Konten dari Pengguna

Rumus Kepasrahan Radikal: Hentikan Overthinking dan Raih Damai Batin

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pekik Aulia Rochman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Ache Surya. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Ache Surya. Sumber: pexels.com

Pernahkah Anda terbangun di tengah malam dengan jantung berdebar kencang, memikirkan sebuah skenario buruk yang bahkan belum tentu terjadi minggu depan? Atau, pernahkah Anda merasa lelah luar biasa di akhir hari—seolah-olah energi Anda diperas habis—padahal secara fisik pekerjaan yang Anda selesaikan hari itu sebenarnya tidak seberapa?

Jika Anda pernah atau sering mengalaminya, Anda tidak sendirian. Kita, masyarakat modern yang hidup di tengah riuhnya arus informasi, sedang mengalami sebuah wabah yang tidak tampak namun sangat mematikan: kebocoran energi mental yang kronis.

Secara tidak sadar, sebagian besar dari kita hari ini hidup dalam sebuah rumusan hidup yang sangat merusak: kita menghabiskan 90 persen energi mental untuk meratapi, memikirkan, dan mengkhawatirkan hal-hal yang berada di Lingkaran Luar. Dan akibatnya, kita hanya menyisa-nyisakan 10 persen energi tersisa untuk mengerjakan apa yang ada di Lingkaran Dalam.

Lingkaran Luar adalah ruang yang berisi hal-hal yang sama sekali berada di luar kendali langsung kita. Kita cemas berlebihan memikirkan persepsi orang lain tentang kita. Kita stres memikirkan arah ekonomi global, dinamika politik, kelakuan rekan kerja, keputusan tak terduga dari atasan, hingga kepastian masa depan yang masih remang-remang.

Padahal, mari kita jujur pada diri sendiri: sebanyak apa pun kita memikirkannya hingga kepala rasanya mau pecah, hal-hal di Lingkaran Luar tersebut tidak akan bergeser sedetik pun hanya karena kecemasan kita.

Di sisi lain, akibat 90 persen kapasitas kognitif kita habis terkuras di Lingkaran Luar, Lingkaran Dalam—satu-satunya ruang yang sesungguhnya menjadi tanggung jawab dan berada di bawah kendali penuh kita detik ini—justru terbengkalai. Kita menjadi manusia yang sangat sibuk mencemaskan hasil akhir, tetapi tidak punya lagi sisa tenaga untuk mengeksekusi proses dengan baik.

Mengurai "Spiritual Bypassing" dan Mitos Pasrah

Untuk keluar dari labirin anxiety, overthinking, dan kelelahan emosional yang menyiksa ini, kita perlu melakukan reorientasi mental yang fundamental. Kita perlu mengadopsi sebuah prinsip kesadaran yang radikal: Kepasrahan Radikal.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus membersihkan kesalahpahaman umum tentang kata "pasrah". Dalam percakapan sehari-hari, kepasrahan sering disalahartikan sebagai tindakan menyerah, keputusasaan (fatalisme), atau sikap pasif tanpa tindakan. Orang yang pasrah kerap diidentikkan dengan mereka yang duduk memangku tangan meratapi nasib.

Ini adalah bentuk spiritual bypassing yang keliru. Kepasrahan sejati sama sekali bukan ketidakberdayaan. Sebaliknya, penambahan kata Radikal di sini justru menuntut keberanian, kedaulatan batin, dan kejelasan berpikir tingkat tinggi.

Seorang praktisi Kepasrahan Radikal tidak pernah melarikan diri dari realitas. Ia justru membalik rumusan 90-10 yang merusak tadi secara total menjadi Rumus 100-100:

1. Menyerahkan 100 Persen Isi Lingkaran Luar kepada Kebijaksanaan Tuhan

Langkah pertama ini adalah tindakan pembebasan batin. Praktisi Kepasrahan Radikal secara sadar melepaskan beban obsesif untuk mengontrol hasil akhir, penilaian orang lain, atau skenario masa depan. Ia menerima dengan lapang dada bahwa ada wilayah-wilayah di semesta ini yang memang bukan porsinya untuk diatur.

