PR Meet & Brew Bahas Strategi dan Tantangannya AI pada PR di Era Digital

Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) adalah organisasi profesi para praktisi Humas dan Komunikasi Indonesia yang didirikan pada tanggal 15 Desember 1972.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari PERHUMAS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jakarta, 24 April 2026 – BPP Bidang Pelatihan Kehumasan PERHUMAS Indonesia menyelenggarakan diskusi PR Meet & Brew bertajuk “Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Public Relations” di Other Half Cafe, Jakarta, Jumat (24/4). Kegiatan ini menghadirkan Founder Evello Big Data Analytics Dudy Rudianto dan Dewan Pakar PERHUMAS sekaligus Founder OMG Consulting Yoris Sebastian sebagai narasumber, dengan Wakil Ketua Umum PERHUMAS Dian Agustine Nuriman sebagai moderator.
Diskusi membahas perkembangan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam praktik Public Relations (PR), mulai dari analisis data publik, media monitoring, hingga pengambilan keputusan komunikasi strategis. Dalam pemaparannya, Yoris Sebastian menyoroti bahwa penggunaan AI kini semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari praktisi komunikasi melalui berbagai platform dan tools berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, Notebook LM, hingga DeepSeek.
Menurut Yoris, kehadiran AI membuat pekerjaan PR menjadi lebih cepat dan efisien, terutama dalam membantu proses riset, membaca tren percakapan publik, hingga mengevaluasi rencana komunikasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia sepenuhnya dalam proses pengambilan keputusan komunikasi.
“AI bisa membantu review berbagai rencana komunikasi berdasarkan data yang tersedia, tetapi pada akhirnya manusia yang menentukan karena judgement tetap ada di manusia,” ujar Yoris Sebastian dalam sesi diskusi.
Yoris juga mencontohkan bagaimana strategi komunikasi film Jumbo mampu membangun percakapan publik sejak awal peluncuran. Menurutnya, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kemampuan membangun hubungan emosional dengan audiens.
Selain membahas pemanfaatan AI dalam strategi komunikasi, diskusi turut menyinggung pentingnya kepercayaan publik terhadap brand di era digital. Yoris mengutip data Edelman Trust Barometer 2024 yang menunjukkan bahwa 71 persen masyarakat lebih mempercayai “orang seperti saya” dibandingkan iklan. Hal tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa pendekatan komunikasi yang autentik tetap menjadi faktor penting dalam membangun reputasi.
Sementara itu, Dudy Rudianto menjelaskan bagaimana AI dan data analytics dapat digunakan untuk membaca “suhu” publik melalui berbagai platform digital. Dalam materinya bertajuk Beyond Sentiment: Membaca Data untuk Memahami Suhu Publik, ia memaparkan analisis percakapan dan interaksi publik di media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, TikTok, hingga YouTube.
“Data bukan hanya soal jumlah percakapan, tetapi bagaimana kita memahami perilaku audiens dan dinamika isu di setiap platform,” ujar Dudy Rudianto.
Dudy menekankan bahwa pembacaan data publik tidak cukup hanya melihat jumlah percakapan atau sentimen semata. Praktisi komunikasi juga perlu memahami karakter audiens, pola interaksi, hingga dinamika tren isu di tiap platform digital agar strategi komunikasi dapat disusun secara lebih tepat dan relevan.
Melalui kegiatan PR Meet & Brew ini, PERHUMAS Indonesia mendorong praktisi komunikasi untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus tetap mengedepankan aspek strategis dan humanis dalam praktik Public Relations. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta dari berbagai latar belakang profesi komunikasi dan kehumasan.
Sebagai edisi perdana, PR Meet & Brew diharapkan dapat menjadi ruang diskusi dan kolaborasi yang memperkuat literasi digital serta kesiapan praktisi PR dalam menghadapi perkembangan teknologi komunikasi yang terus berkembang.
