kumparan
News23 April 2020 10:42

Lindungi Tenaga Kesehatan, CISDI dan SBC Adakan Tes Gratis

SBC Penyerahan Donasi.jpeg
Penyerahan alat rapid test, RT-PCR, dan APD dari SBC dan CISDI ke RS Haji Jakarta serta rumah sakit lainnya yang disampaikan secara bertahap.
Tenaga kesehatan merupakan kelompok paling rentan terinfeksi COVID-19. Setidaknya hingga hari ini telah terdapat 42 orang tenaga kesehatan yang meninggal sebab infeksi COVID-19 (Koran Tempo, 21/04/2020). Tim Gugus Tugas COVID-19 Jakarta melaporkan terdapat 174 orang tenaga kesehatan yang positif terinfeksi COVID-19 41 rumah sakit, empat puskesmas dan satu klinik (data per 12 April 2020).
ADVERTISEMENT
Penyediaan APD dan tes adalah upaya utama untuk mencegah infeksi. Sayangnya, tidak semua rumah sakit di DKI Jakarta bisa memfasilitasi hal ini. Bersama dengan Solidaritas Berantas COVID-19 (SBC), CISDI tergerak untuk memfasilitasi penyediaan rapid test antibodi, Real-Time olymerase Chain Reaction (RT-PCR), dan paket alat pelindung diri (APD) yang dibagikan gratis kepada tenaga kesehatan.
Bekerja sama dengan Lab Mikrobiologi UI dan 6 rumah sakit di Jakarta, CISDI dan SBC menyediakan 1.000 tes cepat antibodi dan 4.000 RT-PCR. SBC dan CISDI juga mendukung ketersediaan 8.000 alat pelindung diri (APD) secara lengkap dan gratis ke beberapa rumah sakit yang paling membutuhkan di Jakarta. Prof. Dr. Akmal Taher, SpU (K), Ketua Kolegium Urologi Indonesia sekaligus penggagas SBC, menyatakan bahwa DKI Jakarta memiliki keterbatasan alat tes.
ADVERTISEMENT
“Saat ini, Jakarta tercatat memiliki lebih dari 10 juta populasi, sementara ketersediaan RT-PCR hanya sekitar 1.200 per hari.” Minimnya alat tes membuat antrian untuk mengetahui hasil tes menjadi panjang. Jika itu terjadi, tenaga kesehatan yang sangat berisiko terinfeksi pasien positif bisa menjadi sumber penularan lokal baru di dalam fasilitas kesehatan.
Dr. Syarief Hasan Luthfie, Direktur RS Haji Jakarta, menyatakan keterbatasan kapasitas tes menjadi kendala banyak rumah sakit untuk mengambil keputusan isolasi bagi tenaga kesehatan. Oleh sebab itu, beliau berterima kasih untuk CISDI dan SBC yang telah berinisiatif memfasilitasi tes tersebut.
Arifin Panigoro, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI dan juga penggagas SBC mengapresiasi kerja sama dengan rumah sakit setempat. Ia menyampaikan SBC akan terus meningkatkan pemeriksaan RT-PCR yang merupakan standar emas pemeriksaan COVID-19 kepada tenaga kesehatan dan pendukung di fasilitas kesehatan termasuk yang berada di luar Jakarta.
ADVERTISEMENT
Dimulai Sejak Maret
Tes Swab.jpeg
Pelaksanaan RT-PCR bagi tenaga kesehatan di RS Haji Jakarta didukung oleh alat RT-PCR dari SBC dan CISDI.
Pemeriksaan Rapid-Test Antibodi dan RT-PCR gratis telah dimulai bertahap sejak 26 Maret 2020. SBC dan CISDI bermitra dengan RS Islam Jakarta Sukapura, RS Islam Jakarta Pondok Kopi, RS Haji Jakarta, RSCM, RS Harapan Kita, dan RSUD Tarakan. CISDI dan SBC juga bekerja sama dengan GrabHealth powered by Good Doctor untuk membuka sesi konsultasi jarak jauh bagi tenaga kesehatan di seluruh Jakarta.
Melalui aplikasi GrabHealth tenaga kesehatan bisa mendaftarkan diri untuk kemudian dirujuk dan melakukan pemeriksaan tes cepat (rapid test) antibodi atau RT-PCR sesuai kategori risiko. Olivia Herlinda, Direktur Kebijakan CISDI, menyatakan bahwa program skrining dan tes gratis yang dilakukan CISDI dan SBC bersama mitra adalah upaya mengisi celah penanganan COVID-19 di Jakarta.
ADVERTISEMENT
“Melihat animo yang tinggi, kami memetakan ada gap yang besar dalam skrining dan tes COVID-19, terutama terkait ketersediaan kapasitas maupun kecepatan hasil keluar, khususnya di lapangan kesehatan.” Olivia menambahkan SBC dan CISDI terus berupaya memperluas program tes ini hingga ke luar Jakarta.
Diah Saminarsih, Senior Advisor on Gender and Youth untuk Dirjen WHO meminta tenaga kesehatan memutus rantai penularan. “Kunci untuk menekan penyebaran kasus adalah melalui tes, penelusuran kasus, dan isolasi segera.” Menurutnya, dengan adanya pemeriksaan yang dapat diakses akan mempercepat penemuan kasus dan mencegah penyebaran lebih luas.
Diah menambahkan masyarakat sipil perlu berkolaborasi bersama pemerintah untuk saling melengkapi. Tanpa proses itu pemerintah akan kesulitan menghadapi lonjakan kasus yang semakin meninggi. “Kita tidak mau hal ini terjadi sehingga saya mengajak pemerintah untuk terbuka terhadap potensi kolaborasi dengan masyarakat sipil, sektor swasta, dan peneliti serta mendorong pemanfaatan teknologi inovatif sebagai upaya mengakhiri wabah ini.”
ADVERTISEMENT
Simak siaran lengkap artikel di sini dan cara mengakses tes gratis di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan