Hati-Hati Kalau Kamu Mau Membaca Buku Homo Deus

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut saya, buku ini hanya banyak menampilkan pandangan-pandangan penulis sebagai ilmuwan yang modern. Isi buku ini, banyak memuja-muja kecerdasan manusia di atas segala-galanya. Dalam buku ini menggambarkan upaya-upaya manusia dalam ambisinya menalukkan alam semesta bahkan terkesan melawan kekuasaan Allah. Buku yang terlalu mendewakan pengetahuan dan otak manusia.
Bahwa mungkin suatu saat manusia bisa hidup di umur rata-rata 150 tahun. Bahwa suatu saat nanti, manusia akan menang melawan penyakit-penyakit mematikan, dan bahwa kecerdasan buatan akan mampu menggantikan dokter dan profesi-profesi lain. Pendek kata kecerdasan otak manusia adalah segalanya. Buku itu juga dengan optimis menggambarkan bahwa suatu saat manusia mungkin bisa hidup abadi.
Sekuat itukah manusia? Kemarin di daerah saya, ada angin puting beliung. Tiga orang meninggal, jadi korban dalam peristiwa ini. Pohon-pohon kuat tercabut dengan akar-akarnya. Saya mendengar semua orang meneriakkan nama Tuhan, bukan Chat GPT atau robot-robot cerdas. Ilmu pengetahuan terkadang membuat manusia lupa, bahwa kalau Allah mau bisa saja dalam hitungan detik bumi yang berisi manusia-manusia arogan yang menertawakan bahwa tuhan tidak ada, musnah dalam sekejap.
Waktu Tsunami Aceh, korban jiwa begitu banyak. Bahkan menyentuh angka 250 ribu, menurut saya mungkin dua kali bahkan tiga kali lipat dari angka itu. Apa yang bisa dilakukan manusia? Semua menangis, takluk di hadapan bencana yang hanya berlangsung selama sekian menit. Manusia begitu terpukul dan merasa sangat kecil. Apa yang sudah dibangun ratusan tahun rata dengan tanah seolah-olah tempat itu tidak pernah ada peradaban. Tsunami Aceh hanyalah sentilan kecil dari Allah ketika manusia sudah terlalu mendewa-dewakan benda-benda fana.
Dalam buku Homo Deus itu pula, sang penulis menguraikan soal penyakit-penyakit yang muncul. Menurutnya, semua penyakit hanya karena gejala-gejala alam semesta secara natural. Tidak ada campur tangan sang pencipta di sana. Bahwa penyakit-penyakit itu akan musnah ketika ilmu pengetahuan terus mengalami kemajuan. Banyak juga narasi-narasi yang menggugat agama seolah-olah agama penghambat kemajuan teknologi.
Bukan hal baru, bahwa ilmuwan-ilmuwan kesohor banyak yang sudah tidak lagi mempercayai adanya tuhan. Tuhan adalah dongeng untuk mereka. Yuval Noah Harari pengarang buku ini pun demikian. Dia adalah Atheis alias tidak lagi mempercayai Tuhan. Entah dalam pikirannya Tuhan diposisikan di mana hanya dia dan Tuhan yang tidak dipercayainya lah yang tahu.
Membaca buku ini mungkin bagus bagi sebagian orang yang juga menganut pemikiran yang sama dengan penulis, banyak sejarah juga di sana meskipun digambarkan dengan narasi-narasi dan banyak pula memuat ramalan-ramalan masa depan.
Namun, hendaknya yang membaca buku ini adalah orang-orang yang sudah memiliki kapasitas pengetahuan dan agama yang kokoh agar tidak termakan jargon-jargon sesatnya.
Kita boleh membacanya dan tidak perlu mempercayai semua yang tertulis. Sekadar mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan barat bukan untuk meyakininya. Ilmu pengetahuan harusnya tidak perlu menyudutkan agama. Saya sendiri, ketika berhadapan dengan ilmu pengetahuan saya akan mendahulukan agama sebab saya sudah melihat sepanjang hidup saya bahwa alam semesta tidak mungkin tercipta dari mikroba atau apalah namanya itu. Bagaimana mungkin malam dan siang bisa begitu teratur berputar tanpa ada yang mengatur?
Mudah saja mendapatkan kekuasaan Tuhan dalam diri kita. Delapan miliar manusia, semua lahir dengan begitu berbeda-beda dan unik. Manusia punya tangan, kaki dan alat-alat fisiologi yang lengkap adalah gambaran kekuasaan Allah, tuhan semesta Alam.
Menjadi intelektual itu, tidak perlu menjadi Atheis, sebab hidup kita sangat rapuh tanpa agama dan Tuhan. Kita bisa pintar dan cerdas dengan tetap berpegang teguh terhadap keyakinan kita. Buku Homo Deus, adalah buku yang dipuja-puja banyak orang. Namun, saya melihat lebih banyak narasi ketimbang fakta-fakta sejarah, provokatif dan begitu narsis akan kecerdasan manusia. Padahal semua manusia tidak ada yang bisa hidup abadi.
Buku ini mengingatkan saya kepada kisah Musa yang ada dalam Al Qur'an. Firaun yang bahkan mengeklaim dirinya sebagai Tuhan, sibuk berteriak-teriak meminta pertolongan Tuhan Musa dan Harun ketika hampir tenggelam di lautan yang dibelah oleh tongkat Musa. Jangan kita mengulang kisah di atas, Allah menyelamatkan jasad Firaun untuk jadi pelajaran sepanjang masa, bahwa kesombongan terhadap Tuhan hanya akan menuai nestapa.
Jadilah cerdas tanpa arogan, sebab kita hanyalah butiran debu di alam semesta.
