Konten dari Pengguna

Bonus Demografi Indonesia Terancam? Ini Efek Domino dari Perang Rusia - Ukraina

Paulina Berliana Ananto

Paulina Berliana Ananto

Mahasiswa S1 Manajemen FEB UGM

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Paulina Berliana Ananto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Demografi | sumber : freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Demografi | sumber : freepik.com

Tahun 2045 menjadi tonggak penting bagi Indonesia. Di tahun tersebut, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai puncaknya dan melampaui jumlah penduduk usia tidak produktif. Kondisi ini dikenal sebagai bonus demografi, yaitu peluang besar bagi suatu negara untuk melesat secara ekonomi jika mampu mengelola penduduk usia kerja secara tepat. Namun, peluang ini bukan tanpa tantangan. Di tengah ketidakpastian global, salah satu ancaman serius yang membayangi adalah efek domino dari perang Rusia dan Ukraina yang pecah pada tahun 2022.

Konflik bersenjata di Eropa Timur ini bukan sekadar masalah regional. Perang tersebut memicu krisis energi, gangguan perdagangan global, dan lonjakan harga pangan yang berdampak luas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Lewat pendekatan Astagatra, khususnya Trigatra yang mencakup dimensi geografi, demografi, dan sumber daya alam, artikel ini akan menjelaskan bagaimana dampak konflik tersebut dapat menghambat kesiapan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi.

Geografi: Letak Strategis Tidak Selalu Menguntungkan

Secara geografis, Indonesia terletak di jalur utama perdagangan internasional dan kawasan Indo-Pasifik. Posisi ini memberikan keuntungan dalam lalu lintas ekonomi global. Namun, dalam situasi perang yang mengganggu rantai pasok global, letak strategis ini juga membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak.

Perang Rusia dan Ukraina telah menghambat distribusi energi dan pangan dunia. Rusia merupakan produsen utama gas alam, minyak bumi, batu bara, dan pupuk. Ukraina dikenal sebagai lumbung gandum dunia. Ketika dua negara ini terlibat konflik, maka pasokan global terganggu, dan harga logistik meningkat tajam. Menurut International Energy Agency dan Economist Intelligence Unit, biaya logistik di kawasan Asia mengalami kenaikan tajam sejak awal perang pada 2022, seiring terganggunya pelayaran global.

Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia terkena imbas langsung. Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price naik dari 102,51 dolar Amerika per barel pada April 2022 menjadi 109,61 dolar Amerika per barel pada Mei 2022. Kenaikan ini berdampak pada biaya transportasi dan produksi dalam negeri, yang pada akhirnya mempengaruhi harga barang dan jasa di masyarakat. Ketika harga bahan bakar naik, maka ongkos distribusi pangan pun ikut melonjak, sehingga memperbesar tekanan ekonomi bagi masyarakat.

Demografi: Peluang Produktivitas yang Terancam Inflasi

Bonus demografi seharusnya menjadi momen bagi negara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun dalam kenyataannya, populasi usia produktif yang besar justru bisa menjadi beban jika tidak tersedia cukup lapangan kerja dan stabilitas ekonomi.

Perang Rusia dan Ukraina menyebabkan lonjakan inflasi global. Dana Moneter Internasional mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi dunia menurun sebesar satu persen pada tahun 2022 akibat konflik tersebut. Bahkan Produk Domestik Bruto Ukraina diprediksi anjlok hingga tiga puluh lima persen, dan output Rusia turun delapan setengah persen pada tahun yang sama. Kondisi ini berpengaruh terhadap negara berkembang seperti Indonesia karena pasar ekspor dan investasi terganggu.

Kenaikan harga energi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa biaya energi dalam proses pertanian dapat mencapai empat puluh hingga lima puluh persen dari total biaya panen. Jika harga bahan bakar naik, maka harga pupuk dan distribusi hasil pertanian juga ikut naik. Akibatnya, masyarakat berpendapatan rendah yang sebagian besar masuk kategori usia produktif menjadi semakin sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Masalah ini bisa memicu ketimpangan ekonomi yang lebih lebar. Generasi muda yang tidak memiliki akses pendidikan dan pekerjaan berisiko mengalami keterpurukan ekonomi dan sosial. Jika ini dibiarkan, maka bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa bisa berubah menjadi sumber krisis.

Sumber Daya Alam: Kaya Tapi Tidak Mandiri

Indonesia memiliki cadangan sumber daya alam yang melimpah, baik di daratan maupun di laut. Namun, pengelolaan yang belum optimal dan tingginya ketergantungan terhadap pasar luar negeri membuat kekayaan ini tidak otomatis menjamin ketahanan nasional.

Rusia, sebagai negara penghasil energi dan mineral utama dunia, memainkan peran penting dalam stabilitas pasar global. Ketika negara tersebut terkena sanksi dan memutus sebagian jalur ekspor, harga berbagai komoditas melonjak. Indonesia memang mendapat keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga batu bara dan minyak kelapa sawit mentah, namun pada saat yang sama, ketergantungan pada bahan bakar minyak impor tetap menjadi masalah besar.

Di sektor pangan, ketergantungan Indonesia pada gandum impor dari Ukraina sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa hampir dua puluh sembilan persen impor gandum Indonesia berasal dari Ukraina, disusul oleh Argentina dua puluh lima persen dan Kanada dua puluh tiga persen. Ketika pasokan terganggu akibat perang, Indonesia terpaksa mencari alternatif impor lain dengan harga lebih mahal. Kenaikan harga gandum mempengaruhi harga bahan pokok seperti mi instan dan roti yang menjadi konsumsi harian masyarakat.

Dampak ini sangat dirasakan oleh kelas menengah bawah yang mendominasi struktur penduduk produktif. Jika harga pangan terus meningkat, maka daya beli masyarakat akan terus melemah. Ketahanan pangan nasional pun terancam, dan ini dapat memicu instabilitas sosial dalam jangka panjang.

Langkah Antisipatif Menuju 2045

Jika Indonesia ingin memanfaatkan bonus demografi secara maksimal, maka diperlukan strategi nasional yang berorientasi pada ketahanan dan kemandirian. Pertama, diversifikasi energi harus menjadi prioritas. Indonesia perlu mempercepat transisi ke energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi agar tidak terus bergantung pada bahan bakar impor.

Kedua, sektor pertanian dan pangan lokal harus diperkuat. Pemerintah perlu mendorong produksi bahan pangan pengganti gandum seperti singkong, jagung, dan sagu agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada produk impor. Ketiga, kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan dengan memberikan pelatihan kerja, pendidikan vokasi, dan insentif bagi industri padat karya yang menyerap tenaga kerja usia produktif.

Strategi ini sejalan dengan pendekatan Astagatra yang menekankan penguatan dari dalam, baik melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, pengelolaan demografi yang bijak, maupun pemanfaatan keunggulan geografis secara strategis.

Kesimpulan

Bonus demografi adalah peluang sekali seumur hidup bagi Indonesia. Namun, peluang ini bisa berubah menjadi beban jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. Perang Rusia dan Ukraina membuktikan bahwa krisis di negara lain bisa berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan sosial di dalam negeri. Oleh karena itu, saatnya Indonesia berbenah dan bersiap, karena masa depan bukan ditentukan oleh jumlah penduduk produktif semata, tetapi oleh bagaimana bangsa ini mengelola kekuatan internalnya di tengah tantangan global.