Ketika ada hal di luar kendali yang terjadi—seperti proyek yang gagal, penolakan, atau perubahan rencana yang mendadak—ia tidak menghabiskan waktunya untuk mengutuki keadaan. Ia menerimanya sebagai fakta realitas yang harus direspons dengan tenang. Mengakui batas kemampuan diri adalah titik awal dari kedamaian jiwa.

2. Mencurahkan 100 Persen Fokus untuk Lingkaran Dalam Persis di Detik Ini

Setelah berhasil melepaskan cengkeraman emosional pada Lingkaran Luar, hal ajaib akan terjadi: seluruh kapasitas kognitif dan energi jiwa kita yang dulunya bocor, kini utuh kembali.

Dengan 100 persen energi yang terkumpul, ia mencurahkan seluruh perhatian, ketelitian, dan kasih sayangnya untuk mengerjakan apa yang ada di Lingkaran Dalam persis di detik ini. Lingkaran Dalam adalah hal-hal yang sepenuhnya berada dalam kendalinya: tindakan nyata, kejujuran berpikir, kerapian kerja, keramahan sikap, dan keputusan etis yang dianjurkan oleh nuraninya.

Mengenal Konsep "Process-as-Worship"

Perubahan paling indah dan mendalam dari penerapan Kepasrahan Radikal terjadi pada cara kita memandang pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Selama ini, kita sering kali bekerja dalam kondisi tertekan karena kita terobsesi pada hasil (outcome-driven). Kita mengetik tulisan karena takut tidak disukai, kita bekerja keras karena panik tidak dapat pujian, atau kita melayani orang lain demi memenuhi ekspektasi lingkungan. Ketika hasil akhir tidak sesuai harapan, kita hancur.

Seorang praktisi Kepasrahan Radikal meruntuhkan cara pandang ini. Ia bekerja keras bukan lagi karena terobsesi pada hasil akhir atau didorong oleh rasa takut. Ia melepaskan cengkeraman pada masa depan.

Bagi dirinya, mengerjakan tanggung jawab dengan standar kualitas tertinggi persis di detik ini adalah bentuk ibadah, pengabdian, dan penghormatan pada hidup itu sendiri.

Ia melukis bukan demi dipuji di galeri, melainkan karena proses menggoreskan kuas di detik ini adalah persembahan terbaiknya pada Sang Maha Indah. Ia menyusun laporan bukan demi menyenangkan atasan semata, melainkan karena kejujuran dan ketelitian dalam menyusun data detik ini adalah bentuk integritas dirinya sebagai manusia.

Ketika kita berfokus penuh pada proses dan menyerahkan hasil akhir kepada Kebijaksanaan Tuhan, rasa cemas itu otomatis runtuh. Tidak ada lagi ketakutan akan kegagalan, karena harga diri kita tidak lagi digantungkan pada hal-hal liar di Lingkaran Luar, melainkan pada kesungguhan dan ketulusan kita di Lingkaran Dalam.

Langkah Praktis: Kembali ke Detik Ini

Dunia modern dengan segala kecepatan dan algoritmanya akan selalu menggoda kita untuk mengontrol segalanya. Media sosial, tenggat waktu, dan ekspektasi sosial akan terus menarik pikiran kita melayang ke masa lalu yang penuh penyesalan, atau meloncat ke masa depan yang penuh dengan kecemasan imajiner.

Namun ingatlah satu kebenaran sederhana ini: satu-satunya ruang kehidupan nyata yang benar-benar kita miliki dan bisa kita pengaruhi hanyalah detik ini.

Mulai hari ini, setiap kali Anda merasa overthinking, cemas, dan lelah mental, berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam, lalu ajukan satu pertanyaan jujur pada diri sendiri:

"Apakah hal yang sedang kupikirkan dan kukutuki saat ini berada di Lingkaran Luarku atau Lingkaran Dalamku?"

Jika ia berada di Lingkaran Luar—jika itu adalah sikap orang lain, keputusan masa lalu, atau ketidakpastian esok hari—lepaskanlah. Serahkan seluruh hasilnya kepada Kebijaksanaan Tuhan yang Maha Mengatur.

Setelah itu, tarik kembali seluruh fokus Anda. Gunakan 100 persen energi Anda yang telah utuh kembali untuk menyempurnakan satu langkah kecil yang ada di dalam Lingkaran Dalam Anda hari ini.