Melawan Syndrom I Hate Monday

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Entah mengapa banyak yang membenci hari Senin. Kalau bisa hari Senin dihilangkan saja dari kalender. Saya juga yang pekerja kantoran, biasanya memasuki hari Minggu sore rasa-rasanya mulai diserang sindrom I hate Monday ini.
Malas beranjak dari santainya hari Sabtu dan Minggu. Setelah saya lihat dan telisik mengapa begitu banyak kebencian dialamatkan kepada hari senin adalah karena kita kurang bersyukur saja dengan keadaan.
Kemarin sehabis raker saya melihat seorang perempuan menjadi petugas kebersihan. Sampah-sampah yang busuk dan sangat banyak diangkutnya ke mobil truk yang tinggi. Lalat-lalat berterbangan ke sana dan kemari.
Tanpa banyak peduli dia menghabiskan gunungan sampah yang entah yang keberapa. Saya tau gajinya pasti tidak besar. Namun, mungkin hanya itulah pekerjaan yang ada dan tersedia. Sehingga malu rasanya saya masih juga mengutuk senin dan malas menghadapi hari awal di tiap minggunya itu.
Kenyamanan memang membuat orang manja. Merasa paling malang sudah sifat manusia. Padahal manusia lain hidup dari sampah-sampah yang kotor. Merutuki senin hanya akan membuat mindset kita mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh untuk membenci senin. Padahal kalau kita mau, konsep happy Monday harusnya kita terapkan sejak hari jumatnya sehingga kita antusias dan tidak sabar bertemu dengan hari Senin.
Senin adalah hari baru untuk mengeksekusi rencana kita seminggu ke depan. Senin juga yang merupakan garis start untuk memperbaiki kesalahan satu minggu yang kita sudah lalui. Pendek kata Senin adalah hari yang luar biasa. Memusuhi hari Senin perlu kita hilangkan dari pikiran kita dan menggantinya dengan mencintai hari Senin.
Pada hari Sabtu dan Minggu, kita sudah harus mulai melihat list dan daftar kemajuan kita yang kita buat di awal tahun atau awal bulan. Lebih bagus kalau per minggu biar bisa terpantau secara detail pencapaiannya. Kita menjadikan harI Senin sebagai patokannya.
Biasanya kalau kita sudah bisa melewati Senin dengan produktif, hari-hari lain juga akan demikian. Selasa, Rabu akan kita lewati dengan sukses, demikian juga dengan Kamis dan Jumat. Sehingga pekan-pekan kita tidak berlalu sia-sia saja.
Bersyukur adalah kunci kita bisa melewati Senin dengan gembira. Bayangkan uring-uringan menjalankan pekerjaan yang kita miliki yang merupakan mimpi jutaan orang. Di tengah-tengah resesi ekonomi dan badai PHK, masih bisa berangkat kerja pada hari Senin adalah sebuah kemewahan dan jangan hancurkan dengan sikap manja yang tidak beralasan.
"I Hate Monday" hanya akal-akalan orang yang sudah sangat kaya" yang tidak perlu bekerja. Sehingga Senin atau Sabtu sama saja untuk mereka. Untuk kita para rakyat jelata yang hidupnya dihimpit cicilan, tidak usah sok-sok "I Hate Monday" berat kamu tidak akan sanggup, gantilah dengan I love Monday, lebih masuk akal.
