Kipo: Simbol Gastronomi Kotagede

Pepy Celi Berliana
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Konten dari Pengguna
6 Januari 2024 16:23 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Pepy Celi Berliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
|Proses pembuatan kipo oleh M mulai dari adonan hingga proses pemanggangannya dalam acara Festival Budaya Kotagede, pada Minggu, 12 November 2023
zoom-in-whitePerbesar
|Proses pembuatan kipo oleh M mulai dari adonan hingga proses pemanggangannya dalam acara Festival Budaya Kotagede, pada Minggu, 12 November 2023
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kipo? Apa itu? Makanan? Minuman?
Mungkin itulah yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “Kipo”. Banyak orang yang sudah mengenal Kipo, namun pasti ada juga yang belum mengetahuinya.
ADVERTISEMENT
Namun bagi M, Kipo adalah temannya-sejak berusia tujuh belas tahun, M yang kini berusia 48 tahun diminta menemani ibunya berjualan kue Kipo di Pasar Legi Kotagede. Ia selalu bangun pagi untuk membantu ibunya membuat kue pipih berwarna hijau berisi kelapa dicampur gula aren tersebut yang kemudian mereka bawa ke pasar Kotagede untuk dijual. Bisa dikatakan bahwa ia telah menjadi saksi perkembangan popularitas Kipo hingga saat ini.
M yang merupakan pewaris usaha salah satu toko Kipo terkenal di Kotagede yaitu Kipo Ibu Suripti mengatakan, hingga saat ini masih banyak orang yang ingin mencoba Kipo ketika berkunjung ke Kotagede meski kipo sering dianggap sebagai jajanan jadul. Hal ini menunjukkan eksistensi Kipo masih tetap berjaya hingga saat ini meski sempat dilanda naik turunnya penjualan.
ADVERTISEMENT
"Sempet lho mbak semingguan gak ada yang beli apa-apa, tapi berkat rame (promosi) di media sosial, alhamdulillah penjualannya kembali (ramai) lagi,” ujarnya.
Selama Covid 2019, popularitas Kipo bisa terbilang sedikit menurun. Menurut M, ada beberapa alasan yang turut mendasarinya. Alasan pertama karena perekonomian dunia juga terdampak akibat pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat. Alasan kedua yang masih terkait dengan pembatasan adalah karena mobilitas yang terbatas sehingga jarang sekali orang yang datang berkunjung ke Jogja, khususnya Kotagede.
Selain itu, masa simpan Kipo hanya 3 hari, oleh karenanya Kipo paling enak dinikmati secara langsung. Sehingga hal tersebut membuat orang yang ingin merasakan Kipo harus datang berkunjung secara langsung ke Kotagede.
|Kipo menjadi salah satu ikon makanan khas Kotagede dalam gelaran Festival Budaya Kotagede (Minggu, 12 November 2023)
Meski memiliki kekurangan, Kipo mempunyai sisi yang menarik, yaitu dari namanya. Jika Anda bertanya-tanya dari mana nama tersebut berasal, nama Kipo berasal dari singkatan Iki oPO yang jika digabungkan akan menjadi KiPo. Nama ini diambil dari salah satu penjual Kipo sebelumnya yang ketika menjual jajanan Kipo mendapat pertanyaan “iki opo?” dari masyarakat tentang nama makanan apa yang mereka jual.
ADVERTISEMENT
Kipo juga memiliki kombinasi rasa yang unik. Kipo merupakan makanan yang manis karena isiannya berupa kelapa parut yang dicampur gula. Saat menyantapnya, kita akan merasakan perpaduan aroma arang karena dalam proses memasaknya, kipo menggunakan teknik pembakaran. “Orang dateng karena penasaran melihat Iki Opo alias Kipo. Rasanya pun unik karena dipanggang. Kipo akhirnya menjadi terkenal karena itu,” ujarnya.
Kepopuleran Kipo sudah melewati berbagai zaman dan tentunya setiap zaman berbeda-beda dari segi rasa, Kipo tetap menjadi andalan masyarakat Jogja sebagai jajanan favorit. Khususnya bagi masyarakat Kotagede. “Biasanya masyarakat di sini (Kotagede) memesannya untuk acara-acara seperti syukuran, pengajian, pernikahan atau kadang juga ada yang memesan snack dus duka,” tambah Marti.
|Kipo telah menjadi makanan yang wajib ada dalam berbagai gelaran acara para Warga Kotagede (Festival Budaya Kotagede, Minggu, 12 November 2023)
Bagi masyarakat Kotagede, Kipo bukan sekadar jajanan manis. Namun Kipo juga telah menjadi simbol gastronomi sejak zaman Mataram Islam.
ADVERTISEMENT
Elmi Mufiidah (21), mahasiswa jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, juga menambahkan, Kipo memiliki sejarah keberadaan yang panjang. “Kalau dilihat dari atas, Kipo sudah ada dan diyakini sudah dikenal sejak abad ke-16 yaitu pada abad Mataram Islam,” kata Elmi.
Banyak rumor yang beredar di kalangan warga Kotagede tentang Kipo. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa Kipo merupakan makanan favorit Sultan Mataram Islam ketiga, yaitu Sultan Agung. “Kipo juga dipercaya sebagai makanan favorit Sultan Agung. Jadi bisa dibilang Kipo itu cukup sakral,” tambah Elmi.
| Pada masa Mataram Islam, Kipo sangat populer dan menjadi makanan para raja (Elmi Mufiidah, Minggu, 12 November 2023).
Oleh karena itu, Kotagede, tempat yang dulunya merupakan ibu kota Mataram Islam, menjadi terkenal sebagai kota kelahiran Kipo. Fakta lainnya adalah Kipo hanya diproduksi di Kotagede sehingga menambah keunikan dari Kipo itu sendiri. Kipo seolah-olah menjadi simbol gastronomi Kotagede.
|Festival Budaya Kotagede (FBK) diadakan untuk merayakan keberagaman yang ada di Kotagede, termasuk keberagaman makanan dan budaya.
Oleh karena itu, untuk mengapresiasi keberadaan Kipo dan makanan tradisional Kotagede lainnya yang telah ada selama berabad-abad, masyarakat Kotagede mengadakan acara bertajuk Festival Budaya Kotagede 2023. Acara ini menunjukkan bahwa Kipo merupakan bagian dari masyarakat Kotagede yang tidak bisa hilang dan harus dilestarikan.
ADVERTISEMENT
Festival yang mempunyai jargon “Kotagede nDuwe Gawe” ini tak lain dimaksudkan untuk memperkenalkan kearifan lokal Kotagede kepada berbagai lapisan masyarakat.
Untuk menarik minat anak-anak mengenal Kipo, acara ini juga mengadakan workshop pembuatan Kipo dengan mengundang chef dari salah satu penjual Kipo. Anak-anak diajak untuk mengenal proses pembuatan Kipo, dimulai dari pembuatan adonan kulit Kipo yang dikenal dengan nama Enten-enten yang terbuat dari tepung ketan, kemudian tidak lupa juga membuat isian dari Kipo sendiri yang terdiri dari Gula Jawa dan Kelapa Parut.
Dan untuk menambah keseruan yang bernilai edukasi, para peserta diajak ke proses selanjutnya yaitu membakar Kipo satu persatu. Kipo dipanggang di atas penggorengan yang sudah dialasi daun pisang. Jadi Kipo mempunyai aroma khas daun pisang bakar. Anak-anak terlihat gembira dan sesekali tertawa riang. Workshop ditutup dengan makan bersama Kipo buatan mereka.
ADVERTISEMENT
Setelah ini apakah kalian tertarik untuk mencoba Kipo?