Konten dari Pengguna

Oppenheimer, Kutukan Kecerdasan: Penyesalan Tak Berujung

Waode Nurmuhaemin

Waode Nurmuhaemin

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Shutterstock Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Shutterstock Foto

Di bioskop-bioskop Indonesia lagi tayang dan lagi heboh film Oppenheimer dari kisah nyata tentang Robert Oppenheimer. Konon katanya ada pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan kita yang ternyata tidak ada. Maklum saja, pengeboman Hiroshima dan Nagasaki juga berkaitan dengan Indonesia yang waktu itu masih dijajah Jepang.

Kisah ini bertutur tentang perjalanan seorang ilmuwan yang memiliki peran penting dalam pengembangan bom atom selama Proyek Manhattan selama Perang Dunia II. Ia memimpin tim ilmuwan yang berhasil menciptakan bom atom yang pertama kali diuji coba pada Juli 1945 di Alamogordo, New Mexico, AS.

Namun, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, ia menjadi sangat terkenal dan berat moralitasnya terhadap konsekuensi penggunaan senjata nuklir.

J. Robert Oppenheimer adalah seorang ilmuwan yang memainkan peran kunci dalam pengembangan bom atom selama Proyek Manhattan selama Perang Dunia II. Pada Juli 1945, tim ilmuwan yang dipimpin oleh Oppenheimer berhasil menguji coba bom atom pertama, yang dikenal sebagai "Trinity" di Alamogordo, New Mexico, AS.

com-Ilustrasi peneliti Foto: Shutterstock

Sayangnya, hasil dari penelitian dan pengembangan senjata ini menyebabkan tragedi yang mengerikan bagi kemanusiaan ketika bom atom pertama kali digunakan dalam konteks peperangan.

Pada 6 Agustus 1945, pesawat Amerika Serikat menjatuhkan bom atom "Little Boy" di kota Hiroshima, Jepang, dan tiga hari kemudian pada 9 Agustus 1945, bom atom "Fat Man" dijatuhkan di kota Nagasaki, Jepang.

Ledakan dari bom atom menyebabkan kematian massal dan kehancuran yang sangat besar di kedua kota tersebut. Ribuan orang tewas seketika, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka serius.

Selain itu, dampak radiasi dari bom atom menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan bagi warga yang selamat, termasuk berbagai penyakit dan kelainan genetik.

Dampak mengerikan dari pengeboman Hiroshima dan Nagasaki membuat dunia menyadari kekuatan mengerikan senjata nuklir dan berdampak pada perdebatan etika tentang penggunaannya.

Ilustrasi bom atom Hiroshima. Foto: Photo12/Universal Images Group via Getty Images

Kejadian ini juga memicu ketakutan akan perang nuklir dan mendorong upaya internasional untuk mengendalikan penyebaran senjata nuklir serta mencari cara-cara damai untuk menyelesaikan konflik.

Peristiwa tragis ini juga menginspirasi upaya untuk mencapai perdamaian dunia dan menjaga agar senjata nuklir tidak digunakan dalam peperangan.

Warisannya terus menjadi pengingat bagi dunia tentang pentingnya menjaga perdamaian dan menghindari kekerasan dalam menyelesaikan konflik, serta pentingnya etika dalam penelitian dan pengembangan teknologi yang dapat membawa dampak besar bagi kemanusiaan.

Salah satu kutipan terkenal yang sering dikaitkan dengan J. Robert Oppenheimer adalah ketika dia mengutip kutipan dari kitab Mahabharata setelah melihat keberhasilan uji coba Trinity (percobaan bom atom pertama).

Kutipannya adalah, "Sekarang saya menjadi kematian, pemusnah dunia," yang mencerminkan refleksi mendalam tentang dampak mengerikan dari senjata nuklir yang diciptakannya.

Uji coba bom atom di Bikini Atoll, Kepulauan Marshall, AS pada 25 Juli 1946 Foto: Shutter Stock

Setelah perang berakhir, Oppenheimer menjadi penasihat pemerintah AS dalam pengembangan senjata nuklir. Namun, pada tahun 1954, ia dikecam oleh pemerintah AS karena dicurigai memiliki hubungan dengan anggota partai komunis dan dijatuhkan dari posisinya. Hal ini menyebabkan keputusasaan dan penyesalan dalam hidupnya.

Oppenheimer hidup dengan perasaan penyesalan yang tak berujung atas perannya dalam pengembangan senjata nuklir dan dampaknya pada kemanusiaan.

Dia terus berjuang untuk mendorong kontrol senjata dan penyebaran nuklir dan menjadi aktif dalam mendukung usaha-usaha perdamaian dunia. Meskipun dihadapkan pada banyak kontroversi, ia tetap dihormati sebagai salah satu ilmuwan paling brilian dan kompleks dalam sejarah modern.

J. Robert Oppenheimer meninggal pada tahun 1967, dan warisannya terus menjadi pembelajaran bagi dunia tentang pentingnya etika dalam penelitian dan pengembangan ilmiah, serta dampak besar dari teknologi dan penemuan dalam konteks kemanusiaan secara keseluruhan.

Orang-orang cerdas kerap mengalami tragedi dalam hidup mereka. Kecerdasan nyatanya hanya membawa malapetaka jika tidak dibarengi agama.

Ilustrasi saraf otak. Foto: Andrii Vodolazhskyi/Shutterstock

Sejatinya manusia di hadapan Allah hanyalah makhluk lemah yang dibekali akal untuk menimbang kebaikan dan keburukan perilakunya. Menjadi cerdas itu anugerah. Menjadi jahat itu malapetaka.

Dan, kombinasi cerdas dan jahat hancurlah dunia. Seperti kisah Oppenheimer, banyak pelajaran yang bisa diambil salah satunya jadilah cerdas tanpa ambisi merusak.