Konten dari Pengguna

Memahami Zat Padat Terlarut (TDS): Pengertian dan Perbedaannya dengan pH

P

Perspektif Lingkungan

Membahas isu lingkungan secara informatif dan inspiratif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Perspektif Lingkungan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengelolaan kualitas air sangat dipengaruhi oleh kandungan zat padat terlarut (TDS) dan tingkat pH. Kedua parameter ini sering digunakan untuk menilai apakah air layak digunakan maupun dikonsumsi. Pemahaman tentang TDS dan pH penting untuk menjaga kesehatan serta keberlanjutan lingkungan, terutama dalam penggunaan air sehari-hari.

Apa yang Dimaksud dengan Zat Padat Terlarut (TDS)?

Zat padat terlarut (TDS) adalah indikator utama yang sering dibahas dalam manajemen kualitas air. Menurut buku Manajemen Kualitas Air oleh Nur Zaman dan rekan, Total Dissolve Solid (TDS) merupakan jumlah zat padat yang terlarut di dalam air dan menjadi salah satu parameter penting dalam menentukan kualitas air.

Definisi TDS

TDS merujuk pada seluruh komponen kimia yang terlarut di dalam air. Zat-zat ini tidak bisa disaring menggunakan saringan biasa karena ukurannya sangat kecil dan tercampur secara homogen.

Komponen TDS

TDS terdiri dari berbagai senyawa, seperti mineral (kalsium, magnesium, natrium), garam, serta logam tertentu. Selain itu, senyawa organik juga dapat berkontribusi terhadap nilai TDS dalam air.

Cara Pengukuran TDS

TDS diukur menggunakan alat khusus yang disebut TDS meter. Hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan miligram per liter (mg/L), yang menunjukkan konsentrasi zat terlarut dalam air.

Perbedaan antara TDS dan pH

Selain TDS, pH juga merupakan parameter penting dalam penilaian kualitas air, namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Pengertian pH

pH adalah ukuran tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan. Skala pH berkisar antara 0 hingga 14, dengan nilai 7 sebagai netral, nilai di bawah 7 bersifat asam, dan nilai di atas 7 bersifat basa.

Perbedaan Konsep TDS dan pH

TDS mengukur jumlah total zat terlarut dalam air, sedangkan pH menunjukkan sifat kimia air terkait keasaman atau kebasaannya. Dengan demikian, TDS berfokus pada kuantitas zat, sementara pH berfokus pada karakteristik kimia air.

Implikasi TDS dan pH terhadap Kualitas Air

Nilai TDS dan pH sangat memengaruhi kualitas air untuk berbagai kebutuhan. TDS yang tinggi dapat menyebabkan rasa tidak enak dan menimbulkan endapan, sedangkan pH yang tidak seimbang dapat merusak pipa serta peralatan.

Pentingnya Pemantauan TDS dalam Kualitas Air

Pemantauan kadar TDS penting untuk memastikan air tetap aman digunakan dan dikonsumsi.

Dampak TDS Tinggi/Rendah

Kadar TDS yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rasa pahit dan berpotensi berdampak pada kesehatan jika dikonsumsi secara terus-menerus. Sebaliknya, TDS yang terlalu rendah dapat membuat air terasa hambar karena minim kandungan mineral.

Standar Ideal TDS dalam Air

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 2 Tahun 2023, kadar Total Dissolved Solid (TDS) yang diperbolehkan untuk air minum adalah maksimum < 300 mg/L.

Rekomendasi Manajemen TDS

Pengelolaan TDS dapat dilakukan dengan pemantauan rutin menggunakan TDS meter. Jika kadar TDS melebihi batas, dapat digunakan teknologi pengolahan air seperti filtrasi atau reverse osmosis.

Kesimpulan

Zat padat terlarut (TDS) dan pH merupakan parameter penting dalam penilaian kualitas air. Dengan memahami dan memantau kedua indikator ini, masyarakat dapat memastikan air yang digunakan tetap aman dan layak. Pengelolaan TDS dan pH yang baik akan membantu menjaga kesehatan serta kualitas lingkungan secara berkelanjutan.