Anak Itu Seharusnya Bermain, Bukan Mengais Sampah

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pena Yulistiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua anak terlahir dalam keadaan yang sama. Ada yang dibesarkan dengan tawa,canda dan permainan, namun ada pula yang harus tumbuh bersama air mata dan karung di punggung. Seperti bocah kecil ini. Usianya kira-kira delapan tahun,seusia ketika anak-anak lain belajar membaca atau bermain petak umpet.
Tapi kenyataan hidup memaksanya menjalani peran yang berbeda: ia harus bekerja demi bertahan hidup.
Setiap pagi, ketika anak-anak lain berangkat ke sekolah dengan seragam rapi dan bekal buatan ibu, ia justru memikul karung besar, berjalan dari lorong ke lorong, menyusuri tempat sampah satu ke tempat sampah lainnya. Ia bukan pencuri, juga bukan pengemis. Ia hanyalah seorang anak pemulung yang sedang berjuang bersama ibunya agar tetap bisa makan.
Ketika anak-anak seusianya duduk di kelas sambil bercanda, ia malah berada di pinggir jalan, memilah botol plastik dari tumpukan sampah. Tangannya kotor, pakaiannya lusuh, namun sorot matanya menunjukkan semangat hidup yang menggetarkan. Ia mungkin belum paham arti “masa depan”, tapi ia mengerti bahwa hari ini harus bekerja agar esok masih bisa makan.
Ayahnya? Ia tidak bekerja, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya sambil menyalahkan nasib. Sebaliknya, ibunya ikut turun ke jalan, memulung kardus dan botol. Mereka berdua adalah pejuang kecil di tengah kota yang hiruk pikuk dan sering kali tak peduli.
Di usia yang seharusnya di isi dengan belajar dan bermain, anak itu malah mempelajari cara menawar harga barang bekas dan mengejar truk sampah yang belum berhenti. Hidupnya adalah tentang bertahan, bukan bermimpi. Libur ialah salah satu kemewahan yang mungkin belum pernah ia kenal.
Melihatnya membuat saya sadar: kemiskinan bukan sekadar soal uang, tetapi juga tentang direnggutnya masa kanak-kanak. Ia kehilangan hak-haknya sebagai anak, hak untuk bermain, belajar, dan tumbuh dengan damai. Bukan salahnya, tetapi realita memaksanya tumbuh dewasa sebelum waktunya.
Kadang saya melihatnya termenung di depan ruko-ruko kosong, entah karena lelah, lapar, atau hanya ingin merasakan bagaimana rasanya jadi anak kecil yang bisa bermain tanpa beban. Ia jarang mengeluh. Tetapi dari diamnya, saya belajar bahwa hidup bukan soal keadilan, melainkan tentang keteguhan untuk terus berjalan meski terasa berat.
Saya tidak tahu apa masa depan yang menantinya. Apakah ia akan tetap di jalanan? atau ada tangan yang mengulurkan harapan dan mengajaknya untuk sekolah? Tapi saya percaya, dalam dirinya masih ada cahaya kecil yang bisa menyala lebih terang jika diberi ruang untuk tumbuh.
Untuk kita yang hari ini hidup lebih nyaman, bisa belajar dan bermain dengan tenang, mari jangan tutup mata. Ada anak-anak yang diam-diam memikul beban besar. Kita memang tidak bisa membantu semua, tapi kita bisa mulai dengan peduli, dengan rasa kemanusiaan, dan semoga suatu hari nanti, dengan tindakan nyata.
