Konten dari Pengguna

Falsafah Jawa dan Nyala yang Tak Terpadamkan

Perdhana Ari Sudewo

Perdhana Ari Sudewo

Aparatur Sipil Negara yang bekerja di BPOM.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Perdhana Ari Sudewo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cahaya Keheningan dan Kebijaksanaan dalam Kesunyian

Gambar Dikreasikan oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Dikreasikan oleh AI

Di sebuah dusun kecil yang dikelilingi sawah dan pohon-pohon rindang, hiduplah seorang kakek sepuh bernama Mbah Wiryo. Hidupnya sederhana, namun hatinya penuh kebijaksanaan. Tak ada yang tahu di mana ia belajar, tapi tiap tutur katanya mengalirkan keteduhan. Mbah Wiryo tidak banyak bicara, namun bila ia bicara, yang hadir biasanya diam, mendengarkan. Karena dari diam itulah, petuahnya berbunyi nyaring dalam hati.

Suatu sore yang teduh, ia duduk di pinggir bale bambu, memandang matahari yang mulai tenggelam, lalu berkata kepada cucunya, "Nak, urip iku urup. Hidup itu nyala. Hidupmu harus bisa menerangi. Tidak perlu seperti matahari. Cukup seperti pelita kecil yang setia menemani malam.”

Cucunya diam. Tak paham sepenuhnya. Tapi Mbah Wiryo melanjutkan.

"Nyala itu bukan hanya memberi terang, tapi juga kehangatan. Kalau hidupmu hanya untuk dirimu sendiri, itu namanya bara. Tapi kalau hidupmu untuk orang lain, itulah api yang menyala dan menghidupkan."

Memayu Hayuning Bawana: Menjaga Keseimbangan, Menjaga Dunia

"Kita ini hidup bukan sekadar urip-uripan, Nak," lanjut Mbah Wiryo. "Kita hidup untuk memayu hayuning bawana. Kita ini dititipi dunia, bukan untuk dihabisi, tapi dirawat."

Ia menunjuk langit senja dan menambahkan, "Kalau kamu marah, jangan membakar semuanya. Kalau kamu kecewa, jangan menebar luka. Kita ini harus jadi embun yang menyejukkan. Dunia ini sudah cukup gaduh, jangan kamu tambah gaduh."

Sang cucu menyimaknya dengan serius, meskipun tidak sepenuhnya memahami apa yang dikatakan Mbah Wiryo. Ia hanya berfikir, suatu saat saat ia dewasa, saat masalah kehidupan sudah antri berdatangan, saat harus menghadapi situasi yang belum pernah terfikirkan, pasti akan bermanfaat.

Pangastuti: Mengalahkan Amarah dengan Kasih

Suatu kali cucunya bertanya, “Mbah, kenapa Mbah tidak marah walau ditipu tetangga?”

Mbah Wiryo tersenyum, “Karena suro diro joyo jayadiningrat, lebur dening pangastuti. Semua yang keras akan hancur oleh kelembutan. Kalau kita balas keras dengan keras, siapa yang melembutkan dunia?”

Ia menunduk pelan, “Lembut bukan berarti lemah. Justru lembut itu kuat. Karena orang lembut itu bisa mengalahkan dirinya sendiri.”

Iya benar yang dikatakan Mba Wiryo, musuh terbesar itu ada di dalam diri. Muncul dalam berbagai bentuk, dan terkadang dalam sosok bijaksana tetapi sebenarnya jelmaan iblis yang mengantarkan manusia menjauh dari dirinya yang sejati. Menjauhkan dari ajaran Agama, tetapi tidak kita sadari.

Laku Sepi: Kemenangan Tanpa Sorotan

“Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, sekta tanpo aji-aji, sugih tanpo bondho,” ucap Mbah Wiryo di suatu malam ketika cucunya merasa minder karena tak punya apa-apa.

“Kamu nggak perlu pengikut buat memperjuangkan kebenaran. Nggak perlu pangkat untuk disegani. Nggak perlu harta untuk merasa cukup. Yang kamu butuhkan cuma batin yang teguh dan hati yang tulus.”

Ada Tuhan yang selalu menemani, hanya keyakinan dan keteguhan hati yang diperlukan. Sepi dan hening, meskipun sendirian tetapi itulah kekuatan yang sebenarnya. Kekuatan dari dalam yang tidak perlu hingar bingar dunia, kalimat dukungan sana sini dari tokoh-tokoh masyarakat yang terdakang beda antara apa yang dikatakan dan yang dilakukan.

