Prabowo Tiba di Pekanbaru, Bakal Cek Penanganan Karhutla di Sumatera

Presiden Prabowo Subianto tiba di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, untuk meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatra, Senin (24/8).
Pantauan di lokasi, pesawat yang membawa Prabowo tiba sekitar pukul 11.00WIB. Terlihat ia mengenakan baju safari krem dengan topi biru disambut oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kemudian, ia menuju mobil Maung Komando untuk melakukan peninjauan.
Kedatangan Prabowo turut disambut dengan asap imbas Karhutla di sekitar lokasi yang menyebabkan suasana di sekitar tertutupi asap ringan di Lanud Roesmin Nurjadin.
Prabowo tiba didampingi oleh Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya, dan Kepala BIN Herindra.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, Presiden Prabowo Subianto bertolak menuju Pekanbaru, Riau untuk kembali meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan, Senin (24/8).
Teddy mengatakan, Prabowo ingin memastikan langsung kondisi terkini di lapangan setelah sebelumnya memimpin penanganan karhutla di Kalimantan.
“Bapak Presiden ingin memastikan penanganan berjalan sampai tuntas, tidak hanya menerima laporan, tetapi melihat dan mendengar langsung sendiri kondisi di lapangan, memastikan titik api benar-benar padam, dan seluruh keputusan yang telah diambil dilaksanakan dengan cepat, terpadu, dan tepat,” ujar Teddy dalam keterangannya, Senin (24/8).
Menurut Teddy, perhatian Prabowo tidak berhenti pada upaya pemadaman. Kepala Negara juga menekankan pentingnya koordinasi antara pejabat lingkungan Pemerintah Daerah, khususnya Gubernur, Pangdam dan Kapolda harus padu dalam mencegah kebakaran berulang. Bangun sistem pencegahan yang lebih kuat dan permanen sehingga pemerintah tidak terus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.
“Arahan Bapak Presiden sudah jelas, bahwa kita tidak boleh setiap tahun hanya sibuk memadamkan api. Sistem pencegahannya harus diperkuat. Mulai dari sumur bor dan embung atau sumber air, pengawasan permanen, deteksi dini hotspot, hingga kesiapan desa-desa rawan Karhutla. Pencegahan harus dilakukan jauh sebelum api muncul,” kata Teddy.
