Nothing Is Impossible: Dear yang Muda-Muda, Kuliahlah ke Luar Negeri

Waode Nurmuhaemin
Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan
Konten dari Pengguna
8 Agustus 2023 12:45 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Shutterstock Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock Foto
ADVERTISEMENT
Manusia itu diciptakan untuk tahan banting. Demikian yang saya dapatkan dalam pelajaran bukan di kelas. Saya sudah menamatkan semua jenjang pendidikan. Mulai dari S1, S2, dan S3. Sebagian di dalam negeri dan sebagian di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Saya kuliah S1 di dalam negeri karena hanya di situlah kemampuan orang tua saya menyekolahkan saya. S2 di luar negeri walaupun dekat saja, namun kampus-kampus di sana rangkingnya malahan mengalahkan banyak kampus-kampus di Eropa dan Amerika.
S3 saya kuliah dalam negeri, karena saya bukan dosen dan beasiswa yang sangat banyak itu menyediakan S3 untuk para dosen. Ada juga yang kelas master, namun terbatas. LPDP juga menyediakan untuk yang bukan dosen namun, tidak sejor-joran dosen.
Dosen sangat dimanja di negeri ini. Mau ke mana saja monggo. Kerja sama Kemdikbud Ristek dengan universitas-universitas unggulan begitu dahsyat. Walhasil, saya memilih kuliah S3 dalam negeri.
Kalau dari pandangan saya, kuliah S1 bagus kalau dalam negeri. Mengapa? Karena S1 masih di umur-umur labil dan belum mengenali sistem perkuliahan itu bagaimana. Terlebih jika orang tua kita memang berkantong pas-pasan.
ADVERTISEMENT
Begitu kita masuk dunia perkuliahan, kita akan paham sendiri dan akan kurang-lebih sama kuliah S1, S2, dan S3 dalam negeri akan kita pahami sendiri. Beda dengan luar negeri.
Ilustrasi mahasiswa ujian. Foto: exam student/Shutterstock
Saat ini semua orang bisa menjangkau dan berpeluang ke Harvard, Cornell, Standford, Yale, Cambridge, Oxford asal pintar sedikit dan gigih sedikit. Nama-nama besar kampus itu kerap saya baca—waktu saya SMP dahulu—dari riwayat-riwayat hidup para ilmuwan yang saya baca biografinya di sampul belakang buku yang mereka tulis.
Banyak sastrawan kita yang juga dosen-dosen kampus ternama tahun 90-an sudah mencicipi kampus-kampus bergengsi tersebut. Ada Umar Kayam yang kemudian menulis Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Ada juga Budi Darma yang menulis novel Orang-Orang Bloomington, dan masih banyak lagi.
ADVERTISEMENT
Saya yang masih duduk di bangku SMP waktu itu terbayang-bayang bagaimana mereka kuliah di tempat-tempat jauh dan canggih serta modern. Apakah saya juga bisa ke sana?
Saat ini, beasiswa berhamburan laksana daun-daun di musim gugur. Bahkan, kemarin saya mengikuti sosialiasi beasiswa baru dari pemerintah Australia. Kalau bukan ASN, sudah saya apply beasiswa-beasiswa tersebut. Sayangnya, ASN tidak membolehkan kuliah dobel-dobel untuk semua jenjang.
Saya sangat menyayangkan anak-anak muda yang tidak memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang berseliweran. Cari kerja saat ini begitu susah, namun jika kita memegang gelar master dari luar negeri, bukan hanya pekerjaan yang didapat, namun wawasan dan jaringan internasional akan terbuka.
Ada yang beralasan, "saya tidak mungkin bisa". Kamu tidak bisa karena kamu sudah mengatakan demikian. Dibenarkan oleh otak dan sel-sel pemikiranmu.
Ilustrasi mahasiswa. Foto: shutterstock
Kendala bahasa? Ada ibu-ibu yang bahkan tidak bisa membaca tinggal di Amerika enam bulan, dia langsung bisa lancar bahasa Inggris. Apalagi saat ini, sumber belajar luar biasa banyak.
