Konten dari Pengguna

MBG, PISA, dan Pencapaian Visi Indonesia Emas

Waode Nurmuhaemin

Waode Nurmuhaemin

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MBG, PISA, dan Pencapaian Visi Indonesia Emas
zoom-in-whitePerbesar

Selama hampir 25 tahun Indonesia berpartisipasi dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Namun hasilnya relatif stagnan. Dari satu siklus ke siklus berikutnya, posisi Indonesia masih berada di kelompok 10 hingga 12 terbawah dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Fakta ini tidak cukup dijelaskan sebagai persoalan kurikulum atau metode mengajar semata, melainkan menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Respons terhadap hasil PISA selama ini kerap berfokus pada perubahan kurikulum, asesmen, dan peningkatan kompetensi guru. Semua itu penting, tetapi sering mengabaikan prasyarat paling dasar dari proses belajar, yakni kesiapan fisik dan biologis peserta didik. Anak yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar atau kekurangan gizi tidak berada pada posisi setara untuk menyerap pembelajaran, apalagi menyelesaikan soal-soal PISA yang menuntut konsentrasi dan penalaran tingkat tinggi.

Pengalaman negara maju menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar anak dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan pendidikan. Finlandia, misalnya, telah menyediakan makan siang gratis dan bergizi bagi seluruh siswa sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasionalnya sejak 1940-an. Program ini dijamin oleh negara dan berlaku universal, tanpa seleksi berdasarkan status ekonomi. Makan siang sekolah di Finlandia tidak ditempatkan sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai sarana memastikan setiap anak belajar dalam kondisi fisik yang siap dan setara.

Pendekatan tersebut mencerminkan pemahaman bahwa kesetaraan pendidikan tidak dimulai dari ruang kelas, melainkan dari kondisi dasar anak ketika duduk di bangku sekolah. Dengan memastikan semua siswa mendapat asupan gizi yang memadai, negara mengurangi kesenjangan kemampuan awal dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil.

Dalam diskursus global, China juga sering dikutip sebagai contoh capaian tinggi PISA. Namun capaian tersebut perlu dibaca secara kontekstual. Pada PISA 2009, China hanya menyertakan Shanghai dan langsung mencatatkan hasil yang tinggi di dunia. Pada siklus berikutnya, cakupan diperluas secara selektif. Hingga PISA 2018, yang dilaporkan sebagai capaian China merupakan hasil dari empat wilayah paling maju, yakni Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang (B-S-J-Z).

Pendekatan ini membuat China tampil sangat unggul karena wilayah yang diikutsertakan merupakan daerah urban dan makmur, dengan dukungan ekonomi, kesehatan, gizi, serta infrastruktur pendidikan yang kuat. Artinya, hasil tersebut mencerminkan kualitas pendidikan dari wilayah terbaik, bukan gambaran rata-rata nasional seluruh China. Strategi ini sah secara metodologis, tetapi menegaskan satu hal penting yaitu kondisi kesejahteraan peserta didik sangat menentukan capaian asesmen internasional.

Indonesia mengambil pendekatan yang jauh lebih inklusif. Keragaman sosial yang luas termasuk daerah miskin dan wilayah dengan kerawanan pangan ikut masuk dalam sistem penilaian yang sama. Konsekuensinya, kesenjangan kemampuan awal peserta didik menjadi sangat nyata. Dalam kondisi seperti ini, peningkatan peringkat PISA tidak mungkin dicapai hanya melalui reformasi pedagogik, tanpa memperbaiki fondasi kesejahteraan anak.

Di sinilah program Makan Bergizi Gratis (MBG) menemukan relevansi strategisnya. MBG bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan intervensi struktural yang menyentuh akar persoalan pembelajaran. Kecukupan gizi berpengaruh langsung terhadap daya fokus, memori kerja, stabilitas emosi, dan kemampuan berpikir abstrak yang merupakan kompetensi inti yang diuji dalam PISA.

Visi Indonesia Emas 2045 menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pilar utama. Generasi yang akan berada di usia produktif pada tahun tersebut adalah Generasi Alpha, anak-anak yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Apa yang mereka konsumsi hari ini akan membentuk cara mereka berpikir, bekerja, dan berinovasi dua dekade mendatang.

Jika MBG dijalankan secara konsisten, akuntabel, dan menjangkau kelompok paling rentan, maka dampaknya tidak hanya terlihat pada penurunan stunting atau peningkatan kehadiran sekolah. Dalam jangka panjang, kebijakan ini berpotensi memperbaiki kualitas kognitif generasi muda, yang secara bertahap tercermin dalam capaian PISA.

Pengalaman Finlandia dan cara China menyertakan wilayah terbaiknya memberi pelajaran yang sama bahwa pendidikan unggul tidak lahir dari ruang kelas semata, tetapi dari kebijakan negara yang memastikan anak-anaknya tumbuh sehat dan siap belajar. Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukan sekadar target waktu, melainkan hasil dari keputusan-keputusan hari ini