The Changcuters, Band yang Memanajeri Dirinya Sendiri

Mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya Manajemen C / 2022021048
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari YOHANES EXSPANDIO PERFECTA SINURAYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tak kenal The Changcuters? Grup musik asal Bandung, Jawa Barat yang telah menduduki tangga industri permusikan Indonesia sejak tahun 2000-an dengan salah satu lagu hits-nya “I Love U Bibeh”. Band yang dibentuk tepat pada 19 September 2004 mulai berhasil memancing telinga publik dengan album pertamanya yang dirilis ulang oleh Sony BMG pada tahun 2008 yang berjudul “Mencoba Sukses Kembali”. Tak heran bila The Changcuters masih dapat dikenal dan eksis dalam dunia pertunjukan musik oleh kalangan muda sampai dengan saat ini, selain karena penampilan mereka yang nyentrik hal itu disebabkan pula karena jenis musik dan pemilihan lirik lagu yang sangat relevan dengan dunia anak muda.
Mengenal lebih dekat The Changcuters
“Kalau mengenai The Changcuters, lagu yang gua sukai itu Hijrah Ke London” ujar Indah Lestari, Mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya jurusan manajemen 2022. Berdirinya band asal Bandung ini bermula dari persahabatan Dipa (bass), Tria (vokal), dan Qibil (gitar) semasa kuliah. Berikutnya, Qibil mengajak dua teman semasa SMA, Alda (gitar) dan Erick (drum) untuk ikut bergabung. Keseriusan The Changcuters dalam bermusik dimulai dengan terciptanya album perdana mereka yang berjudul “Mencoba Sukses” yang ternyata melibatkan salah satu musisi tanah air pula Uki ‘Noah’ sebagai produser. Dari album perdananya tersebut membawa The Changcuters mulai dikenal oleh beberapa kalangan radio, panggung, dan acara di Bandung yang ternyata membuat Sony BMG pada saat itu tertarik untuk merekrut mereka masuk ke dalam labelnya. Terbukti dengan bantuan nama label yang cukup besar, The Changcuters berhasil menarik hati para pendengar musik masyarakat Indonesia untuk mendengarkan lagu mereka. Padahal menurut Tria sang vokalis, musik The Changcuters ini dapat dibilang cukup segmented, karena bergaris besar di aliran Rock & Roll.
Manajemen Dalam Band The Changcuters
Dibalik pencapaian yang baik, disitu pula ada manajemen dan strategi yang baik. Hal itu pula yang saya lihat The Changcuters terapkan. Sedari The Changcuters terbentuk pada tahun 2005 sebelum memasuki label, untuk membuat The Changcuters dapat dikenal lebih luas di dunia entertainment, mereka sudah membagi tugas mereka masing-masing di luar musiknya agar persona The Changcuters sebagai band dapat menjadi lebih autentik dan terorganisir dengan baik. Pada awalnya Tria memegang divisi art & visual, Dipa memegang divisi public relation, Qibil pada divisi fashion & development, Alda pada divisi keuangan, serta Erick ada di divisi kerjaan sampingan yang ada di The Changcuters selain membuat musik yaitu suvenir dan transportasi. Hal itu tetap mereka organisir sendiri dengan pembagian divisi seperti di atas, bahkan saat mereka pun sudah terkontrak dalam label. Jadi bisa saya tangkap sistem kontrak yang terjadi antara The Changcuters dan Sony BMG adalah sistem kontrak yang hanya mengurusi lagu, album, dan perilisan baik secara fisik maupun digital tanpa ikut campur ke pihak internal dan eksternal The Changcuters. Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi yang terjadi dalam manajemen The Changcuters mengalami sedikit perombakan. Sejak beberapa tahun lalu, The Changcuters hanya membagi tugas menjadi dua divisi saja, Dipa dan Alda menjadi manajer The Changcuters, Dipa mengurusi pihak eksternal dan Alda mengurusi bagian internal. Sedangkan itu Tria, Erick, dan Qibil mengurusi segala sesuatu proses pengerjaan di bidang kreatif.
