Konten dari Pengguna

Musik Indie yang Katanya Kalcer, dan Kenapa Aku Ikut Kepincut?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Putri Apsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jadi gini. Beberapa minggu belakangan FYP-ku lumayan menarik. Dulu isinya prank receh sama dance challenge, sekarang tiba-tiba dibanjiri potongan lagu dengan gitar yang distorsinya berat, terus ada video orang duduk sendirian di kafe, headset kabel nempel di kuping, dengerin band yang namanya aja baru aku denger minggu ini. Sempet mikir, ini cuma algoritma iseng doang atau gimana. Eh ternyata bukan cuma aku, beberapa teman aku pun merasakan hal yang sama. Ini udah punya nama sendiri di kalangan anak muda, kata orang orang sih "kalcer".

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kamu pasti udah tahu asalnya dari "culture" yang diplesetin. Jujur, awalnya aku agak males peduli. Kirain cuma tren sesaat, kayak dulu rame-rame orang motret minuman boba dari atas terus difoto lagi buat feed. Tapi makin diperhatiin, kok kayaknya bukan cuma soal estetika. Ada sesuatu yang lebih personal di baliknya.

Kriteria Anak Kalcer Menurut Gen Z

Streetwear, thrift, nongkrong di coffee shop yang lightingnya enak buat difoto, itu kesan pertama yang biasanya nempel di kepala orang kalau denger kata kalcer. Tapi menurutku musik itu yang paling nunjukin identitasnya. Anak-anak "kalcer" itu enggak puas cuma dengerin Top 50 Spotify. Mereka nyari sendiri, band indie yang lagi naik daun atau album yang jarang dibahas tapi sebenernya bagus. The Adams, Alkateri, FSTVLST, The Jeblogs, Dongker, nama-nama kayak gitu jadi semacam kode buat masuk lingkaran ini.

Yang bikin aku agak kaget, ternyata band-band ini enggak semuanya baru. The Adams misalnya udah ada dari 2002, lahir dari Institut Kesenian Jakarta, sempat vakum, baru balik lagi 2014. FSTVLST sama Alkateri juga udah lama eksis di skena musik alternatif Bandung dan Jogja. Jadi yang sebenarnya baru itu bukan musiknya, tapi caranya kita nemuin ulang musik itu lewat playlist bikinan komunitas, lewat TikTok, lewat obrolan mulut ke mulut sama teman.

Terus aku mikir, kenapa sih kita suka banget sama yang "belum semua orang tahu"? Kayaknya ada kepuasan tersendiri kalau dengerin sesuatu yang belum mainstream. Bukan buat pamer, tapi lebih ke rasa "ini gue banget" di tengah dunia yang isinya seragam. Capek juga kali ya jadi konsumen yang cuma nurut sama apa yang direkomendasiin buat semua orang.

Ada juga sisi nostalgia yang aneh. Kita kan sebenarnya enggak pernah ngalamin era 90-an sampai awal 2000-an secara langsung. Kita cuma kenal lewat medsos, film lama, atau warisan playlist orang tua. Tapi justru karena enggak pernah beneran ngalamin, nuansanya malah terasa segar, bukan basi.

Soal algoritma, baru sadar juga sekarang TikTok sama playlist kolaboratif Spotify udah gantiin peran radio atau MTV zaman dulu. Lagu indie yang rilis bertahun-tahun lalu bisa tiba-tiba viral lagi gara-gara nyantol di satu video pendek. Lucu juga sih, band yang dulu manggung di venue kecil sekarang lagunya muncul di earphone anak SMA yang bahkan belum lahir waktu lagu itu rilis.

Mengapa Musik Indie Kembali Diminati?

Satu hal yang aku suka dari fenomena ini, anak-anak kalcer enggak cuma sibuk ngonsumsi budaya global, tapi justru bangga mamerin musisi lokal. Bukan cuma dari Jakarta atau Bandung, tapi kota-kota kecil yang selama ini jarang kedengaran. The Jeblogs contohnya, bukti kalau musik alternatif Indonesia sekarang enggak harus lahir dari kota besar. Cukup ada internet sama semangat komunitas yang mau nerusin jejak nama-nama kayak The Kick, The Skit, The Jansen, sampai Dongker.

Buat aku ini udah bukan cuma soal musik jadi hiburan, tapi lebih ke gaya hidup. Dengerin band indie biasanya barengan sama aktivitas lain, nonton konser kecil di venue sempit, ikut acara komunitas, atau sekadar jadi bahan ngobrol yang nunjukin selera seseorang ke circle-nya.

Musik indie ini cuma tren atau sesuatu yang lebih dalam? Kalau ditanya, aku rasa kalcer nunjukin generasi kita yang udah enggak mau jadi penonton pasif budaya pop. Kita mau ikut milih, ikut ngulik, bahkan ikut ngedaur ulang nilai-nilai lama jadi sesuatu yang terasa punya kita sendiri.

Jadi lain kali kalau lihat aku headset-an di kafe sambil dengerin band yang namanya asing buat kamu, jangan buru-buru bilang aku sok beda. Anggap aja aku lagi ikut arus yang emang selalu berkembang ini.