Konten dari Pengguna

Tentang Kita yang Kerap Kali Terjebak Kenangan dalam Hujan

Waode Nurmuhaemin

Waode Nurmuhaemin

Doktor Manajemen Pendidikan , Penulis Artikel dan Buku Pendidikan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Waode Nurmuhaemin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Unplash Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Unplash Foto

Kemarin sore saat jam pulang kantor, hujan lebat mendadak mengguyur kotaku. Alhasil saya yang sudah separuh jalan memutuskan mampir di toko buku kecil yang berhadapan dengan taman kota yang juga menjual minuman dan makanan ringan.

Saya memesan teh dan roti bakar. Hanya ada beberapa pengunjung. Sambil menikmati teh dan roti, saya melihat-lihat keluar. Namun, yang muncul di hadapan saya hanya potongan-potongan kenangan yang silih berganti.

Rinai hujan memang kerap menimbulkan rasa sendu. Saya pernah melewati musim-musim bersalju. Namun tidak ada yang mengalahkan romantisme hujan. Hujan yang menyimpan kenang-kenangan masa kanak-kanak saya. Masa yang terbaik dan belum berat memikul beban hidup. Setiap hujan, saya akan bermain-main di bawah derasnya air hujan. Derai hujan yang tetap sama dengan yang kemarin.

Tiba-tiba saya tersadar, melihat seorang ibu yang menarik gerobak berbasah-basah kuyup dengan dua anaknya yang masih kecil. Mereka melangkah seolah-olah tanpa beban di tengah guyuran hujan deras. Mungkin mereka mengutuk hujan, mungkin juga hanya berdiam. Entahlah, saya hanya membayangkan jika saya yang diposisi mereka.

Apakah saya tidak akan menyerah dengan hidup? Mengingat saya yang begitu suka mengeluh dengan sedikit saja kesusahan. Orang-orang yang ada dalam toko buku terpaku pada kenangan dan pikiran masing-masing. Sapardi Djoko Damono, pernah mengenang hujan sebagai sesuatu yang tabah.

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu," —Sapardi Djoko Damono.

Meskipun saat ini bukan bulan Juni, namun hujan tetaplah hujan. Banyak kenangan yang menyertainya. Hujan mengajarkan bahwa meskipun kehadirannya kadang dirutuki, namun tetes-tetes airnya juga dimohon oleh berjuta-juta orang di muka Bumi.

Tanpa kehadiran hujan, Bumi akan kerontang. Panen-panen akan gagal, musim-musim akan kacau. Hujan juga menyejukkan banyak hati. Apapun itu, saya pribadi suka dengan hujan. Pada bau-bau tanahnya yang khas.

Hujan menitipkan banyak cerita. Saya sering menerobos hujan, menuju rumah sakit menjaga ayah saya selama dua bulan sebelum beliau berpulang. Bunyi hujan menemani saya melintasi lorong-lorong rumah sakit.

Dengan sejuta alasan, tidak heran kita semua kerap terjebak dalam kenangan bersama hujan. Hujan yang dirutuki sebagian orang, juga dinanti oleh sebagian orang. Terutama oleh mereka-mereka yang pernah ditemani oleh hujan di saat-saat menghadapi masalah hidup yang berat-berat. Hujan akan terus turun, bersama rinai-rinainnya yang membawa segala kenangan.