Konten dari Pengguna

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS): Pengertian dan Contoh Praktik Terpadu

P

Perspektif Lingkungan

Membahas isu lingkungan secara informatif dan inspiratif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Perspektif Lingkungan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash.com

Pengelolaan daerah aliran sungai, atau DAS, menjadi hal krusial dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan sumber daya air. DAS bukan hanya sekadar wilayah di kanan-kiri sungai, melainkan satu kesatuan ekosistem yang menampung, menyimpan, dan menyalurkan air dari hulu hingga hilir. Pengelolaan DAS tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terpadu agar fungsi ekologis, sosial, dan ekonominya tetap terjaga.

Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS)

DAS adalah wilayah daratan yang dibatasi oleh punggung bukit dan menjadi satu kesatuan dengan sungai beserta anak-anak sungainya. Wilayah ini berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air hujan menuju danau atau laut secara alami. Dalam konteks pengelolaan, DAS dipahami bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi kelembagaan karena di dalamnya terdapat berbagai kepentingan, bentuk kepemilikan, dan aktivitas manusia yang saling memengaruhi.

Definisi dan Karakteristik DAS

Ciri utama DAS adalah seluruh aliran air permukaannya bermuara ke satu sungai utama melalui anak-anak sungai. Menurut Budhy Setiawan dkk., dalam buku Teori dan Praktik Pengelolaan DAS Terpadu menjelaskan batas DAS ditentukan oleh pemisah topografis, seperti punggung bukit dan lereng, yang membedakan satu wilayah tangkapan air dari wilayah lainnya. DAS juga dipandang sebagai sebuah ekosistem, sehingga setiap perubahan pada satu komponen akan memengaruhi komponen lainnya.

Komponen Utama dalam DAS

Wilayah DAS secara prinsip terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu hulu, tengah, dan hilir. Wilayah hulu dicirikan sebagai daerah konservasi dengan lereng yang lebih curam dan vegetasi yang umumnya berupa tegakan hutan. Wilayah hilir merupakan daerah pemanfaatan, dengan lereng lebih landai, potensi genangan lebih tinggi, dan vegetasi yang lebih banyak didominasi tanaman pertanian. Sementara itu, bagian tengah menjadi zona transisi antara karakter hulu dan hilir. Selain itu, DAS juga terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi membentuk satu kesatuan yang utuh.

Tujuan dan Prinsip Pengelolaan DAS

Pengelolaan DAS bertujuan menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus meningkatkan manfaatnya bagi manusia secara berkelanjutan. Menurut Budhy Setiawan dkk., pengelolaan DAS yang baik diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera, meningkatkan partisipasi para pihak, memperbaiki daya dukung lingkungan, serta menjaga tata air DAS agar jumlah, kualitas, dan kontinuitasnya tetap optimal.

Tujuan Pengelolaan DAS

Tujuan pengelolaan DAS tidak dipandang tunggal. Pengelolaan DAS diarahkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, meningkatkan kesadaran dan kemampuan para pihak, memperbaiki daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta mengoptimalkan tata air DAS. Artinya, pengelolaan DAS bukan hanya soal melindungi lingkungan, tetapi juga soal memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.

Prinsip-prinsip Pengelolaan DAS Terpadu

Menurut Budhy Setiawan dkk., pengelolaan DAS terpadu menuntut keterpaduan antar sektor, pendekatan multidisiplin, dan keterlibatan banyak pihak. Prinsip penting yang ditekankan adalah integrasi, partisipasi, kolaborasi, dan keberlanjutan.

Pengelolaan DAS tidak cukup hanya bertumpu pada pendekatan biofisik seperti rehabilitasi lahan dan pengendalian erosi, tetapi juga harus didukung regulasi, kelembagaan, serta pemahaman terhadap kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

Contoh Pengelolaan DAS Terpadu di Indonesia

Salah satu contoh praktik pengelolaan DAS terpadu adalah DAS Renggung di Pulau Lombok. Menurut Budhy Setiawan dkk., kawasan ini dipilih karena memiliki posisi strategis bagi Kabupaten Lombok Tengah, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi.

Pengelolaan terpadu di DAS Renggung dikembangkan sebagai respon atas menurunnya daya dukung DAS, berkurangnya tutupan vegetasi, dan meningkatnya persoalan sumber daya air serta konflik sosial di wilayah tersebut.

Langkah-langkah Praktik Pengelolaan DAS

Praktik pengelolaan DAS terpadu di DAS Renggung dilakukan melalui beberapa langkah penting. Menurut Budhy Setiawan dkk., prosesnya dimulai dari membangun kesepahaman antar pihak melalui nota kesepahaman, lalu membentuk tim penyusun, menyusun inventarisasi kondisi DAS, merumuskan rencana pengelolaan, hingga menetapkannya sebagai dokumen resmi.

Setelah itu, pelaksanaan di lapangan diarahkan pada berbagai program, seperti konservasi dan rehabilitasi lahan kritis, perlindungan mata air, pembangunan infrastruktur pengairan, pengolahan limbah rumah tangga, pengembangan agroforestri, penguatan kelembagaan masyarakat, hingga penyusunan regulasi yang mendukung pengelolaan DAS.

Kesimpulan

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. DAS harus dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem dari hulu hingga hilir, sehingga pengelolaannya juga harus dilakukan secara terpadu. Dengan memahami konsep DAS dan menerapkan prinsip integrasi dan partisipasi, serta menjalankan praktik pengelolaan yang terarah, fungsi DAS sebagai penyangga kehidupan dapat tetap terjaga dalam jangka panjang.