Keteguhan Batin: Menanggung dan Melepaskan

Suatu hari cucunya kehilangan sesuatu yang ia sayangi. Mbah Wiryo hanya menepuk bahunya dan berkata, “Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan. Jangan benci ketika tertimpa. Jangan bersedih saat kehilangan.”

“Karena semua yang datang, pasti akan pergi. Dan semua yang pergi, akan diganti dengan yang lebih berarti. Tapi itu hanya akan kamu pahami kalau kamu mau diam, menunggu, dan bersabar.”

Terdapat ilmu yang datang dengan dipelajari, dan ada ilmu yang datang apabila kita menjalaninya dengan sabar. Dan ada yang keduanya harus diupayakan. Benar kata Mbah Wiryo, kuncinya adalah sabar, tidak perlu banyak mengeluh sampai protes terhadap Tuhan, cukup menunggu dan memantaskan diri untuk menerima ilmu baru dari Tuhan.

Pengendalian Diri: Empat Ojo

Di tengah berita dunia yang penuh kehebohan, Mbah Wiryo mengingatkan, “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman.”

“Jangan mudah takjub, nanti gampang kecewa. Jangan mudah menyesal, nanti susah melangkah. Jangan mudah kaget, nanti tak siap. Jangan suka manja, nanti rapuh. Hidup itu laku narima lan ngati-ati.”

Selama kita masih hidup di dunia, hal-hal yang diluar bayangan, diluar nalar, dan juga belum kita ketahui sebelumnya akan muncul di hadapan kita. Tidak perlu takjub, atau kaget saat itu terjadi. Karena dunia tempatnya orang dicoba. Semuanya hanya sebuah ulangan sejarah yang orang-orang bijaksana dulu sudah melaluinya.

Kebijaksanaan: Meletakkan Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Pernah cucunya bercita-cita jadi orang besar, duduk di pemerintahan. Mbah Wiryo hanya menatap lembut dan berpesan, “Ojo ketungkul marang kalungguhane, kadonyan lan kemareman.”

“Kalau kamu duduk di atas, jangan lupa menunduk. Kalau kamu memegang kuasa, jangan lupa pada siapa kamu berkuasa. Dunia ini bukan untuk dimiliki, tapi untuk diurus.”

Sebuah pesan mendalam tentang dimana dunia ini harus diletakkan. Tentang tanggung jawab sosial sebagai makhluk berbudi, sekaligus khalifah di dunia ini. Tidak perlu rakus terhadap dunia, karena itu hanya akan membuat kita tidak pernah puas.

Rendah Hati dan Jujur

Suatu malam cucunya menang karena merasa tahu banyak. Tapi esoknya ia melakukan kesalahan besar. Mbah Wiryo hanya berkata, “Ojo kuminter mundak keblinger, ojo cidra mundak cilaka.”

“Pintar itu bukan buat pamer. Dan cerdik itu bukan untuk menipu. Ilmu sejati itu membuatmu lebih diam dan lebih rendah hati. Dan kejujuran itu selalu lebih ringan dibawa.”

Sudah menjadi watak manusia, baru tahu sedikit sudah merasa jumawa tahu segalanya. Padahal itu lebih sedikit dari ujung kuku air yang menempel saat jari kita dicelupkan ke samudera ilmu. Semakin dalam ilmu kita, semakin paham bahwa yang kita pahami terlalu sedikit dibanding luasnya samudera ilmu.

Jangan Sok Sakti: Padi Itu Menunduk Saat Berisi

Di akhir petuah-petuahnya, Mbah Wiryo berpesan, “Ojo adigang, adigung, adiguna. Jangan merasa paling kuat, paling tinggi, paling hebat. Di atas langit, masih ada langit.”

“Orang yang benar-benar besar nggak pernah menyombongkan dirinya. Karena ia tahu, apa yang ia miliki bisa lenyap sewaktu-waktu. Yang tinggal hanya laku hidup yang bijaksana.”

Falsafah Jawa bukan sekadar kata-kata, tapi cara hidup yang pelan, dalam, dan penuh makna. Seperti Mbah Wiryo yang hidupnya tidak mencolok, tetapi meninggalkan jejak dalam diam. Dalam zaman yang serba ingin cepat dan bising, petuah dari keheningan ini adalah pelita.

Urip iku urup. Hidup adalah nyala. Mari menyalakan hidup ini, tidak dengan sorak sorai, tetapi dengan cahaya sunyi yang menyentuh dan menghidupkan.