Pengertian Biogeografi dan Aspek yang Dapat Mempengaruhinya

Artikel yang menjelaskan pengertian dari sebuah istilah.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pengertian dan Istilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Biogeografi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang makluk hidup yang ada di permukaan bumi.
Pengertian biogeografi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ilmu tentang penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi.
Biogeografi dapat dipengaruhi oleh aspek fisik dan faktor nonfisik. Untuk mengetahui penjelasannya lebih lanjut, simak penjelasannya di bawah sini.
Memahami Pengertian Biogeografi
Mengutip buku Modul Pembelajaran Biogeografi oleh Alwin, M.Pd, biogeografi terdiri dari dua kata, yakni “bios” dan “geografi”. Bios artinya hidup atau makhluk hidup. Sedangkan geografi adalah studi fenomena yang terjadi di muka bumi atau dikatakan sebagai perantara antara manusia dengan lingkungan.
Menurut Alfred Russel Wallace, biogeografi adalah ilmu tentang bagaimana penyebaran spesies-spesies (hewan dan tumbuhan) di permukaan bumi dan bagaimana penyebaran itu terjadi.
Michael Ritter mendefinisikan biogeograsi sebagai ilmu yang mempelajari pola serta (secara) geografi tentang tumbuhan dan hewan agar dapat diketahui persebaran hewan dan tumbuhan tersebut di permukaan bumi berdasarkan ilmu ekologi dan ekosistem.
Sedangkan Brow, James H. dan Mark V. Lomolio, mengatakan bahwa biogeografi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang bagaimana hewan dan tumbuhan hidup di berbagai tempat yang berbeda di bumi.
Biogeografi dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek, baik aspek fisik maupun faktor nonfisik. Berikut penjelasan lengkapnya.
Aspek yang Mempengaruhi Biogeografi
Aspek biogeografi dikelompokan menjadi faktor fisik dan faktor non-fisik, di antaranya:
Faktor Fisik (Abiotik)
Curah hujan, di daerah intensitas hujan yang tinggi terjadi sepanjang tahun, maka terdapat vegatasi hujan yang mendominasi. Sebaliknya, semakin berkurang intensitas huja, maka tanaman yang ada berupa semak belukar atau padang rumput.
Suhu, keadaan suhu berbeda disebabkan pengaruhi dari intensitas penyinaran matahari. Semakin tinggi kelembaban suhu, maka semakin sedikit beragam jenis tanaman maupun hewan, dan begitu sebaliknya.
Kelembaban udara, jumlah kandungan uap air yang ada di udara dapat mempengaruhi persebaran tumbuhan dan hewan. Semakin lembab, maka jenis tumbuhan dan hewan semakin bervariatif.
Angin, angin besar dapat memengaruhi teknik evaporasi serta transpirasi pada flora.
Sinar matahari, untuk memenuhi kebutuhan zat hijau daun atau klorofil pada tumbuhan.
Tanah, tanah dapat mempengaruhi perkembangbiakan tumbuhan, hewan, bahkan lahan. Hal tersebut tergantung pada unsur hara, jenis tanah, dan tingkat kesuburan.
Relief (ketinggian tempat), tinggi rendahnya suatu permukaan bumi dapat memengaruhi kandungan kelembapan udara dan lama penyinaran matahari.
Faktor Non-Fisik (Biotik)
Flora, memiliki peran di dalam persebaran tumbuhan itu sendiri. Contohnya, tumbuhan yang bear dapat melindungi flora yang ada di sekitarnya.
Hewan, berperan dalam proses persebaran tumbuhan atau hewan itu sendiri. Misalnya, hewan memakan buah-buahan yang kemudian bijinya jatuh ke tempat lain (insekta) dan persebaran biji (burung, tupai, musak luwak).
Manusia, akal manusia berfungsi untuk mengambil sebuah tindakan yang dapat mengubah seluruh pertumbuhan dan kehidupan di muka bumi, contohnya tindakan pengairan, pemupukan, dan reboisasi.
Jaring-jaring makanan, jaring-jaring makanan memiliki peran penting dalam metode sirkulasi melalui rantai makanan. Hal tersebut berfungsi untuk mempertahankan hidup suatu populasi binatang maupun tanaman.
Kemampuan beradaptasi, adaptasi merupakan kemampuan organisme untuk menyesuaiikan diri dengan sesama makhluk hidup dan ekosistem untuk tetap hidup dengan baik.
(SNS)
