Konten dari Pengguna

Di Ujung Timur Asa Bertumbuh: Menyusuri Harapan Anak-anak Sambi Rampas

Siswa MIS Arabi (Doc. PENA/Fifin Anggela Prista)
zoom-in-whitePerbesar
Siswa MIS Arabi (Doc. PENA/Fifin Anggela Prista)

Pagi di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, selalu dimulai dengan langkah- langkah kecil yang penuh tekad. Anak-anak berjalan menyusuri jalan tanah berdebu, menenteng tas sederhana, menuju sekolah yang bagi sebagian orang mungkin tak layak disebut ruang belajar. Namun bagi mereka, di sanalah mimpi-mimpi dirawat, meski dalam keterbatasan.

Di Dusun Biting, bangunan MIS Arabi berdiri apa adanya. Dindingnya polos, ruangannya sederhana, dan fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar nyaris tak tersedia. Tak ada perpustakaan, tak ada alat peraga pembelajaran, bahkan ruang UKS pun belum dimiliki. Buku pelajaran umum menjadi barang langka, seolah pengetahuan harus diperjuangkan dua kali lebih keras.

Ruangan Kelas yang kurang terawat (Doc. PENA/Fifin Anggela Prista)

Kondisi yang tak jauh berbeda terlihat di SMPN 7 Sambi Rampas. Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan, memaksa sekolah mengambil keputusan yang tak biasa. Ruang UKS yang seharusnya menjadi tempat siswa beristirahat saat sakit, kini dialihfungsikan menjadi asrama bagi siswa yang rumahnya jauh dari pusat pendidikan. Di ruangan itu, anak-anak belajar tentang matematika di siang hari dan tentang ketahanan hidup di malam hari.

Realitas pendidikan di wilayah ini menjadi temuan utama tim KKN Mandiri 3T Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) Generasi 11 tahun 2026 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Program ini hadir sebagai bagian dari upaya mahasiswa menjawab ketimpangan akses pendidikan dan fasilitas dasar di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Namun, persoalan di Sambi Rampas tak hanya soal bangunan sekolah. Tantangan sosial turut membayangi. Tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan sarjana lokal menjadi ironi tersendiri, pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjamin masa depan yang pasti. Literasi digital pun masih terbatas, membuat akses terhadap informasi dan peluang semakin sempit untuk di dapat.

Tim Observasi PENA 11 (Doc. PENA/Fifin Anggela Prista)

Kehadiran tim PENA Generasi 11 disambut hangat oleh masyarakat. Ada harapan yang lama terpendam, seolah menemukan ruang untuk kembali disuarakan.

“Kami ingin anak-anak di sini punya mimpi yang sama tingginya dengan mereka yang di kota,” ungkap salah satu warga dalam sesi pendekatan awal.

Kalimat itu melampaui sekadar permintaan bantuan. Ia adalah gambaran tentang ketimpangan yang terasa nyata, tentang jarak geografis yang tak seharusnya berubah menjadi jarak kesempatan yang begitu anarkis.

Sambi Rampas mungkin jauh dari gemerlap kota, tetapi semangat anak-anaknya tak pernah redup. Di ruang kelas sederhana tanpa rak buku, tangan-tangan kecil tetap terangkat saat guru bertanya. Cita-cita tetap disebutkan dengan lantang, guru, dokter, insinyur, meski mereka belum pernah melihat laboratorium atau perpustakaan besar.

Suasana Desa Nanga Mbaling (Dokumen PENA/Fifin Anggela Prista)

Bagi kami yang datang membawa nama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), langkah di Sambi Rampas bukan sekadar agenda pengabdian, tetapi juga amanah reputasi. Setiap interaksi dengan siswa, guru, dan masyarakat adalah representasi nilai-nilai kampus dan Muhammadiyah di mata mereka. Kami belajar bahwa reputasi bukan hanya tentang prestasi akademik atau akreditasi, melainkan tentang seberapa tulus universitas hadir di tengah denyut kehidupan masyarakat yang membutuhkan.

Sebagai seorang Public Relations, saya menyadari bahwa citra institusi tidak dibangun melalui publikasi semata, tetapi melalui kebermanfaatan nyata. Ketika mahasiswa duduk di lantai kelas sederhana untuk mengajar, ketika mereka mendengarkan keluh kesah warga tentang pendidikan dan masa depan anak-anaknya, di situlah reputasi dibentuk, pelan, organik, dan penuh makna. Nama, UMY menjadi bukan hanya identitas kampus, tetapi simbol harapan yang dibawa dari Yogyakarta ke ujung timur Indonesia.

Di luar daerah, UMY tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi sebagai mitra masyarakat. Setiap dokumentasi kegiatan, setiap cerita yang dibagikan, bukan bertujuan untuk menunjukkan bahwa kami datang sebagai penyelamat, melainkan sebagai sahabat belajar. Reputasi yang ingin kami bangun adalah reputasi empati, bahwa kaum terpelajar hadir untuk mendengar, membersamai, dan bertumbuh bersama.

Maka ketika kami kembali ke Yogyakarta, yang kami bawa bukan hanya laporan kegiatan, tetapi tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan realitas Sambi Rampas. Cerita dari ujung timur ini bukan sekadar laporan observasi. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan yang layak adalah hak setiap anak, tanpa memandang letak geografisnya.

Kini, harapan itu mengetuk lebih banyak pintu. Dukungan dapat hadir dalam bentuk donasi buku, fasilitas sekolah, maupun partisipasi sebagai relawan edukasi. Sebab di Sambi Rampas, setiap buku yang dikirim, setiap perhatian yang diberikan, bukan hanya mengisi ruang kosong, tetapi menyalakan masa depan.