Konten dari Pengguna

Ramai Pembeli Belum Tentu Untung: Mengapa Pelaku Usaha Perlu Paham Kalkulasi Biaya dan Laba Rugi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arieanto Miswandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Arieanto Miswandi, Mahasiswa Program Studi Digital Marketing, Universitas Pamulang

sumber: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Ilustrasi AI

Banyak pemilik usaha kecil pernah merasakan hal ini: dagangan laris, pembeli datang silih berganti, tetapi di akhir bulan uang di tangan nyaris tidak bertambah. Penyebabnya sering bukan kurangnya pembeli, melainkan kalkulasi yang keliru. Harga ditetapkan berdasarkan perasaan, biaya dihitung seadanya, dan laba rugi baru diketahui ketika modal sudah menipis.

Dalam akuntansi manajemen, persoalan ini dijawab dengan dua alat dasar: kalkulasi biaya dan analisis hubungan biaya, volume, dan laba. Keduanya tidak rumit, dan siapa pun yang berjualan bisa menggunakannya.

Mengenal dua jenis biaya

Langkah pertama adalah memisahkan biaya menjadi dua kelompok. Biaya variabel adalah biaya yang naik-turun mengikuti jumlah produk yang dibuat, seperti bahan baku, upah pembuat produk, dan kemasan. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya relatif sama setiap bulan, tidak peduli seberapa banyak produk terjual, seperti sewa tempat, listrik dan air, serta penyusutan peralatan.

Penyusutan sering terlupakan karena tidak terasa sebagai uang yang keluar. Padahal mesin dan peralatan lama-kelamaan aus dan harus diganti, sehingga nilainya perlu dibebankan sebagai biaya.

Contoh: dua cara menghitung, dua hasil berbeda

Bayangkan seorang pelaku usaha camilan rumahan. Untuk satu bungkus produk, ia mengeluarkan bahan baku Rp. 8.000, upah pembuat Rp. 3.000, dan kemasan Rp. 1.500, sehingga biaya variabel per bungkus Rp. 12.500,. Biaya tetapnya Rp. 2.000.000, per bulan, terdiri atas sewa Rp. 1.000.000, listrik dan air Rp. 500.000, dan penyusutan alat Rp. 500.000. Dalam sebulan ia menjual 500 bungkus.

Pemilik pertama hanya menghitung bahan baku Rp. 8.000, lalu menjual Rp. 15.000, karena merasa untung Rp. 7.000, per bungkus. Pemilik kedua menghitung semua biaya dan menetapkan harga Rp. 20.000,. Hasil bulanan keduanya sebagai berikut.

Keterangan Harga Rp15.000 Harga Rp20.000

Pendapatan (500 bungkus) Rp7.500.000 Rp10.000.000

Biaya variabel (500 × Rp12.500) Rp6.250.000 Rp6.250.000

Margin kontribusi Rp1.250.000 Rp3.750.000

Biaya tetap Rp2.000.000 Rp2.000.000

Laba (rugi) bersih (Rp750.000) Rp1.750.000

Pemilik pertama merasa untung, padahal rugi Rp. 750.000, per bulan. Dagangannya sama lakunya, hanya cara menghitungnya yang berbeda.

Titik impas: batas antara rugi dan laba

Alat yang paling berguna disini adalah titik impas atau break-even point, yaitu jumlah penjualan ketika laba tepat nol, Rumusnya: biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit. Margin kontribusi per unit adalah harga jual dikurangi biaya variabel per unit.

Pada harga Rp. 20.000, margin kontribusi per bungkus adalah Rp. 7.500, sehingga titik impasnya sekitar 267 bungkus atau setara penjualan Rp. 5,34 juta per bulan. Dengan penjualan 500 bungkus, usaha ini berada jauh di atas titik impas. Selisihnya disebut margin pengaman, yakni sekitar 46,6%. Artinya, penjualan boleh turun hampir separuh sebelum usaha mulai merugi.

Pada harga Rp. 15.000, margin kontribusinya hanya Rp. 2.500, per bungkus, sehingga titik impasnya naik menjadi 800 bungkus. Dengan penjualan 500 bungkus, usaha itu pasti rugi. Tanpa hitungan ini, pemilik bisa bekerja keras berbulan-bulan tanpa tahu bahwa targetnya mustahil tercapai.

Laba rugi bukan sekedar laporan akhir bulan

Laporan laba rugi sering dianggap urusan akuntan atau syarat mengajukan kredit. Padahal laporan ini adalah alat kendali. Dengan membandingkan laporan dari bulan ke bulan, pemilik usaha bisa melihat biaya mana yang membengkak, produk mana yang margin kontribusinya tipis, dan kapan harus perlu disesuaikan. Keputusan seperti menaikkan harga, menambah karyawan, atau menerima pesanan dengan diskon besar bisa diuji terlebih dahulu di atas kertas sebelum dijalankan.

Langkah praktis yang bisa dimulai hari ini

Pertama, catat semua biaya, termasuk yang tidak terasa seperti sewa, listik, dan penyusutan. Kedua, pisahkan biaya variabel dan biaya tetap. Ketiga, hitung titik impas sebelum menetapkan atau mengubah harga. Keempat, pisahkan uang usaha dari uang pribadi agar laba yang sebenarnya terlihat. Kelima, tinjau laporan laba rugi setiap bulan dan jadikan titik impas sebagai target minimal penjualan.

Kalkulasi yang benar tidak menjamin usaha selalu untung, tetapi membuat pemiliknya tahu persis dimana posisinya. Dalam bisnis, mengetahui angka sebenarnya jauh lebih baik daripada merasa untung. Pelaku usaha yang rajin menghitung akan lebih cepat melihat masalah dan lebih tenang mengambil keputusan.

Sumber: Ilustrasi AI

Grafik diatas menunjukkan titik impas di 267 bungkus dan laba Rp. 1,75 juta pada penjualan 500 bungkus. Warna merah muda menandai zona rugi dan hijau menandai zona laba.