dewi menjadi satu-satunya yang memiliki penampilan modis, atau lebih modern dengan mengikuti gaya Barat. Penampilannya inilah yang kemudian membuat Dewi Sukarno sering mendampingi Presiden Sukarno dalam berbagai pertemuan dengan pemimpin atau perwakilan dari negara lain, seperti misalnya kunjungan Duta Besar Italia dan Belanda (Lee, 1976: 121).

Selain itu, karena daya tarik dan kepercayaan Sukarno kepada Dewi, membuat Dewi seringkali ‘diperebutkan’ oleh beberapa perusahaan, agar dapat memenangkan hati sang presiden.

Pada tahun 1964, Dewi terpilih untuk menjadi Ketua Kehormatan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang. Kemudian, untuk menguatkan pengaruh Jepang di Indonesia, Dewi juga mendirikan Komunitas Nadeshiko, yang beranggotakan wanita-wanita Jepang yang menikah dengan orang Indonesia (Nishihara, 1994: 156).

Desainer Prancis Pierre Cardin menyambut Bernadette Chirac dan istri Presiden ke-1 RI Soekarno Ratna Sari Dewi di galeri barunya "Evolution" di Paris, Prancis, pada 18 Oktober 1977. Foto: AFP

Akan tetapi, ketika Dewi berusaha memperkuat posisinya sebagai first lady, di saat yang bersamaan kedudukan Sukarno menjadi terancam setelah meletusnya peristiwa G 30/S.

Pada periode genting tersebut, Dewi bertemu dengan Soeharto untuk ‘bernegosiasi’ mengenai keadaan suaminya. Pada pertemuan tersebut, Dewi menyadari bahwa Sukarno telah kalah dalam ‘pertandingan’.

Pada 1973, tiga tahun setelah Sukarno meninggal, Dewi Sukarno menerbitkan sembilan surat yang ditujukan kepada Presiden Soeharto. Surat-surat tersebut sebenarnya sudah pernah dimuat pada “Vrij Nederland” pada tanggal 16 Desember 1970, ketika kondisi Sukarno sedang kritis.

Surat-surat tersebut akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan tujuan agar dapat diterbitkan. Akan tetapi, sayangnya pemerintah Orde Baru tidak pernah mengizinkan penerbitan surat-surat tersebut. Akhirnya, proyek penerbitan surat-surat Dewi Sukarno baru terlaksana pada 1998 dengan judul Mencekik dengan Kain Sutera, Willem Oltmans en Dewi Sukarno (1998).

Sepeninggalan Presiden Sukarno, Ratna Sari Dewi pindah ke berbagai negara di Eropa, sebelum akhirnya kembali ke Jepang pada 2008 dan menetap di sana hingga saat ini.

Di Jepang, dia aktif sebagai seorang bussines woman, yakni dalam bidang perhiasan dan kosmetik. Meskipun demikian, Dewi tidak lantas meninggalkan jiwa entertainment-nya. Saat ini ia kerap kali muncul di layar TV Jepang, salah satunya menjadi juri dalam berbagai kontes kecantikan.