Konten dari Pengguna

Pengertian dan Jenis Akses Sanitasi: Panduan Lengkap

P

Perspektif Lingkungan

Membahas isu lingkungan secara informatif dan inspiratif.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Perspektif Lingkungan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Air bersih
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Air bersih

Pemahaman tentang akses sanitasi menjadi semakin penting karena sanitasi yang baik berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan. Ketika fasilitas sanitasi tersedia dan digunakan dengan benar, risiko pencemaran serta penularan penyakit dapat ditekan. Akses sanitasi ditempatkan sebagai salah satu indikator penting kesehatan lingkungan yang perlu terus dipenuhi untuk meningkatkan derajat kesehatan rumah tangga.

Pengertian Akses Sanitasi

Akses sanitasi merujuk pada kondisi ketika rumah tangga memiliki dan menggunakan fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat kesehatan. Menurut Swastika Gita Astari dalam laporan Analisis Pemenuhan Akses Sanitasi Khususnya Air Limbah di Wilayah Sleman Yogyakarta Tahun 2015-2020 menjelaskan bahwa akses sanitasi layak dapat diartikan sebagai sarana sanitasi yang telah memenuhi kriteria kesehatan, misalnya menggunakan kloset berleher angsa atau plengsengan dengan tutup, memiliki sistem pembuangan akhir tinja berupa tangki septik atau SPAL, serta digunakan sendiri atau bersama.

Definisi Akses Sanitasi

Secara sederhana, akses sanitasi berarti ketersediaan fasilitas yang memungkinkan limbah manusia dibuang dan dikelola secara higienis. Akses sanitasi sangat erat dengan fasilitas seperti jamban sehat, tangki septik, sistem pengolahan air limbah domestik, serta perilaku penggunaan fasilitas tersebut oleh rumah tangga.

Jadi, akses sanitasi bukan hanya soal ada atau tidaknya toilet, tetapi juga soal apakah sistem yang dipakai benar-benar aman bagi kesehatan dan lingkungan.

Pentingnya Akses Sanitasi untuk Kesehatan Masyarakat

Sanitasi yang baik berpengaruh besar terhadap kesehatan masyarakat. Swastika Gita Astari menjelaskan bahwa akses sanitasi layak merupakan salah satu indikator kesehatan lingkungan yang ditargetkan untuk segera dipenuhi guna mencapai derajat kesehatan rumah tangga. Dalam bagian lain, sanitasi juga dijelaskan sebagai upaya menjaga kebersihan untuk mencegah dampak buruk kotoran terhadap manusia.

Dampak Buruk Sanitasi yang Tidak Memadai

Ketika akses sanitasi tidak memadai, lingkungan menjadi lebih rentan tercemar dan risiko penyakit meningkat. Air limbah yang tidak diolah dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan berbagai penyakit yang mengganggu aktivitas manusia.

Selain itu, praktik buang air besar sembarangan juga disebut berpotensi menyebarkan penyakit, termasuk penyakit yang berkaitan dengan air yang terkontaminasi mikroorganisme patogen.

Manfaat Akses Sanitasi yang Layak

Sanitasi yang layak memberi manfaat nyata bagi rumah tangga dan lingkungan. Fasilitas yang memenuhi syarat kesehatan dapat membantu memutus mata rantai penularan penyakit, mendukung perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjaga lingkungan agar tidak tercemar oleh limbah domestik. Jamban sehat bahkan disebut sebagai elemen yang sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Jenis-Jenis Akses Sanitasi

Akses sanitasi dibedakan ke dalam beberapa kategori. Pembagian ini penting karena menunjukkan bahwa tidak semua fasilitas sanitasi berada pada tingkat keamanan yang sama. Berdasarkan laporan oleh Swastika Gita Astari yang mengacu pada metadata indikator SDGs Indonesia yang membagi akses sanitasi ke dalam empat jenis utama.

Klasifikasi Akses Sanitasi

Ada empat klasifikasi akses sanitasi, yaitu akses aman, akses layak sendiri, akses layak bersama, dan akses belum layak. Klasifikasi tersebut dipakai untuk melihat sejauh mana rumah tangga telah memiliki fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat, sekaligus bagaimana sistem pengelolaan limbahnya diterapkan.

Akses Sanitasi Layak

Akses sanitasi layak mencakup rumah tangga yang memiliki fasilitas sanitasi dengan bangunan atas yang sesuai, seperti kloset leher angsa, serta bangunan bawah berupa tangki septik, SPAL, atau pada kondisi tertentu lubang tanah di wilayah pedesaan. Akses ini bisa digunakan sendiri ataupun bersama, asalkan fasilitasnya memenuhi kriteria dasar kesehatan.

