Konten dari Pengguna

Setelah M7.7, Ketakutan Belum Sembuh

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fifin Anggela Prista tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah M7.7, Ketakutan Belum Sembuh
zoom-in-whitePerbesar

Manggarai Timur, NTT — Pagi di Flores biasanya datang perlahan. Ia dimulai dari suara ayam yang berkokok, asap dapur yang mengepul, langkah kaki yang mulai terdengar, dan percakapan kecil dari rumah-rumah warga. Di Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, pagi adalah awal dari kehidupan yang sederhana, tetapi penuh makna. Namun, ada satu pagi yang mengubah semuanya.

Tanah tiba-tiba berguncang. Rumah bergetar. Tubuh-tubuh yang masih terlelap berhamburan mencari ruang terbuka. Tidak ada aba-aba, tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Yang tersisa hanya satu naluri, menyelamatkan diri.

Gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Flores dan mengubah ketenangan menjadi kepanikan. Mahasiswa Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) 11 yang tengah menjalankan pengabdian di Desa Nanga Mbaling pun menghadapi keadaan yang sama. Saat itu, tidak ada yang memikirkan agenda. Tidak ada yang memikirkan program kerja. Semua hanya ingin memastikan satu hal, "siapa yang selamat?"

Ketika guncangan pertama mereda, kenyataan mulai terasa. Ada warga yang terluka. Ada yang harus dievakuasi. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Dan ada rasa aman yang ikut runtuh bersama guncangan itu. Bencana dapat datang dalam hitungan menit, tetapi meninggalkan ketakutan yang jauh lebih panjang. Rumah yang dahulu menjadi tempat berlindung mulai terasa asing. Suara keras membuat tubuh kembali siaga. Getaran kecil membuat mata spontan mencari pintu keluar.

Tim PENA 11 melakukan pengecekan pasca gempa M7.7 di sore harinya (Doc. Pribadi/Fifin Anggela Prista)

Dan hingga hari ini, sebagian warga masih tidur di tenda-tenda darurat yang mereka dirikan sendiri. Bukan karena mereka tidak ingin pulang, tetapi karena rasa takut belum sepenuhnya mengizinkan mereka merasa aman. Gempa susulan yang masih terjadi membuat ketenangan terasa sementara. Malam tidak lagi sesederhana waktu untuk beristirahat.

Di balik terpal dan kain yang menjadi pelindung, sebagian warga tidur sambil menyimpan kewaspadaan. Tenda-tenda itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat berlindung. Ia menjadi ruang antara ingin pulang dan takut untuk kembali. Di sanalah sebagian warga tidur, menunggu, dan mencoba percaya bahwa keadaan akan membaik.

Sebab bagi mereka yang pernah merasakan bumi berguncang, diamnya tanah belum tentu berarti hilangnya rasa takut. Namun, ketika ketakutan membuat manusia berhenti sejenak, kepedulian justru membuat mereka bergerak. Warga saling mencari dan membantu.

Bantuan dari UMY dan PENA diserahkan ke posko utama di desa Nampar Sepang (Doc. Pribadi/PENA)

Keluarga besar Proyek Ekspedisi Nusantara dan masyarakat berkoordinasi. Pertolongan serta evakuasi dilakukan. Posko-posko darurat disiapkan untuk membantu masyarakat di Pota, Nanga Mbaling, Nampar Sepang, Nanga Mbaur, dan Nanga Baras.

PENA 11 yang datang membawa agenda pengabdian pun harus mengubah langkah. Rencana kerja tidak lagi menjadi yang utama. Tangan yang semula digunakan untuk menulis kini beralih fungsi mengangkat barang. Kaki yang semula berjalan menuju lokasi kegiatan, kini bergerak mencari mereka yang membutuhkan. Suara yang biasanya digunakan untuk berdiskusi, berubah menjadi pertanyaan sederhana,

“Kamu aman?”

Di situlah pengabdian menemukan maknanya yang lain. Bukan sekadar tentang menjalankan program, tetapi tentang hadir ketika kehadiran dibutuhkan. Namun, dari semua yang terjadi, ada satu pelajaran yang mungkin akan paling lama tinggal dalam ingatan PENA 11. Di tengah keadaan darurat, kami tidak hanya menemukan masyarakat yang membantu. Kami menemukan mama dan papa. Mereka mungkin bukan orang tua kandung kami. Tetapi ketika bumi berguncang dan kepanikan datang, mereka memperlakukan kami seperti anak sendiri.

