Apa Itu Lempeng Bumi, Teori, dan Jenis-jenisnya

Artikel yang menjelaskan pengertian dari sebuah istilah.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pengertian dan Istilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat belajar tentang proses pembentukan permukaan bumi, gempa, hingga gunung meletus, lempeng bumi menjadi hal yang kerap dibahas. Sebenarnya, apa itu lempeng bumi?
Sebab, lempeng memiliki dampak besar terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi. Di sisi lain, ada beberapa jenis lempeng yang ada di bumi yang terus bergerak dan menghasilkan berbagai kejadian alam.
Penjelasan Apa Itu Lempeng Bumi
Dikutip dari buku Ensiklopedia Pintar Pertamaku Bumi oleh Claudia Martin, (2023), apa itu lempeng bumi merupakan lapisan luar bumi yang terdiri dari batu raksasa dengan ketebalan mencapai 100 sampai 200 km.
Lempeng bumi mengambang di bagian permukaan atas mantel bumi yang di beberapa bagian meleleh karena panas. Dalam satu tahun, lempeng bumi selalu mengalami pergerakan sampai 10 cm hingga membentuk lekukan, lipatan hingga patahan.
Bumi memiliki beberapa lempeng besar dan beberapa lempeng kecil. Untuk lempeng utama terbagi menjadi tujuh jenis, yakni:
Lempeng Pasifik
Lempeng Antartika
Lempeng Australia
Lempeng Afrika
Lempeng Eurasia
Lempeng Amerika Utara
Lempeng Amerika Selatan
Semua lempeng tersebut bisa saling mendekat atau menjauh satu sama lain seperti. Hal ini karena bagian tepinya terendam di bawah lumpur, batuan baru, dan air. Ahli geologi menyebutkan bahwa bagian tepi lempeng disebut dengan batas lempeng yang saling bergesekan.
Teori Lempeng Bumi
Secara umum, terdapat tiga jenis teori pergerakan lempeng berupa divergen, konvergen, dan konservatif.
1. Divergen
Divergen adalah pergerakan yang terjadi karena lempeng saling menjauh satu sama lain atau disebut dengan zona pertambahan maupun pembuatan lempeng.
Ketika lempeng terpecah, lapisan litosfer bumi akan menipis dan membelah sehingga membentuk batas divergen.
2. Konvergen
Teori ini terjadi karena lempeng bergerak saling berdekatan sehingga mengakibatkan tumbukan. Akibatnya adalah lempeng akan naik dan tertelan ke bawah. Proses ini menghasilkan zona tunjaman atau zona subduksi hingga menghasilkan gunung atau palung laut.
3. Konservatif
Pergerakan lempeng ini dikenal sebagai batas geser atau batas transform. Berbeda dengan teori lempeng divergen yang menghasilkan menghasilkan litosfer baru, teori konservatif tidak menghasilkan litosfer baru.
Sebab, lempeng ini bergerak secara lateral atau mendatar satu sama lain yang ditandai dengan adanya patahan. Singkatnya, teori konservatif pergerakan lempengnya berlawanan arah seperti lalu lintas dua arah.
Jenis Lempeng Bumi
Lempeng bumi terbagi menjadi dua jenis, yakni lempeng benua dan lempeng samudra.
Lempeng benua memiliki ketebalan 125 km dan bisa lebih tebal pada daerah pegunungan. Lempeng ini terbentuk dari batuan yang keras dan berumur tua.
Lempeng samudra memiliki ketebalan lebih tipis, yakni 50 hingga 100 km. Bahkan, beberapa tempat memiliki ketebalan yang lebih tipis. Lempeng samudra terbentuk dari batuan yang tidak sekeras lempeng benua dan cenderung lebih muda.
Sehingga, ketika keduanya bertabrakan, lempeng samudra lebih rapuh dan menekuk ke bawah untuk menghujam ke bumi.
Baca Juga: Pengertian Penginderaan Jauh, Cara Kerja, dan Keunggulannya
Sekarang sudah tahu apa itu lempeng bumi, teori, dan jenisnya bukan? Dengan begitu dapat mengetahui bagaimana gunung terbentuk dan terjadinya gempa bumi yang sering terjadi di Indonesia yang berada di lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.(MZM)
