Konten dari Pengguna

Bukan Sekedar Kuliah, Ini Tentang Mewujudkan Harapan Seorang Ibu

Pena Yulistiani

Pena Yulistiani

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pena Yulistiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://chatgpt.com/s/m_685b90b44924819183fd120eb6168fb6
zoom-in-whitePerbesar
https://chatgpt.com/s/m_685b90b44924819183fd120eb6168fb6

Tertunda Bukan Berarti Gagal: Perjalanan Saya untuk Mewujudkan Mimpi Ibu

Setiap orang memiliki mimpi. Tetapi tidak semua orang diberi jalan yang mudah untuk mewujudkannya. Begitu pula dengan saya. Saya lahir dari keluarga sederhana yang penuh kasih sayang dan kerja keras. Bapak saya bekerja sebagai tukang ojek, berkeliling dari pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan keluarga, sementara ibu saya adalah seorang asisten rumah tangga yang setiap hari membantu orang lain membersihkan rumah, sementara dirinya sendiri sering merasakan lelah dan menyimpan kesedihan dalam diam.

Saya tumbuh bersama kakak dan adik-adik yang saling menyayangi, tapi kami semua paham bahwa kehidupan kami tidak mudah. Namun di balik segala kesederhanaan itu, ada satu hal yang selalu ibu dan bapak tanamkan: pendidikan adalah satu-satunya jalan agar hidup kami bisa berubah. Dan mimpi terbesar ibu saya sangat jelas sekali, beliau ingin melihat salah satu anaknya menjadi sarjana,lebih tepatnya beliau ingin melihat anaknya ada yang menjadi seorang guru.

Setelah lulus dari SMA, saya tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi. Bukan karena saya tidak ingin, tetapi karena keadaan belum memungkinkan, karena keterbatasan biaya membuat saya harus menunda mimpi yang sudah lama saya inginkan, demi masa depan, demi ibu dan bapak saya, serta untuk kakak dan adik-adik saya yang juga butuh diperjuangkan.

Selama dua tahun setelah kelulusan, saya tidak tinggal diam. Saya diminta mengajar ekstrakurikuler oleh pelatih saya, untuk mengajar di sekolah tempat saya dulu belajar SMA yang penuh kenangan, dan juga saya dibantu oleh pelatih saya melamar ke sekolah SMP untuk menjadi guru esktrakuliker pencat silat (PSHT). Mengajar di sana menjadi bentuk tanggung jawab dan upaya saya untuk tetap bermanfaat, meskipun belum bisa duduk di bangku kuliah.

Namun kenyataan tidak selalu semanis niat baik. Justru di masa itu, saya menghadapi hal yang cukup menyakitkan, bukan karena orang asing, tetapi dari keluarga sendiri. Banyak omongan-omongan menyudutkan, komentar yang merendahkan, bahkan cibiran halus yang kadang menyamar jadi saran.

"Katanya mau kuliah, tapi malah ngajar ekstrakurikuler?kenapa gak cari kerja yang lain aja?" atau "Cuma segitu aja bisanya?"

Masih banyak sekali omongan-omongan yang sering dilontarkan. Saya diam, meski hati saya terluka. Bukan karena mereka benar, tapi karena orang yang menyakiti ialah orang yang seharusnya mendukung. Kadang saya bertanya, "mengapa harus keluarga sendiri yang justru menjatuhkan?

Namun saya tidak membalas dengan amarah. Saya memilih diam dan terus melangkah. Di balik senyum saya saat mengajar, ada tekad yang perlahan saya pupuk: saya harus kuliah. Saya harus mewujudkan mimpi Ibu sejak dari Saya masih MTS,Saya harus menunjukkan bahwa saya tidak kalah,saya hanya sedang menyiapkan waktu yang tepat. Dan akhirnya, waktu itu datang. Setelah dua tahun penantian, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus,terutama doa kedua orang tua pastinya, saya dinyatakan diterima di sebuah perguruan tinggi yaitu di Universitas Pamulang.Saya menangis,bukan karena sedih, tetapi karena saya bahagia,akhirnya setelah penantian yang cukup lama,satu pintu terbuka setelah sekian lama tertahan. Ibu pun menangis, penuh haru dan mengucap syukur “Akhirnya, Nak. Kamu kuliah juga,” ucapnya sambil menangis karena terharu.

Namun, tidak semua ikut bahagia. Ketika saya memulai kuliah, lagi-lagi ada omongan miring dari orang yang sama yaitu dari keluarga sendiri. Ada yang tak suka, bahkan sampai membicarakan saya ke sana ke mari. Seolah keberhasilan saya menjadi ancaman, bukan kebahagiaan. Tapi kali ini, saya tidak menangis. Saya sudah cukup kuat untuk memahami bahwa tidak semua orang akan suka dengan langkah kita, meskipun langkah itu tidak pernah menyakiti siapa-siapa.

Sekarang, saya menjalani kuliah dengan semangat penuh. Tidak lagi untuk membuktikan kepada mereka yang meremehkan, tapi sebagai bentuk cinta dan pengabdian kepada Ibu dan bapak,sosok yang selalu percaya, bahkan ketika orang lain meragukan saya. Saya tahu, jalan ini tidak mudah. Tapi saya juga tahu, saya tidak berjalan sendiri,karena dibelakang saya selalu ada kedua orang tua saya yang selalu mendukung dan menyemangati setiap langkah yang anaknya ambil.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa tertunda bukan berarti gagal. Dan hinaan tidak selamanya harus dibalas dengan kata-kata,cukup dengan pencapaian. Dan bahwa mimpi ibu, jika terus kita perjuangkan, akan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi nyata.

Terima kasih, Ibu. Aku akan terus melangkah sampai dimana hari itu tiba, hari dimana aku berdiri di panggung wisuda dan berkata: "Ini untukmu, Ibu. Terima kasih atas segala doa yang tak pernah padam".