Konten dari Pengguna

Birokrasi Kini, antara “Menjaga Tampilan Sempurna” dan “Keberanian untuk Jujur”

Perdhana Ari Sudewo

Perdhana Ari Sudewo

Aparatur Sipil Negara yang bekerja di BPOM.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Perdhana Ari Sudewo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena Decoupling, Antara Mitos dan Tampilan Sempurna Seremoni Birokrasi

Gambar dikreasikan oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dikreasikan oleh AI

Ada sebuah riset lama dari Meyer dan Rowan (1977) yang membahas tentang decoupling, antara mitos dan tampilan seremonial birokrasi yang terlihat baik-baik saja. Meskipun riset lama, rasanya hari ini masih terasa update, relevan, dan juga realistis untuk melihat apa yang terjadi pada birokrasi modern kini. Riset itu ditulis puluhan tahun lalu, tetapi justru terasa semakin relevan ketika kita melihat kehidupan birokrasi modern hari ini. Mereka menjelaskan bahwa organisasi modern sering kali membangun struktur formal, aturan, prosedur, simbol, dan bahasa yang tampak sangat logis dan rasional, tertib, dan meyakinkan. Semua terlihat baik, terlihat modern, dan terlihat seperti sedang bekerja untuk tujuan yang benar. Tetapi, di balik itu, tidak selalu berarti substansinya benar-benar berjalan seperti yang ditampilkan.

Di situlah Meyer dan Rowan memperkenalkan gagasan yang sampai sekarang masih sangat kuat untuk membaca kehidupan birokrasi, yaitu decoupling. Secara sederhana, decoupling dapat diartikan dengan ada jarak. Jarak antara tujuan kebijakan dan implementasi. Jarak antara narasi kebijakan yang ideal dengan rasa dan kenyataan yang dilihat di lapangan. Jarak antara aturan formal dengan pengalaman nyata orang-orang yang hidup di dalam sistem itu. Di atas kertas, semuanya tampak baik dan rapi. Di dalam praktik, kenyataannya bisa jauh lebih rumit, lebih gelap, dan kadang lebih sunyi daripada yang berani diakui.

Meskipun konsep decoupling ini merupakan konsep lama, tetapi justru terasa dekat dengan birokrasi yang kita lihat dan juga hadapi saat ini. Bukan karena birokrasi tidak punya niat baik, atau karena semua kebijakan pasti buruk, tetapi karena birokrasi modern sering tumbuh dengan kebutuhan yang sangat besar untuk terlihat benar, terlihat rasional, dan terlihat baik di mata publik. Kebutuhan untuk menjaga tampilan ini begitu kuat, bahkan kadang lebih kuat daripada keberanian untuk jujur pada masalah yang sebenarnya sedang terjadi.

Kita melihat ini dalam banyak hal dalam kehidupan birokrasi. Narasi resmi biasanya disusun sangat rapi, dengan bahasa yang indah. Kata dan kalimat "demi kepentingan masyarakat, demi perbaikan layanan, demi keadilan, demi reformasi, demi masa depan yang lebih baik" sudah seperti makanan wajib saat melihat atau membaca birokrasi kini. Kadang ada sedikit drama yang ditampilkan untuk menarik simpati, seolah kebijakan yang diambil lahir dari pergulatan moral yang mendalam untuk membela rakyat. Semua disusun dengan logika rasional, ada teori yang dipilih, ada hasil penelitian yang sudah disortir, ada data yang ditampilkan, juga ada komentar publik yang diseleksi. Yang mendukung kebijakan dipilih dan diambil, yang kontra kebijakan disingkirkan dan dibuang, kalau bisa jangan sampai ditemukan lagi. Semua diarahkan untuk membangun satu kesan: kebijakan ini rasional, sah, sesuai undang-undang, dan baik-baik saja.

