Konten dari Pengguna

Guru dan Opini Sesat: Sekolah Adalah Scam

Waode Nurmuhaemin

Waode Nurmuhaemin

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock Foto

Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba seorang influencer mengatakan bahwa sekolah adalah scam. Pernyataan menjadi viral dan memantik beragam reaksi. Ada yang setuju, tapi lebih banyak yang menolak.

Memasuki abad 21, peran pendidikan memang mengalami perubahan signifikan yang tidak terkira-kira. Dunia saat ini sudah ada dalam genggaman akibat kemajuan teknologi mengakibatkan ada pandangan-pandangan yang mendegradasi nilai sekolah dan lembaga pendidikan. Peran pendidik menjadi sangat sentral dan sering menjadi sorotan. Terutama peran guru.

Guru upload berdiri, siswa update berlari. Demikianlah pepatah yang mungkin saja akan segera menggantikan pepatah lama "guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Guru saat ini, sebagaimana juga pekerjaan lainnya tengah dihantui kecemasan terhadap dominasi kecerdasan buatan.

Terbaru adalah Chat GPT. Mesin cerdas ini, menawarkan kemewahan informasi yang bisa didapat hanya sekian detik dan memahami perintah sebelum dan selanjutnya. Kita seolah-olah bercakap-cakap dengan manusia ketimbang mesin pencari.

Dengan kemajuan teknologi yang begitu dahsyat, apa yang tersisa dari pengajar? Kira-kira demikianlah pertanyaan di banyak benak orang. Tentu saja sebagai pengajar guru sudah saatnya meng-upgrade diri semaksimal mungkin. Jadilah guru pembelajar. Jangan nyaman di zona itu-itu saja.

Kita tidaklah mengetahui rencana apa saja dan inovasi apa yang sedang dilakukan ilmuwan-ilmuwan jenius di Silokon Valey yang tergila-gila menjadikan mesin AI untuk bisa sangat menyerupai manusia.

Lihatlah chatGPT. Siapa yang bisa meramal kehadirannya? Pembuatannya dilakukan diam-diam selama bertahun-tahun, dan ketika kita tengah terlena dengan urusan-urusan remeh-temeh, bertengkar tentang hal-hal yang tidak penting sekonyong-konyong Open AI meluncurkan chat bot yang kemudian meresahkan jutaan orang yang merasa pekerjaannya bakalan terampas.

Guru-guru perlu mencoba berdampingan dengan kecerdasan buatan ketimbang menolak bahkan bermasa bodoh dengan kehadiran AI itu. Jangan sampai para guru diperbodohi siswa yang lebih melek teknologi sehingga guru tidak mampu membedakan bahwa tugas yang dibuat adalah pekerjaan AI bukan siswa.

Mulailah terbiasa memakai kecerdasan buatan untuk membantu dalam tugas-tugas mengajar, bukan menolak mentah-mentah teknologi tersebut.

Menjadi guru zaman ini memang tidak mudah, guru harus sigap dan cerdas menangkap perubahan dan kemajuan zaman serta serbuan arus informasi yang berubah-ubah dalam hitungan menit. Dari 100 juta pengguna chatGPT, ada berapa guru Indonesia yang sudah paham pemakaiannya?

Jangan jadi guru jadul yang masih tertempel stigma Oemar Bakri. Di Eropa dan Amerika, kompetensi digital menjadi syarat mutlak kompetensi guru.

Guru-guru Indonesia masih terus saja dimanjakan dengan empat komptensi yang ada di UUD Guru dan Dosen No 14 tahun 2o05. Di mana guru hanya dituntut menguasai empat kompetensi yaitu pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Sudah saatnya memasukkan kompetesi digital untuk agar tidak semakin tertinggal dibanding guru-guru maju di benua lain.

Seperti yang sudah saya utarakan, dunia pendidikan saat ini tengah mengalami degradasi dari kaum yang menyatakan bahwa sekolah adalah scam. Tentu saja ini sesat dan menyesatkan.

Orang-orang yang punya kepercayaan bahwa sekolah tidak perlu lagi karena konten-konten kreator bahkan yang tidak mengenyam sekolah bisa menghasilkan cuan yang besar perbulan. Dan yang makan sekolahan malahan banyak yang jadi pengangguran. Mereka berpandangan bahwa tanpa sekolah, orang-orang bisa belajar dari medsos untuk bisa menguasai keahlian apa saja.

Tentu saja, ini keliru. Sekolah sampai saat ini adalah lembaga pendidikan terpenting yang menjadi jembatan ilmu-ilmu. Ada memang segelintir orang yang sukses tanpa jalur sekolah, namun seyogyanya ada yang hilang dan pengalaman pendidikan yang tidak didapat orang-orang tersebut.

Mereka tidak mengalami pendidikan karakter yang langsung dipraktikkan di sekolah dengan interaksi siswa-siswa yang berlatar belakang yang beragam. Mereka juga tidak akan paham bersosialisasi dalam konteks nilai-nilai moral dan pendidikan dengan teman sebaya.

Juga kesempatan diskusi-diskusi dengan berbagai macam sudut pandang dari masing-masing individu serta kecakapan-kecakapan lainnya. Peran guru sangat besar di sini.

Ada memang orang-orang yang berhasil tanpa sekolah. Tepatnya tanpa kuliah semisal Stave Job, Mark Zukerberg, Bill gates, tapi harus dipahami, justru di bangku kuliahlah mereka mendapat ide-ide besar untuk membuat perusahaan teknologi. Mereka rata-rata kuliah di Harvad, MIT, kampus-kampus Ivi Legue di Amerika.

Siapa pendiri Gojek, Tokopedia, Bukalapak dll? Anak-anak muda tamatan kampus-kampus bergengsi kelas dunia. Sehingga mengatakan sekolah adalah scam, suatu utopia atau pandangan keliru yang bernuansa ilusi yang diluncurkan oleh pakar-pakar karbitan yang tidak memahami esensi pendidikan.

Muramnya pandangan sebagian orang tentang pendidikan adalah alarm untuk insan-insan pendidikan membenahi kompetensi. Perlihatkan bahwa pendidik Indonesia bukan pendidik yang tidak berkompeten namun memiliki skill di atas rata-rata sebagai pengajar.

Alokasikan waktu satu jam satu hari untuk meningkatkan kompetensi dan mencerna inovasi-inovasi baru. Alasan bahwa guru-guru sudah capek untuk sekadar belajar, hanya alasan saja. Banyak guru yang memiliki banyak waktu untuk sekadar scroll-scroll medsos, guru-guru bisa mengalokasikan waktu bahkan dua jam sehari.

Seharusnya mereka bisa juga mengalokasikan waktu untuk mempelajari keahlian baru. Jadilah guru yang update berdiri sehingga tidak ada yang meremehkan guru dan sekolah Indonesia. Apalagi kalau guru-guru bisa berbahasa asing walaupun hanya sekadarnya saya yakin pendidikan Indonesia akan melejit, bahkan menyamai guru-guru di negara maju.