ADVERTISEMENT
Percayalah para anak muda, kuliah S2 dan S3 di luar negeri itu worth it untuk diperjuangkan. Jangan terpaku kuliah dalam-dalam negeri terus kalau tidak mau seperti katak dalam tempurung.
Kuliah S3 dalam negeri, kamu semua perlu segudang kesiapan mental dan juga uang. Bersiaplah untuk hatimu porak-poranda untuk berbagai peristiwa.
Saya tidak katakan bahwa kuliah ke luar negeri cobaannya sedikit, minimal di sana ada nilai plus-plusnya. Kampus-kampus kelas dunia tentu saja tidak hanya menjual nama. Namun juga tradisi keilmuan yang berabad. Dan satu lagi, bahasa asing internasional kalian akan sangat lancar.
Kuliah dalam negeri itu, setelah S1 ada banyak sisi menantang yang harus kalian urai. Kita masih akan bertemu dengan sesama kita. Kita akan banyak bertemu orang-orang yang akan mematahkan hati kita dan kita pun akan mematahkan hati mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia sehingga pulihnya akan lama sekali.
ADVERTISEMENT
Kalau di luar negeri, kita akan berpikir-pikir sebelum bertindak. Ada banyak hal yang harus kita pelajari: budaya, bahasa, bahkan materi kuliah—yang akan mengurangi kita melakukan kegiatan-kegiatan nir manfaat.
com-Ilustrasi Lulus Kuliah Foto: Shutterstock
Terlebih kuliah S3 dalam negeri, kalau tidak cepat kelar ancaman bangkrut melanda. Banyak yang kuliah S3 dalam negeri harus menjual aset agar bisa selesai dan yang kuliah luar negeri malahan pulang-pulang beli rumah atau mobil.
Begitu banyak plus-plusnya kuliah S2 dan S3 di luar negeri sehingga yang menyerah duluan sebelum mencoba bisa dikatakan rugi. Tidak ada yang tidak mungkin. Selama ada kemauan, di situ ada jalan.
Kuliah S3 dalam negeri juga cenderung melankolis. Karena budaya itulah yang kita jalani. Suasana kebatinan tidak terlalu naik ke level atas. Malahan sering kelelahan ditaburi banyak drama dan juga hal-hal yang kurang bisa dinalar-nalar. Banyak yang "di luar nurul" kalau bahasa plesetan anak-anak muda sekarang.
ADVERTISEMENT
Menyelesaikan S2 dan S3 negeri dalam negeri itu, ibarat lagu dangdut dari mendiang Meggy Z yang penggalan liriknya "jatuh-bangun aku mengejarmu, namun dirimu tak mau mengerti". Atau kalau di luar negeri "i love you to the moon and back".
Saat ini kita semua dituntut menjadi warga dunia yang tidak lagi mengenal batasan. Pemahaman akan perkembangan dunia internasional adalah suatu keniscayaan. Polarisasi-polarasisi baru antar negara, dan benua kerap tercipta. Menjadi orang muda yang energik dan paham perkembangan global adalah suatu hal yang perlu diupayakan.
Ilustrasi kuliah di luar negeri. Foto: Shutter Stock
Saya sendiri, meskipun tinggal jauh dari inggar-bingar ibu kota. namun saya berupaya mengikuti event-event internasional. Sekurang-kurangya saya tau jumlah penduduk Bumi sudah di kisaran 8 miliar, bahwa Laut China Selatan makin bergejolak, dan BRIC makin menarik negara-negara lain untuk bergabung.
ADVERTISEMENT
Atau, setidaknya saya juga tau India membuat dunia ketar-ketir dengan melarang ekspor beras non basmati. Juga terkait Amerika yang masih begitu tergila-gila untuk berjumpa Alien. Sehingga perlombaan-perlombaan eksplorasi ruang angkasa makin nyeleneh saja dan kadang-kadang tidak bisa definisikan.
Dengan banyaknya kesempatan-kesempatan yang saat ini diperuntukkan untuk kaum-kaum muda, harusnya kesempatan yang ada bisa dimanfaatkan. Umur-umur 20-25 tahun, alangkah ruginya jika dipakai untuk berfoya-foya dan membuang-buang waktu.
Jadilah anak-anak muda yang haus ilmu, bukan haus sensasi. Stay logis!