Di titik inilah kita mulai melihat apa yang oleh Meyer dan Rowan disebut sebagai logic of confidence and good faith. Ini semacam logika diam-diam yang bekerja di banyak organisasi. Selama tampilan resminya tertata, selama prosedurnya tampak lengkap, selama narasinya terdengar masuk akal, maka semua orang didorong untuk percaya bahwa sistem sedang berjalan dengan baik. Ada semacam dorongan kolektif untuk menjaga keyakinan bahwa semuanya terkendali, semuanya aman, semua pihak sedang bekerja dengan niat baik, dan tidak ada masalah yang terlalu serius. Kalaupun ada masalah, masalah itu dianggap kecil, sementara, tidak perlu dibesar-besarkan, atau cukup diselesaikan secara administratif saja.

Padahal, sering kali yang paling penting justru ada di wilayah yang tidak tersentuh. Ada sesuatu yang bisa dirasakan, tetapi sulit dilihat. Ada ketegangan yang nyata, tetapi tidak punya bentuk yang mudah dibuktikan. Ada ketidakadilan yang hidup, tetapi tidak mudah difoto dalam satu tabel. Ada rasa janggal yang dirasakan masyarakat, tetapi tidak bisa dengan mudah diubah menjadi dokumen resmi. Ada luka, ketakutan, dan ketimpangan yang hadir dalam pengalaman sehari-hari, tetapi menguap begitu saja ketika berhadapan dengan bahasa kebijakan yang terlalu bersih dan terlalu sempurna.

Karena itu, dalam banyak perdebatan antara birokrasi dan masyarakat, muncul kalimat yang sangat ampuh, “Kalau punya bukti, silakan tunjukkan.” Kalimat ini tampak rasional, bahkan terdengar adil. Tetapi sering kali ia bekerja dalam medan yang tidak setara. Di satu sisi ada argumen dari mereka yang punya kuasa, jabatan, akses data, akses media, akses narasi, dan kemampuan menyusun bahasa resmi. Di sisi lain ada pengalaman rakyat biasa, yang merasakan ada yang salah, tetapi tidak punya cukup ruang, alat, atau keberanian untuk membuktikan apa yang dirasakannya. Akhirnya banyak orang memilih diam. Bukan karena mereka setuju, bukan pula karena mereka tidak paham, tetapi karena diam sering menjadi satu-satunya cara yang terasa aman agar tetap bisa bertahan hidup.

Diam dalam situasi seperti itu bukan sekadar diam. Ia adalah hasil dari relasi kuasa. Ketika ancaman, gertakan, tekanan, dan rasa takut bekerja secara halus maupun terang-terangan, masyarakat belajar satu hal penting, tidak semua yang dirasakan bisa diucapkan, tidak semua yang diketahui aman untuk disampaikan, dan tidak semua kebenaran punya tempat yang layak untuk didengar. Akhirnya, yang tetap muncul di permukaan adalah narasi yang sudah disetting sejak awal, narasi yang dibuat agar semua tampak normal, tampak tertib, tampak stabil, dan tampak baik-baik saja.

Birokrasi modern, dalam keadaan seperti ini, menjadi sangat terampil menjaga wajahnya. Ia pandai menata laporan, menata prosedur, menata simbol, menata bahasa, bahkan menata emosi publik. Ia belajar bahwa dalam dunia yang penuh sorotan, tampilan sering sama pentingnya, bahkan kadang lebih penting, daripada isi. Karena itu, banyak energi organisasi terserap untuk menjaga citra, menjaga agar tidak ada celah yang terlihat, menjaga agar keraguan tidak muncul ke permukaan, menjaga agar publik tetap percaya, menjaga agar atasan tetap puas, dan menjaga agar sistem tetap tampak waras, meskipun di dalamnya ada bagian-bagian yang sebenarnya mulai kosong dan keropos.

