Mengapa Mindfulness Berubah Jadi Menyebalkan di Tengah Berita Buruk?
Tulisan dari Pekik Aulia Rochman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, linimasa media sosial riuh seperti biasa. Tapi bisingnya tidak cuma datang dari deretan kabar buruk yang saban hari mampir di layar HP kita—mulai dari isu PHK massal, kenaikan harga bahan pokok, sampai manuver politik yang bikin elus dada. Kali ini, kebisingan justru dipicu oleh sebuah video berdurasi beberapa menit yang diniatkan untuk menenangkan.
Seorang influencer ternama, dengan gestur tenang dan latar belakang estetik, membagikan kiat merawat kesehatan mental: batasi asupan informasi, kurasi berita yang dibaca, dan tahu kapan harus berhenti (stop at 15th content). Sekilas, tak ada yang salah. Niatnya baik, logikanya masuk akal. Tapi reaksinya? Kolom komentar langsung membara. Kritik bertumpuk, tuduhan tone deaf bersahutan.
Di titik itu, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik: Mengapa ajakan untuk hidup tenang dan menjaga kesehatan mental justru bisa bikin banyak orang marah?
Ketika Layar HP Menjadi Medan Pertempuran Batin
Kita semua tentu pernah berada di posisi itu: membuka media sosial dengan niat mencari hiburan sejenak, tapi malah pulang membawa jempol yang gemetar dan dada yang sesak. Di era serba digital ini, berita buruk tidak lagi mengetuk pintu rumah kita dalam bentuk koran pagi; ia mendobrak masuk ke saku celana kita 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Sistem saraf manusia sejatinya tidak dirancang untuk menampung penderitaan seluruh dunia dalam satu genggaman tangan. Ketika otak terus-menerus disuguhi narasi krisis, tubuh meresponsnya sebagai ancaman keselamatan. Kita menjadi gampang cemas, serba curiga, dan lelah secara emosional.
Dalam kondisi mental yang terengah-engah itulah, konsep mindfulness hadir bagaikan oasis di tengah padang pasir. Siapa yang tidak ingin tenang? Siapa yang tidak rindu dengan pikiran yang jernih?
Namun, masalahnya bermula ketika mindfulness yang dipahami dan disebarkan di ruang publik mulai kehilangan akarnya. Ia tidak lagi dipraktikkan sebagai proses penyelaman batin yang jujur, melainkan dikemas ulang menjadi produk gaya hidup yang serba instan, manis di permukaan, tapi terasa pahit bagi mereka yang sedang berjuang di garis depan realitas.
Kesenjangan Antara Layar HP dan Isi Piring
Letak letupan kemarahan netizen sebenarnya sangat sederhana: kesenjangan privilese dalam memilih cara bertahan hidup (coping mechanism).
Bagi kelompok masyarakat yang mapan secara ekonomi, berita buruk di media sosial sering kali hanya berstatus sebagai asupan konten atau gangguan suasana hati (mood breaker). Ketika membaca berita inflasi atau krisis, kecemasan yang muncul adalah kecemasan eksistensial atau rasa kasihan. Maka dari itu, tindakan mematikan HP (log off), melakukan digital detox, atau menarik napas dalam-dalam adalah solusi yang efektif dan masuk akal.
Namun, mari kita geser pandangan kita ke sudut lain. Bagi seorang buruh pabrik yang terancam pemutusan hubungan kerja, seorang pedagang kecil yang pusing memikirkan harga bahan baku, atau pekerja harian yang menggantungkan nasib dari kebijakan publik terbaru, berita buruk bukanlah sekadar "konten" di layar HP.
Berita buruk itu adalah ancaman nyata terhadap kelangsungan hidup dapur esok hari.
Mereka tidak bisa begitu saja mematikan notifikasi berita dan berpura-pura dunia sedang baik-baik saja. Mereka harus tetap memantau situasi, bukan karena hobi memelihara rasa cemas, melainkan karena mereka harus bersiap. Meminta seseorang yang sedang bertaruh nyawa menghadapi realitas untuk sekadar "meditasi dan matikan berita" terdengar sama seperti menyuruh orang yang sedang tenggelam untuk "tenang dan nikmati pemandangan air."
