Konten dari Pengguna

Mengapa Positif Beda Tipis Sama 'Toxic'? Saatnya Berani Jujur pada Batin

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pekik Aulia Rochman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Tommes Frites. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Tommes Frites. Sumber: pexels.com

Pernah enggak, sih, di saat kamu sedang berada di titik terendah—baru saja di-PHK, gagal mempertahankan bisnis, atau putus cinta—lalu ada teman yang datang dengan senyum lebar dan berkata:

“Udahlah, jangan sedih terus! Ambil hikmahnya aja. Lagian masih mending kamu, lho, daripada si A yang hidupnya jauh lebih merana. Yuk, senyum!”

Alih-alih merasa terhibur atau tenang, ucapan semacam itu sering kali justru membuat dada makin sesak. Tiba-tiba ada rasa bersalah yang terselip di dalam hati: “Kenapa ya aku kok enggak bisa bersyukur? Apa aku yang kurang positif? Apa aku yang lemah?”

Jika kamu pernah merasakan dorongan sesak seperti itu, kamu tidak sendirian. Kamu sedang berhadapan dengan apa yang dalam dunia psikologi modern dikenal sebagai toxic positivity. Sebuah fenomena di mana optimisme tidak lagi berfungsi sebagai obat penyembuh, melainkan berubah menjadi senjata yang membungkam emosi jujur manusia.

Lantas, di mana letak garis batasnya? Mengapa berpikiran positif yang tadinya diniatkan sebagai hal baik justru bisa berubah menjadi racun bagi kesehatan mental kita?

Ketika "Positif" Berubah Menjadi Racun

Pada dasarnya, menjadi pribadi yang optimis adalah hal yang sangat baik. Pikiran positif membantu kita melihat peluang di tengah krisis. Namun, positif berubah menjadi toxic ketika ia dipakai untuk menyangkal realitas (denial) dan mematikan spektrum emosi manusia yang sejatinya sangat wajar.

Di masyarakat kita, ada sebuah stempel tak tertulis bahwa emosi itu terbagi menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang: emosi positif (bahagia, semangat, tenang) adalah emosi "baik", sedangkan emosi negatif (sedih, marah, cemas, kecewa) adalah emosi "jahat" yang harus segera dimusnahkan.

Akibat pandangan dikotomi ini, kita terbiasa buru-buru menyapu emosi negatif ke bawah karpet. Kita memalsukan tawa, menelan bulat-bulat rasa sakit, dan memaksakan slogan-slogan motivasi. Padahal, memaksakan diri untuk selalu tersenyum saat batin sedang berdarah-darah itu ibarat menutup luka infeksi yang bernanah dengan plester warna-warni yang lucu. Di luar terlihat rapi dan estetik, tetapi di dalam, infeksinya makin menjalar dan membahayakan.

Secara neurobiologis, ketika kita menekan emosi negatif secara paksa (suppression), otak kita—terutama bagian amigdala yang memproses rasa takut dan ancaman—justru akan mendeteksi adanya bahaya yang belum selesai. Otak membaca bahwa kita sedang bertindak tidak jujur pada diri sendiri. Akibatnya, hormon stres seperti kortisol tetap terproduksi dalam jumlah tinggi.

Inilah yang menjelaskan mengapa orang yang selalu memaksakan diri terlihat "baik-baik saja" justru paling rentan mengalami burnout hebat, kecemasan sistemik, hingga psikosomatis (sakit fisik yang dipicu oleh beban pikiran).

Jebakan "Masih Mending" dan Guilt Trip Emosional

Salah satu bentuk toxic positivity yang paling sering kita jumpai dalam interaksi sehari-hari adalah kalimat banding-bandingan: "Masih mending kamu..."

Maksudnya mungkin baik, yaitu mengajak kita untuk melihat sisi terang dan bersyukur. Namun, secara tidak sadar, teknik perbandingan ini adalah bentuk pemvalidasian yang keliru. Ia menciptakan jebakan logika bahwa seseorang baru "berhak" merasa sedih jika penderitaannya sudah menjadi yang paling parah di seluruh dunia.

Apakah jika tanganmu patah, rasa sakitnya akan otomatis hilang begitu kamu melihat orang lain yang kedua kakinya patah? Tentu tidak. Rasa sakit di tanganmu tetap nyata dan tetap butuh diobati.

Begitu pula dengan rasa sedih dan rasa kecewa. Kesedihanmu atas kegagalan hari ini tidak menjadi "haram" hanya karena ada orang lain di luar sana yang nasibnya jauh lebih tragis. Menghargai penderitaan orang lain tidak perlu dilakukan dengan cara menyepelekan rasa sakit diri sendiri.

Menerima Realitas secara Radikal (Radical Acceptance)

Lantas, kalau kita tidak boleh terjebak dalam toxic positivity, apakah artinya kita harus pasrah, meratapi nasib, dan tenggelam dalam penderitaan selamanya? Tentu tidak.

