Kenikmatan Asap Polusi Sate Taichan Purwokerto

Alumni Universitas Amikom Purwokerto
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fillar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aroma sate yang dibungkus dengan kepulan asap selalu menyelimuti Jl. Profesor DR. HR Boenyamin, Purwokerto setiap malamnya. Menempatkan diri di tengah kepadatan lalu lintas, gedung Graha Widyatama UNSOED menjadi saksi keramaian Sate Taichan Uziel Purwokerto. Kenikmatan khas dari rasa pedas yang mematri lidah serta kegurihan tekstur yang menghipnotis goyangan mulut. Kini Sate Taichan Uziel memanjakan konsumennya dengan melebarkan sayap di tiga cabang berbeda yang terletak di Purwosari, Ajibarang & Purbalingga.
Bilik kesuksesan kini sedang didobrak oleh Sate Taichan Uziel. Namun tak selamanya citra primadona akan berjalan mulus tanpa memiliki cacat. Sate Taichan Uziel yang selalu menempatkan diri di pinggir jalan pada setiap cabangnya memiliki makna negatif tersendiri. Peralihan fungsi trotoar yang menjadi tempat makan pelanggan, jalan yang menjadi sempit karena adanya parkir liar di bahu jalan dan ironinya polusi asap pekat selalu mengepul melinitasi pengendara dan pejalan kaki.
“Saya paling males kalo ada kegiatan malam di kampus trus lewatin depan graha. Pasti bau asepnya nempel di baju dan bawa motornya juga kudu hati-hati karena tukang parkirnya suka semaunya sendiri kalo berhentiin arus lalu lintas buat nyabrangin pelanggan taichan” ucap Alfian.
Menikmati sate taichan di malam hari sembari menyaksikan lalu lalang kendaraan yang memasuki jam istirahat merupakan kegiatan opsional kawula muda hingga orang tua untuk memenuhi rasa lapar. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya Sate Taichan Uziel menjadi kiblat sukses wisata kuliner lokal di Purwokerto karena menghadirkan tiga cabang lainnya yang selalu menarik konsumen dengan varian demografi. Teramat disayangkan jika penggunaan bahu jalan sebagai lahan parkir dan polusi asap pekat yang mengganggu tidak diperhatikan oleh pihak Sate Taichan Uziel maupun pihak dinas Banyumas yang berwenang.
