Konten dari Pengguna

Gunung Es Nestapa TKI: Peran Besar Pendidikan Antitesisnya

Waode Nurmuhaemin

Waode Nurmuhaemin

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock

Berdasarkan investigasi, ada dugaan kapal TKI ditenggelamkan di perairan Johor baru Malaysia tahun 2021 lalu. Tidak sekali-dua kali, cerita nestapa selalu saja menyeruak menghadirkan banyak kesedihan berkenaan dengan buruh migran kita di luar negeri.

Di duga, ada titik-titik yang jadi tempat penenggelaman kapal-kapal TKI. Tentu saja harga diri kita sebagai bangsa jatuh dan harga diri TKI sebagai manusia tergadai.

Menjadi buruh migran memang bertaruh dengan nyawa. Mereka sangat mungkin mendapat penganiyaan ketika bekerja dan kalau lagi apes mereka akan mengalami perdagangan manusia. Terlihat jelas, ada ironi besar dan sumir di sini.

Eksplorasi kekayaan alam Indonesia, terus saja menimbulkan decak kagum akan nilai-nilai fantastisnya. Emas jutaan ton, nikel jutaan kubik, batubara, aspal, bauksit semua ada di Indonesia dengan nilai-nilai fantastis.

Di lain sisi, jumlah buruh imigran Indonesia tidak kalah fantastis di Malaysia dan Arab Saudi. Mereka juga kerap dianiaya. Bahkan di kasus-kasus berat tak urung diperlakukan seperti binatang.

Banyak yang bertanya, mengapa tidak dihentikan saja ekspor-ekspor PMI (pekerja migran Indonesia) ke negara-negara bahkan yang lebih miskin sumber daya alamnya dibanding Indonesia?

Tentu saja jawabannya tidak sesederhana itu. Para pekerja migran di luar negeri mendapat penghasilan untuk menyokong ekonomi keluarga. Di Indonesia, mereka memang "tidak punya apa-apa" untuk sekadar mencari sesuap nasi.

Ilustrasi TKI menaiki kapal Foto: ANTARA FOTO

Kalau dikatakan mereka malas, sesungguhnya tidak bisa diterima. Di luar negeri pekerja-pekerja domestik Indonesia sangat digemari. Mereka cekatan, rajin, dan kadang-kadang tidak melawan ketika dianiaya. Mengapa mereka tidak bekerja saja di dalam negeri?

TKA membanjiri bandara-bandara kita untuk bekerja di tambang sebagai tenaga kerja kasar. Tunggu dulu, semua tidak sesederhana itu, ferguso! Perlu kemauan keras pemerintah untuk mengutamakan rakyatnya, sebab investor yang mengeruk tambang membuat perjanjian satu paket dengan pekerja mereka jika ingin investasi di tambang-tambang Indonesia.

Walhasil masyarakat Indonesia jadi penonton kekayaan alam mereka yang berada di sekitar kampung mereka dikeruk. Dan, ironisnya lagi mereka hanya dapat lumpurnya ketika hujan.

Berkelindan dengan itu, korupsi besar-besaran terus saja terungkap bagaikan air bah yang tidak putus-putusnya. Terungkap, bahwa bukan satu dua orang yang mengambil uang negara untuk kepentingan pribadi melainkan jumlahnya fantastis.

Flexing di mana-mana, yang diam-diam tidak flexing lebih banyak lagi. Angka-angka korupsi yang menyentuh ratusan triliun membuat mumet manakala membaca-baca berita penyiksaan TKI kita. Mereka anak bangsa yang bertaruh nyawa untuk sekadar bisa hidup layak.

Uang-uang ratusan triliun, jika saja dialokasikan untuk membangun sekolah-sekolah vokasi yang komplit, saya bisa pastikan akan bisa berdiri di semua kabupaten/kota. Jika digunakan untuk sentra-sentra pembangunan UKM juga bisa berdiri di semua desa.

Jika digunakan untuk memberi modal petani gurem dan rakyat miskin yang tidak punya agunan juga masih bisa untuk semua provinsi. Maka di sinilah mengapa korupsi itu adalah tindakan kejahatan luar biasa.

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berbaris sebelum diberangkatkan menuju Korea Selatan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (18/7/2022). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Sehingga tidak usah heran, kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh sepuluh persen masyarakat Indonesia.Tugas mulia pendidikan adalah mencerdaskan anak bangsa. Saya tidak melihat ada jalan lain untuk keluar dari masalah-masalah kebodohan, kemiskinan selain pendidikan.

Sistem yang ada dimanapun memang sudah demikian adanya hanya menguntungkan segolongan orang. Tugas pendidikan menciptakan anak-anak bangsa yang bisa berpikir kritis dan cerdas agar tidak memilih menjadi budak di negeri orang.

Mulai saat ini, sekolah-sekolah yang ada di kantong-kantong TKI perlu segera mengajarkan untuk tidak bercita-cita jadi TKI. Kalau memang tidak bisa dihindari karena kemiskinan sedemikian ekstremnya, semoga pemerintah memperbanyak sekolah-sekolah vokasi.

Beri mereka keahlian untuk bisa memiliki posisi tawar ketika harus bekerja di luar negeri. Kalau bisa buka sekolah-sekolah vokasi calon TKI. Kurikulumnya dari kelas satu sampai kelas tiga adalah kurikulum yang memberikan keahlian yang bisa dipakai ketika tamat.

Ajarkan bahasa inggris secara intensif. Sehingga dari SMP anak-anak yang memang punya niat jadi TKI bisa langsung masuk ke SMA-SMA calon TKI dan mereka ketika menamatkan SMA, sudah bisa khatam keterampilan dan apa saja yang perlu disiapkan ketika berangkat jadi TKI.

Sebagai praktisi pendidikan, saya melihat sudah saatnya pemerintah mendirikan SMA-SMA vokasi khusus untuk calon-calon TKI. Kalau perlu setiap kabupaten harus ada. Sehingga pelecehan,penyiksaan dan bahkan pembunuhan kepada pekerja migran kita tidak lagi terjadi.

Hal ini tidak bisa ditunda, karena setiap tahun angka TKI terus saja bertambah. Kurikulumnya juga dibuat khusus. Kita tidak bisa menutup mata akan fenomena yang sudah berjalan puluhan tahun ini. Saatnya Indonesia membuka sekolah-sekolah menengah atas dengan nama SMK TKI.