Antitesis dari toxic positivity bukanlah pesimisme, melainkan kesadaran berkelimpahan yang jujur (authentic abundance mindset). Kuncinya terletak pada sebuah konsep psikologi yang disebut Radical Acceptance—penerimaan realitas secara jujur dan tanpa syarat.

Orang yang berdaulat secara mental tidak akan menyangkal krisis. Saat tabungan menipis, bisnis gulung tikar, atau proyek yang dikerjakan berbulan-bulan berujung kegagalan, langkah pertamanya bukanlah memaksakan diri tersenyum sambil berteriak, "Saya yakin besok akan jadi miliarder!"

Langkah pertamanya adalah berani menatap realitas yang pahit itu tepat di matanya dan melakukan validasi emosi:

“Kondisi finansialku sedang hancur. Aku merasa sangat cemas, kecewa, dan takut. Dan itu adalah reaksi yang sangat wajar bagi manusia yang sedang menghadapi masalah sebesar ini.”

Perhatikan perbedaannya. Toxic positivity berusaha melarikan diri dari kenyataan, sementara abundance mindset melangkah masuk menyalami kenyataan. Setelah emosi itu diterima dan divalidasi, barulah area logika di otak kita (prefrontal cortex) bisa mengambil alih kendali dengan dingin dan jernih.

Belajar Berdaulat di Tengah Badai: Belajar dari Viktor Frankl

Seorang psikiater legendaris selamat dari kamp konsentrasi Nazi, Viktor Frankl, dalam bukunya Man’s Search for Meaning, pernah menuliskan sebuah pencerahan yang sangat mendalam:

"Di antara stimulus (masalah) dan respons kita, ada sebuah ruang kosong. Di dalam ruang kosong itulah terletak kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih respons."

Di dalam kehidupan, kita sering kali tidak punya kendali atas stimulus. Kita tidak bisa mengontrol kapan krisis ekonomi terjadi, kapan perusahaan memutus kontrak kerja kita, atau bagaimana sikap orang lain terhadap karya yang sudah kita buat mati-matian.

Namun, toxic positivity mengajari kita untuk memalsukan stimulus, seolah-olah hal buruk tidak sedang terjadi. Sebaliknya, kedaulatan batin mengajari kita untuk menguasai ruang respons.

Kita berhak berkata pada diri sendiri: "Dunia di luar sana sedang kacau dan tidak bisa kukontrol. Namun, batin di dalam sini adalah wilayah kekuasaanku. Aku tidak akan membiarkan jiwaku ikut miskin dan panik hanya karena situasi luar sedang sulit."

Panduan Praktis: Dari "Harus Bahagia" menuju "Cukup Tenang"

Bagi kamu yang ingin mulai melepaskan diri dari racun kepalsuan positif dan ingin membangun ketenangan batin yang asli, berikut beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Beri Nama pada Emosimu (Name It to Tame It)

Ketika rasa tidak nyaman datang, jangan langsung dilawan atau diusir. Duduklah hening sejenak, lalu beri nama pada perasaan itu secara spesifik: "Aku sedang merasa cemas karena batas waktu kerjaan," atau "Aku sedang merasa cemburu melihat pencapaian teman di media sosial." Memberi nama pada emosi terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat keaktifan pusat kecemasan di otak.

2. Bedakan Antara Validasi dan Pembenaran Perilaku

Memvalidasi emosi bukan berarti membenarkan tindakan destruktif. Merasa marah itu valid, tetapi melampiaskannya dengan membanting barang atau memaki orang lain adalah perilaku yang salah. Izinkan perasaannya hadir, tetapi jaga agar tindakanmu tetap rasional.

3. Kurangi Konsumsi Motivasi Instan di Media Sosial

Jika kamu sedang lelah mental, batasi melihat konten-konten hustle culture atau quotes motivasi yang cenderung memaksakan optimisme naif. Ganti konsumsimu dengan bacaan atau obrolan yang memberikan ruang aman untuk berefleksi secara jujur.

4. Fokus pada Langkah Terkecil yang Bisa Dikendalikan

Daripada pusing memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah besar dalam semalam, pecah masalah itu menjadi bagian-bagian kecil. Tanyakan pada diri sendiri setiap pagi: "Satu hal kecil apa yang realistis bisa kulakukan hari ini untuk membuat keadaanku 1% lebih baik?"

Penutup: Utuh Lebih Penting daripada Sempurna

Pada akhirnya, hidup yang bahagia tidak diukur dari seberapa jarang kita menangis atau seberapa sering kita mengumbar senyum di media sosial. Hidup yang berkelimpahan dan tenang lahir dari jiwa yang sudah selesai dengan dirinya sendiri—jiwa yang tidak lagi takut pada rasa sakit, tidak malu mengakui kekurangannya, dan tidak perlu berpura-pura sempurna di hadapan manusia lain.

Kamu tidak perlu menjadi superohero yang selalu kuat setiap detik. Kamu boleh lelah, kamu boleh istirahat, dan kamu boleh merasa tidak baik-baik saja.

Sebab untuk menjadi manusia yang utuh, kamu tidak dituntut untuk selalu bahagia. Kamu hanya perlu berani jujur pada dirimu sendiri.