Bahkan, ada mama dan papa yang memilih memastikan keselamatan kami, para mahasiswa KKN, terlebih dahulu sebelum menyelamatkan anak mereka sendiri. Bagi kami, itu bukan sekadar pertolongan. Itu adalah rasa yang tidak pernah kami rencanakan, tetapi justru kami temukan. Di tempat yang jauh dari rumah, kami belajar bahwa keluarga tidak selalu lahir dari darah. Kadang, keluarga hadir dari tangan yang menarik kita keluar dari bahaya, dari suara yang memastikan kita baik-baik saja, dan dari seseorang yang dalam kepanikan tetap sempat berkata,

“Kalian anak kami. Kalian harus selamat.”

Kalimat sederhana, tetapi akan sulit dilupakan. Sebab besarnya gempa dapat diukur dengan angka. Kerusakan dapat dihitung. Bantuan dapat dicatat. Tetapi kasih sayang manusia tidak selalu memiliki ukuran. Bagi PENA 11, peristiwa ini bukan sekadar bagian dari perjalanan KKN. Ia adalah pengalaman yang mungkin akan tinggal sepanjang masa.

Tim PENA 11 membantu balita yang terluka akibat gempa M7.7 (Doc. Pribadi/PENA)

Kami datang ke Flores untuk mengabdi, tetapi justru pulang membawa pelajaran tentang keluarga, keberanian, kepedulian, dan kemanusiaan. Kami belajar bahwa ketika bumi berguncang, manusia tidak selalu bertahan karena dirinya sendiri. Kadang, kita bertahan karena ada tangan yang menggenggam. Ada bahu yang melindungi. Ada mama dan papa yang menganggap kita sebagai anak. Dan ada masyarakat yang mengajarkan bahwa di tengah bencana, kita tidak boleh berjalan sendiri.

Maka dari itu, saya menulis kisah ini.

Bukan semata untuk mencatat apa yang pernah terjadi, tetapi untuk menjaga rasa yang pernah tinggal, rasa takut yang kami lewati, hangat yang kami terima, dan haru yang diam-diam tumbuh di tengah keadaan yang tidak pernah kami duga.

Saya menulis ini karena saya tidak ingin waktu mengikis ingatan, atau hari-hari yang kembali tenang membuat semuanya perlahan menjadi samar. Saya ingin menyimpan bagaimana rasanya berada di sana, ketika bumi berguncang, ketika kami berlari mencari perlindungan, ketika tangan-tangan saling meraih, dan ketika orang-orang yang semula asing justru hadir seperti keluarga yang paling dekat.

Penyaluran bantuan kolaborasi Keluarga PENA, Masjid Jogokariyan dan Keluarga Alumni UMY (Doc. Pribadi/PENA)

Kelak, ketika keadaan telah pulih dan kehidupan kembali seperti sediakala, saya ingin memiliki satu tempat untuk kembali. Tempat untuk membaca lagi. Tempat untuk bercerita lagi. Tempat untuk mengenang lagi.

Sebab mungkin nanti kami tidak lagi mengingat dengan tepat kapan semuanya bermula, seberapa lama guncangan berlangsung, atau seperti apa suara kepanikan pada pagi itu. Tetapi saya ingin rasa yang pernah kami miliki tetap tinggal dalam kata-kata. Agar ketika waktu telah jauh berjalan, kami masih dapat menoleh tanpa kehilangan apa yang pernah kami rasakan.

Karena ada kenangan yang tidak seharusnya dibiarkan larut bersama waktu. Ada peristiwa yang tidak cukup hanya disimpan dalam ingatan. Dan ada rasa yang, sekali pernah hadir, ingin saya jaga agar tetap bernyawa, untuk dibaca kembali, diceritakan kembali, dan dikenang kembali, sampai kapan pun nanti.

Adik-adik yang masih memasang senyuman setelah kehilangan (Doc. Pribadi/PENA)

Bumi mungkin pernah berguncang, Rumah mungkin pernah retak, Tenda mungkin pernah menjadi rumah sementara. Ketakutan mungkin belum sepenuhnya pulang. Tetapi dari semua itu, kami membawa satu hal yang jauh lebih panjang umurnya,

"Kenangan tentang keluarga yang dihidupkan di Timur Nusantara."

Dan semoga kisah ini menjadi saksi bahwa kami pernah ada di sana, pernah takut, pernah berlari, pernah saling menjaga, dan pernah belajar bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh, bahkan di tengah bencana.

Untuk Nanga Mbaling, untuk mama dan papa, dan untuk keluarga PENA, semoga waktu menyembuhkan luka, bumi kembali tenang, dan cerita ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang masa.