Di sinilah kegelisahan kita menjadi masuk akal. Ada sesuatu yang kurang pas, tetapi sulit dinamai. Birokrasi tampak semakin modern, tetapi mengapa terasa semakin jauh dari kejujuran? Sistem semakin lengkap, tetapi mengapa banyak orang justru merasa pengalaman mereka tidak diakui? Bahasa kebijakan semakin canggih, tetapi mengapa rasa keadilan tetap terasa rapuh? Semua ini menunjukkan bahwa modernitas birokrasi tidak selalu identik dengan keberanian moral. Organisasi bisa sangat modern dalam tampilan, tetapi sangat defensif ketika diminta jujur pada dirinya sendiri.

Masalahnya, menjaga tampilan sempurna memang memberi keuntungan jangka pendek. Ia membuat organisasi terlihat stabil, dapat meredam kepanikan dan menenangkan publik, dapat menjaga legitimasi, dan juga membuat sistem terlihat tetap bekerja. Tetapi ketika tampilan menjadi terlalu dominan, organisasi bisa kehilangan satu hal yang paling penting, yaitu keberanian untuk jujur. Jujur bahwa ada masalah, jujur bahwa ada kebijakan yang tidak sepenuhnya bekerja, jujur bahwa ada keputusan yang lebih menguntungkan pihak tertentu daripada masyarakat luas, jujur bahwa ada data yang tidak pernah benar-benar netral, dan jujur bahwa ada pengalaman rakyat yang tidak bisa dibantah hanya karena tidak memiliki format bukti yang diakui penguasa.

Keberanian untuk jujur ini sebenarnya bukan kelemahan birokrasi. Justru itulah tanda birokrasi yang matang. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang selalu terlihat sempurna, melainkan organisasi yang cukup kuat untuk mengakui keterbatasannya. Birokrasi yang kuat bukan birokrasi yang pandai menyembunyikan retak, tetapi birokrasi yang berani melihat retaknya sendiri sebelum bangunan itu runtuh diam-diam dari dalam. Kejujuran bukan ancaman bagi birokrasi. Yang menjadi ancaman justru ketika birokrasi terlalu lama hidup dari citra yang dibuatnya sendiri, sampai ia lebih percaya pada narasi resminya daripada pada kenyataan yang dialami masyarakat.

Karena itu, relevansi tulisan Meyer dan Rowan hari ini terasa semakin nyata. Riset lama itu seperti peringatan yang datang terlalu awal, tetapi belum sungguh-sungguh kita dengarkan. Mereka menunjukkan bahwa organisasi bisa tampak rasional sambil menyimpan jarak antara yang dikatakan dan yang dilakukan. Bisa tampak tertib sambil menyembunyikan kekosongan. Bisa tampak akuntabel sambil menutup ruang bagi pengalaman yang tidak sesuai dengan narasi resmi. Dan dalam kehidupan birokrasi kita sekarang, semua itu terasa bukan sekadar teori, melainkan kenyataan yang sering kita jumpai, meski sulit dibuktikan dengan cara yang diakui sistem.

Mungkin karena itu, tantangan terbesar birokrasi modern hari ini bukan hanya bagaimana membuat kebijakan yang tampak baik, tetapi bagaimana membangun keberanian untuk mendengar hal-hal yang tidak nyaman. Bukan hanya bagaimana merawat kepercayaan publik melalui simbol dan bahasa, tetapi bagaimana menghadirkan kejujuran substantif dalam praktik. Bukan hanya bagaimana menjaga legitimasi, tetapi bagaimana memastikan legitimasi itu bertumpu pada kenyataan, bukan sekadar pada tampilan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi hanya apakah birokrasi terlihat baik di permukaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah, "apakah birokrasi masih punya keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri?" Sebab tanpa kejujuran itu, birokrasi mungkin tetap berdiri, tetap berbicara, tetap mengeluarkan kebijakan, tetap terlihat normal. Tetapi di dalamnya, ia pelan-pelan menjadi bangunan yang sibuk menjaga dinding luar, sementara bagian dalamnya dibiarkan kosong, rapuh, dan menunggu retak yang suatu hari tak bisa lagi disembunyikan.