Konten dari Pengguna

Arti Kolektif dalam Psikologi Sosial dan Contoh Perilakunya

Pengertian dan Istilah

Pengertian dan Istilah

Artikel yang menjelaskan pengertian dari sebuah istilah.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pengertian dan Istilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arti Kolektif dalam Psikologi Sosial. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Arti Kolektif dalam Psikologi Sosial. Foto: Pexels

Arti kolektif menurut KBBI adalah secara bersama atau secara gabungan. Dalam psikologi sosial, konsep kolektif merujuk pada fenomena perilaku dan pengambilan keputusan dalam kelompok.

Untuk memahami perilaku kolektif dalam psikologi sosial, simak pembahasannya di bawah ini.

Pengertian Perilaku Kolektif

Pengertian Perilaku Kolektif. Foto: Unsplash

Perilaku kolektif adalah istilah yang digunakan sosiolog dan merujuk pada serangkaian perilaku yang melibatkan banyak orang.

Lebih khusus lagi, perilaku kolektif mengacu pada perilaku yang relatif spontan dan relatif tidak terstruktur yang dilakukan sejumlah besar individu karena dipengaruhi individu lain.

Relatif spontan berarti bahwa perilaku tersebut agak spontan tetapi juga agak terencana, sedangkan relatif tidak terstruktur berarti bahwa perilaku tersebut agak terorganisir dan dapat diprediksi tetapi juga agak tidak terorganisir dan tidak dapat diprediksi.

Sementara menurut sosiolog Neil Smelser (2007) perilaku kolektif adalah serangkaian peristiwa atau tindakan yang muncul dari interaksi individu dan kelompok sebagai respons terhadap situasi atau stimulus umum.

Perilaku tersebut biasanya tidak terencana, tidak dilembagakan, dan tidak normatif, artinya tidak mengikuti aturan atau konvensi perilaku yang telah ditetapkan. Smelser menambahkan bahwa perilaku kolektif mencerminkan masalah sosial, ekonomi, dan politik masyarakat yang lebih luas.

Baca Juga: Arti Kolektif dalam Berbagai Aspek di Era Modern

Contoh Perilaku Kolektif

Contoh Perilaku Kolektif. Foto: Unsplash

Berikut beberapa contoh perilaku kolektif yang telah terjadi di dunia.

1. Tren Pokémon Go

Setelah dirilis pada tahun 2016, Pokemon Go menjadi kegemaran banyak orang di seluruh dunia. Pokémon Go adalah game seluler yang menggunakan AR (augmented reality) untuk memungkinkan pemain menangkap Pokémon di dunia nyata.

Game ini diunduh oleh jutaan orang. Beberapa orang menjadi begitu asyik bermain sehingga mereka mengabaikan lingkungan sekitar dan menempatkan diri mereka dalam bahaya.

2. Kerusuhan Los Angeles (1992)

Kerusuhan Los Angeles dikenal juga sebagai kerusuhan Rodney King. Ini adalah serangkaian kerusuhan sipil yang terjadi pada bulan April-Mei 1992.

Peristiwa tersebut dimulai setelah juri membebaskan empat petugas LAPD yang melakukan pemukulan berlebihan terhadap seorang pria Afrika-Amerika, Rodney King.

Terjadi penjarahan, pembakaran, dan penyerangan yang meluas, yang baru dapat diselesaikan setelah intervensi militer AS dan lembaga penegak hukum federal.

3. Pengadilan Penyihir Salem

Pengadilan Penyihir Salem pada abad ke-17 adalah contoh histeria massal. Kejadian ini dipicu oleh xenofobia, ekstremisme agama, dan ketegangan sosial yang berkepanjangan.

Pada kejadian ini, lebih dari 200 orang dituduh mempraktekkan ilmu sihir dan 20 orang dieksekusi.

4. The Tulip Mania

Di Belanda, permintaan umbi bunga tulip meningkat secara besar-besaran selama tahun 1630-an, dan hal ini menyebabkan harga umbi tulip mencapai tingkat yang sangat tinggi. Bahkan beberapa umbi tulip dijual dengan harga lebih dari harga sebuah rumah.

Hal ini sering dianggap sebagai gelembung spekulatif pertama yang tercatat dalam sejarah. Kegilaan ini pertama kali dimulai di kalangan saudagar kaya Belanda, menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, dan akhirnya gelembung tersebut pecah pada tahun 1637.

5. Keruntuhan Pasar Saham tahun 1929

Ini adalah kehancuran paling dahsyat dalam sejarah AS. Pada tahun 1920-an, Amerika menikmati kemakmuran ekonomi dengan pasar saham yang berkembang pesat.

Banyak orang mulai berinvestasi, dan semakin banyak orang berinvestasi, harga saham terus meningkat. Namun, pada akhirnya, pasar menjadi dinilai terlalu tinggi, dan orang-orang bergegas menjual sahamnya. Pasar akhirnya runtuh, menyebabkan depresi berat selama bertahun-tahun.

(DEL)