Pengertian Puisi Rakyat, Jenis serta Contohnya

Artikel yang menjelaskan pengertian dari sebuah istilah.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Pengertian dan Istilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kamu bingung dengan pengertian puisi rakyat? Wajar, sebab puisi rakyat memang berbeda dengan puisi modern yang sering kita temukan sekarang.
Puisi rakyat biasa juga disebut puisi lama. Yuk, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Puisi Rakyat?
Mengutip dari buku Mengenal Lebih Dekat "Puisi Rakyat" yang ditulis Sri Khairan Lubis, Supriadi, dan Rafika Rahmani, puisi rakyat adalah karya sastra yang di dalamnya terdapat beberapa jenis bait atau juga baris.
Selain itu, puisi rakyat juga terikat pada ketentuan-ketentuan, seperti jumlah suku kata, jumlah baris, jumlah bait, dan rima. Teks puisi rakyat juga umumnya mengandung nilai yang berkembang pada kehidupan masyarakat serta pesan warisan leluhur.
Baca Juga: Pengertian Struktur Fisik Puisi dan Struktur Batin Puisi
Jenis Puisi Rakyat
Berikut ini tiga jenis puisi rakyat yang wajib kamu ketahui.
1. Gurindam
Gurindam adalah puisi rakyat yang berasal dari India. Istilah gurindam pun berasal dari bahasa India, yaitu kirindam berarti "mulamula" atau "perumpamaan".
Berikut ini adalah ciri-ciri gurindam:
Gurindam memiliki ciri khas sebagai berikut:
Terdiri atas dua baris dalam sebait.
Tiap baris memiliki jumlah kata sekitar 10-14 kata.
Tiap baris memiliki rima sama atau bersajak A-A, B-B, C-C, dan seterusnya.
Merupakan satu kesatuan yang utuh.
Isi gurindam biasanya berupa nasihat, filosofi hidup atau kata-kata mutiara
Baris pertama berisi soal, masalah, atau perjanjian.
Baris kedua berisi jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama (isi atau maksud gurindam terdapat pada baris kedua).
Berikut contoh gurindam dikutip dari e-paper berjudul Kumpulan Contoh Gurindam dan Maknanya Lengkap Terbaik yang diunggah Ovi Riani melalui laman Scribd.
Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna yang takut.
Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan hati, tiadalah ia menyempurnakan janji.
Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma'rifat.
2. Pantun
Pantun adalah puisi rakyat yang teratur, arahannya mendidik, dan bentuk kesantunan. Pantun termasuk puisi Melayu yang mengakar di masyarakat.
Pantun dikenal dengan banyak nama di berbagai bahasa di Nusantara seperti tonton (bahasa Tagalog), tuntun (bahasa Jawa), pantun (bahasa Toba).
Adapun ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut:
Tiap bait terdiri dari 4 baris atau 4 larik.
Tiap baris terdiri atas 8-12 suku kata.
Rima akhir tiap baris adalah a-b-a-b.
Baris 1 dan 2 adalah sampiran.
Baris 3 dan 4 adalah isi.
Dikutip dari buku Kumpulan Pantun Cinta, Kasih Sayang, Persahabatan, Nasihat, Agama, Teka-teki, Jenaka (Lucu), dan Sedih (2020) oleh Prito Windiarto, berikut contoh pantun.
Buah apel buah stroberi
Dibawa ke pasar memakai keranjang
Perbaiki dahulu diri sendiri
Jangan mengejek dan menghujat orang
3. Syair
Syair berasal dari Persia dan dibawa masuk ke Nusantara bersama dengan masuknya Islam ke Indonesia. Istilah syair berasal dari bahasa arab, yaitu syi'ir atau syu'ur yang berarti "perasaan yang menyadari", kemudian kata syu'ur berkembang menjadi syi'ru yang berarti puisi dalam pengetahuan umum.
Dalam perkembangannya, syair mengalami perubahan sehingga menjadi khas Melayu. Jadi, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair Arab.
Berikut ciri-ciri syair:
Setiap bait terdiri dari empat baris.
Setiap baris terdiri atas 8-14 suku kata.
Bersajak a-a-a-a.
Semua baris adalah isi.
Bahasa yang digunakan biasanya berupa kiasan.
Adapun contoh syair adalah sebagai berikut dikutip dari Buku Bahasa Indonesia Kelas IX oleh Agus Supriatna.
Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah Paduka Sultan Duduklah Baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putera Baginda
Besarlah sudah bangsa muda
Cantik menjelis usulnya syahda
Tigas belas tahun umurnya ada.
Parasnya elok amat sempurna
Petak majelis bijak laksana
Memberi hati timbang gulana
Kasih kepadanya mulia dan hina.
(DEL)