Melihat awal tahun 2020 lalu, banyak pekerja seni Indonesia terlebih musisi mengalami penurunan terutama dalam hal ekonomi sehingga tidak dapat bertahan di dunia hiburan. Hebatnya, itu tidak terjadi kepada The Changcuters sebab manajemen keuangan mereka yang bisa saya bilang sangat berbeda dari grup-grup musik yang pernah saya lihat sebelumnya, Alda yang pada saat itu mengurusi bidang keuangan telah memutuskan sejak band tersebut dibuat agar lebih baik menggunakan pembayaran sistem gaji, hal itu yang menyebabkan The Changcuters memiliki tabungan yang cukup untuk menggaji mereka selagi mereka belum ada panggung di masa pandemi lalu. Sejauh ini pula, The Changcuters memiliki karyawan tetap sebanyak tiga orang, di antaranya satu orang mengurusi keuangan dan dua lainnya mengurusi bagian digital. Sementara itu, ada pula dua puluh lebih karyawan tidak tetap yang hanya bekerja bila ada panggilan manggung The Changcuters. "Jadi sebenarnya mah kita memang seneng mengelola daripada main musiknya sebenarnya," ujar Tria dalam wawancaranya bersama Soleh Solihun di kanal YouTube Authenticity ID. Dari kalimat yang Tria lontarkan, bisa saya simpulkan bahwasanya semenjak terciptanya The Changcuters, mereka setiap anggotanya memang benar-benar menyiapkan agar The Changcuters ini sebagai entertainment product dapat sukses di dunia hiburan.
Ketekunan manajemen yang The Changcuters selalu terapkan membuat mereka sebagai grup musik semakin dewasa dan matang sehingga memutuskan untuk mengakhiri kontraknya bersama Sony BMG/Sony Music Entertainment yang telah dijalin sejak 2008 hingga 2022 dan kembali berdiri sendiri dengan membuat labelnya sendiri yaitu Wowma yang sekarang telah merambat ke berbagai bidang perusahaan, seperti Wowma Records, Wowma Studio, Wowma Transport, dan Sandang Wowma.
Bisakah Musisi Memanajeri Dirinya Sendiri di Zaman Sekarang?
Melihat kemajuan dunia digital sekarang tampaknya bukan menjadi hal yang sulit bagi musisi untuk merilis karyanya sendiri secara digital. Dengan platform-platform yang tersedia saat ini sangat membantu musisi dalam proses distribusi serta promosi lagu mereka. Namun bila kita membahas mengenai manajemen terhadap musisi sebagai produk hiburan tampaknya agak mustahil untuk segala sesuatunya dikerjakan satu orang saja dari proses pengerjaan musik, promosi, visual, hingga segala sesuatu yang berhubungan dengan pihak eksternal. Band sebesar The Changcuters pastinya akan memerlukan pembagian tugas dalam tim baik antara sesama anggota band maupun di luar anggota band-nya untuk ikut mengkoordinir band-nya. Saya selalu percaya di balik suksesnya performer di depan layar, ada orang di belakang layar yang ikut membantu dan berkontribusi menyukseskan hal tersebut. Balik lagi, baik di bawah naungan label ataupun tidak, pada akhirnya musisi akan membentuk sebuah tim demi terorganisirnya dengan baik musisi tersebut sebagai produk hiburan, sama seperti apa yang dilakukan The Changcuters.
Melihat dari contoh manajemen tim The Changcuters yang dapat terorganisir dengan tepat, menurut opini saya selain dikarenakan visi dan misi yang satu tujuan sedari awal, hal tersebut dikarenakan adanya kerja sama yang baik dan saling kepercayaan terhadap sesama anggotanya. Begitu pun dalam dunia tim, manajemen yang tepat dalam tim pastinya akan menimbulkan kemajuan dalam tim tersebut pula. Akan tetapi pada dasarnya semua itu diawali dari diri kita sendiri terlebih dahulu, yaitu manajemen diri. Dengan manajemen diri yang baik akan membuat anggota memiliki rasa percaya terhadap kita yang kemudian membawa kita ke dalam manajemen tim yang tepat.