Di sinilah istilah McMindfulness menemukan tempatnya: ketika latihan kesadaran direduksi menjadi komoditas kelas atas yang abai terhadap rasa sakit masyarakat luas.
Jebakan Escapist Mindfulness: Ketenangan yang Melumpuhkan
Ketika mindfulness hanya dipahami sebagai upaya merawat kenyamanan diri sendiri (ego-centric), ia berisiko tergelincir menjadi apa yang bisa kita sebut sebagai escapist mindfulness—kesadaran yang melarikan diri.
Praktik ini bekerja seperti pembius emosional. Seseorang diajak untuk membangun gelembung ketenangan pribadi yang steril. Di dalam gelembung itu, segala hal yang tidak menyenangkan dianggap sebagai "distraksi" yang harus dieliminasi. Penderitaan orang lain, ketidakadilan sosial, atau krisis lingkungan dipandang sebagai energi negatif yang bisa merusak vibe positif diri.
Lama-kelamaan, ketenangan semacam ini tidak melahirkan manusia yang bijak, melainkan manusia yang apatis. Ini adalah bentuk toxic positivity yang paling halus: mementingkan kedamaian pikiran pribadi di atas penderitaan orang lain yang sedang membutuhkan empati.
Padahal, dalam sejarahnya, praktik mindfulness dari tradisi mana pun—baik spiritualitas Timur, filsafat Stoikisme, maupun psikologi modern—tidak pernah dirancang untuk melatih manusia menjadi pengecut yang bersembunyi dari kenyataan.
Menemukan Kembali Kedaulatan Batin yang Berakar
Lantas, apakah kita tidak boleh mencari ketenangan batin saat dunia sedang kacau? Tentu saja boleh. Bahkan, menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat wajib agar kita tidak ikut roboh.
Namun, ada beda yang sangat tegas antara melarikan diri dari realitas dengan membangun Kedaulatan Batin.
Kedaulatan Batin adalah kemampuan untuk berdiri di apa yang sering kita sebut sebagai Titik Nol—sebuah ruang keheningan di dalam dada yang membuat pikiran kita tetap jernih dan dada kita tetap lapang, meskipun dunia luar sedang dihantam badai.
Seseorang yang memiliki kedaulatan batin tidak menuntut dunia untuk selalu aman dan nyaman agar hatinya bisa tenang. Ia tidak memejamkan mata dari berita buruk, tetapi ia mengolah rasa cemasnya agar tidak berubah menjadi histeri yang sia-sia.
Orang yang melarikan diri berkata: "Dunia ini terlalu bising dan jahat, aku mau matikan HP dan fokus pada kebahagiaanku saja."
Orang yang batinnya berdaulat berkata: "Dunia ini memang sedang tidak baik-baik saja, dan hatiku sedih melihatnya. Tapi aku harus tetap tenang di dalam, agar aku punya energi dan kejernihan pikiran untuk berbuat sesuatu bagi orang-orang di sekitarku."
Ketenangan yang lahir dari Kedaulatan Batin tidak mematikan empati, melainkan mengubah empati pasif yang melelahkan menjadi empati aktif yang berdaya.
Menjadi Manusia yang 'Eling' di Tengah Badai
Pada akhirnya, riuh rendah polemik konten mindfulness di media sosial harus kita jadikan bahan cermin bersama. Ini bukan tentang membenci sosok influencer atau mengharamkan meditasi dan self-care. Ini tentang mendewasakan cara kita beragama, berfilsafat, dan merawat kesehatan jiwa.
Kita butuh mindfulness yang membumi—sebuah kesadaran yang menancap ke tanah realitas. Kita butuh ketenangan batin yang tidak membuat kita amnesia pada penderitaan sesama.
Di tengah era yang penuh keterbelahan dan kabar buruk yang tak putus-putus, tugas kita bukanlah menutup mata dan telinga dari dunia. Tugas kita adalah menjadi manusia yang eling: manusia yang batinnya cukup tangguh untuk menampung pahitnya kenyataan, tanpa harus kehilangan kasih sayang dan kepedulian untuk mengulurkan tangan.
Sebab ketenangan sejati bukanlah tempat bersembunyi untuk menyelamatkan diri sendiri, melainkan fondasi untuk tetap hadir dan berguna bagi sesama di tengah badai.