Fasilitas Sanitasi Terstandar

Fasilitas sanitasi yang dianggap memenuhi standar kesehatan antara lain jamban sehat dengan leher angsa, tangki septik yang kedap air, serta sarana MCK yang dibangun sesuai ketentuan teknis. Swastika Gita Astari juga menjelaskan bahwa bangunan jamban terdiri dari bangunan atas, bangunan tengah, dan bangunan bawah, yang semuanya harus dirancang agar tidak menimbulkan pencemaran maupun penyebaran penyakit.

Sistem Pengelolaan Air Limbah yang Aman

Pengelolaan air limbah yang aman dilakukan melalui sistem yang sesuai, baik setempat maupun terpusat. Dua jenis sistem pengelolaan air limbah utama, yaitu SPALD-S untuk pengelolaan setempat dan SPALD-T untuk pengelolaan terpusat.

Sistem tersebut dirancang agar air limbah domestik tidak langsung dibuang ke lingkungan, tetapi terlebih dahulu diolah melalui fasilitas yang sesuai.

Akses Sanitasi Tidak Layak

Akses sanitasi tidak layak menggambarkan kondisi ketika fasilitas yang digunakan belum memenuhi standar kesehatan. Kategori tersebut mencakup penggunaan sarana yang masih memakai plengsengan, cubluk, lubang tanah, atau fasilitas umum tertentu yang belum memenuhi kriteria sanitasi aman.

Ciri-ciri Sanitasi Tidak Layak

Ciri sanitasi tidak layak antara lain penggunaan bangunan bawah berupa lubang tanah, pemakaian plengsengan dengan atau tanpa tutup, serta penggunaan fasilitas yang belum menjamin pengelolaan limbah secara aman. Di sisi perilaku, buang air besar sembarangan atau BABS juga merupakan tanda bahwa sanitasi yang digunakan belum memenuhi syarat kesehatan.

Contoh Fasilitas Sanitasi Tidak Memadai

Contoh fasilitas yang belum memadai antara lain cubluk, plengsengan, dan sarana buang air besar di fasilitas umum yang belum menjamin pengelolaan tinja secara aman. Selain itu, rumah tangga yang masih membuang limbah langsung ke saluran drainase atau sungai juga menunjukkan bahwa sistem sanitasinya belum memadai.

Perbedaan Sanitasi Dasar dan Sanitasi Aman

Akses aman dijelaskan sebagai kondisi ketika rumah tangga memiliki fasilitas sendiri, menggunakan kloset leher angsa, dan limbahnya dikelola melalui tangki septik yang disedot berkala lalu diolah di IPLT, atau tersambung ke SPALD-T. Sementara itu, akses layak belum tentu sampai pada tahap pengelolaan lumpur tinja yang benar-benar aman hingga akhir.

Faktor yang Mempengaruhi Akses Sanitasi

Akses sanitasi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari ketersediaan fasilitas, perilaku masyarakat, hingga dukungan kebijakan. Peningkatan akses sanitasi tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku dan komitmen pemerintah daerah.

Infrastruktur dan Teknologi

Ketersediaan infrastruktur sangat menentukan luasnya akses sanitasi seperti tangki septik, IPAL komunal, IPLT, SPALD-S, dan SPALD-T sebagai bagian dari sistem pengelolaan air limbah. Penyediaan sarana tersebut menjadi fondasi utama agar rumah tangga memiliki layanan sanitasi yang lebih baik dan berkelanjutan.

Perilaku dan Pendidikan Masyarakat

Perilaku masyarakat juga berpengaruh besar, pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai upaya mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat. Pilar-pilar STBM, termasuk stop BABS, menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas saja tidak cukup tanpa perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga.

Dukungan Kebijakan dan Pemerintah

Peran pemerintah sangat menentukan percepatan peningkatan akses sanitasi seperti llandasan kebijakan, mulai dari Peraturan Presiden, RPJMN, RPJMD, hingga peraturan daerah yang berkaitan dengan sanitasi, pengelolaan air limbah domestik, dan STBM. Dukungan kebijakan semacam ini penting agar pembangunan sarana, pembinaan masyarakat, dan target sanitasi dapat berjalan searah.

Kesimpulan

Akses sanitasi adalah elemen vital dalam menciptakan lingkungan sehat dan mencegah penyakit menular. Akses sanitasi mencakup fasilitas yang memenuhi kriteria kesehatan, mulai dari jenis kloset hingga sistem pembuangan akhir tinja.

Jenis aksesnya pun beragam, dari akses aman hingga belum layak, dengan banyak faktor yang memengaruhi pencapaiannya, seperti infrastruktur, perilaku masyarakat, dan dukungan kebijakan. Karena itu, peningkatan akses sanitasi memerlukan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dan sistem layanan yang memadai agar sanitasi layak benar-benar bisa dirasakan semua orang.