Aku masih Menunggu

Cintailah sastra, sebab jika hanya berlomba-lomba mencapai deretan gelar atau jabatan, kita hanya hewan yang pandai.
Tulisan dari Pentagon Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dan disaat sepi memanggilku, tak sedikit pun terdengar langkah kaki dan suara yang kunanti itu, aku masih terdiam dan merenung, membayangkan seandainya ada seseorang yang bisa menemani, hiasi malam-malam sepi.
Saat hujan jatuh pada batu itu, nada sepi itu semakin terasa, dan tak lama kemudian membelahnya jadi batu-batu kecil yang menandakan penantian itu adalah soal waktu dan harapan.
Menunggu itu memang uji sabarku, yang mengajarkan bahwa aku harus bermain dengan detik jam dan harapan baru.
Menghitung hari, selalu sabar menanti
