Pengomposan: Pengertian dan Proses Pengomposan Sampah Organik
Membahas isu lingkungan secara informatif dan inspiratif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Perspektif Lingkungan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengelolaan sampah organik semakin penting di tengah meningkatnya timbunan sampah perkotaan. Sisa makanan, sampah pasar, daun kering, hingga ranting kecil dari pemangkasan pohon sering kali menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap jika tidak segera ditangani. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pengomposan, yaitu mengubah sampah organik menjadi bahan yang lebih bermanfaat bagi tanah dan tanaman.
Apa yang Dimaksud dengan Pengomposan
Pengomposan adalah proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme hingga menghasilkan kompos. Dr. Ir. Dwi Haryanto, MS, dkk., dalam buku Teknologi Tepat Guna Pengomposan Masal Campuran Sampah Daun Kering dengan Sampah Basah menjelaskan bahwa sampah organik dapat dirombak oleh mikroba menjadi kompos dengan nisbah C/N yang lebih rendah.
Dalam skala perkotaan, metode ini menjadi penting karena volume sampah organik cukup besar. Sumber yang sama memberi gambaran bahwa pada kota dengan penduduk satu juta jiwa, timbunan sampah dapat mencapai sekitar 500 ton per hari. Sebagian besar sampah organik tersebut bersifat mudah terurai atau biodegradable, sehingga berpotensi diolah menjadi pupuk organik.
Definisi Pengomposan
Pengomposan dapat dipahami sebagai proses biologis yang mengubah sampah organik menjadi kompos melalui aktivitas mikroorganisme. Bahan seperti daun kering, sisa sayuran, buah-buahan, dan sisa makanan akan mengalami perombakan hingga menjadi material yang lebih stabil dan bermanfaat.
Menurut Dr. Ir. Dwi Haryanto, MS, dkk., kompos yang baik memiliki nisbah C/N lebih rendah dibandingkan bahan awalnya. Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos matang umumnya memiliki nisbah C/N kurang dari 20.
Jenis Bahan yang Dapat Dikomposkan
Bahan yang dapat dikomposkan umumnya berasal dari sampah organik. Sampah organik perkotaan meliputi sampah dapur rumah tangga, sampah pasar, daun, ranting kecil dari pepohonan, serta sisa hasil pemangkasan tanaman di taman kota.
Proses Pengomposan
Proses pengomposan berlangsung melalui kerja mikroorganisme yang mengurai bahan organik. Pada cara konvensional, sampah biasanya dipotong kecil, diberi starter, lalu diaduk atau dibalik secara berkala. Cara ini sudah banyak dikenal, tetapi menjadi kurang praktis jika jumlah sampah sangat banyak.
Tahapan Proses Pengomposan
Tahap awal dimulai dari penyiapan bahan. Sampah daun kering diperoleh dari dahan dan ranting hasil pemangkasan, kemudian dibiarkan mengering agar mudah dirontokkan. Sampah basah dari pasar atau rumah tangga harus dipilah dari bahan anorganik seperti plastik, kaleng, dan styrofoam.
Langkah berikutnya adalah menyiapkan starter. starter dapat dibuat dari EM4 sebanyak 300 cc, urea 2 kg, lalu ditambah air hingga volumenya menjadi 3 liter. Larutan ini digunakan untuk satu meter kubik campuran biomassa dan didiamkan selama 24–48 jam sebelum digunakan.
Pencampuran sampah daun kering dan sampah basah dilakukan dengan sistem “kue lapis”. Dalam wadah setinggi 100 cm, daun kering dan sampah basah disusun bergantian menjadi beberapa lapisan. Proporsinya dapat disesuaikan, misalnya 50 persen daun kering dan 50 persen sampah basah, atau 60 persen daun kering dan 40 persen sampah basah jika sampah basah mengandung banyak air.
Selama masa inkubasi, biomassa ditempatkan di ruang yang tidak terkena hujan dan tidak terkena sinar matahari langsung. Kondisinya perlu dicek sesekali dengan membuka kantong dan memasukkan tangan sedalam 25–30 cm untuk memastikan suhu meningkat dan bahan tetap lembap. Masa perawatan berlangsung sekitar 40 hari sebelum panen kompos.
Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengomposan
Beberapa faktor sangat menentukan keberhasilan pengomposan.
kelembapan harus cukup
aerasi perlu diperhatikan
suhu perlu dijaga agar tidak terlalu tinggi
pH dapat berubah selama proses
ukuran bahan memengaruhi kecepatan penguraian
Manfaat Pengomposan
Pengomposan membawa manfaat besar bagi lingkungan perkotaan. Sampah organik yang semula menimbulkan bau, lingkungan kumuh, dan potensi sarang penyakit dapat diubah menjadi kompos yang berguna.
Manfaat bagi Lingkungan
Pengomposan membantu mengurangi timbunan sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan. Jika sampah organik tidak segera diproses, keberadaannya dapat membuat lingkungan kotor dan menimbulkan bau menyengat.
Dengan mengolah sampah daun kering dan sampah basah menjadi kompos, beban pengelolaan sampah kota dapat berkurang. Lingkungan juga menjadi lebih bersih, hijau, dan sehat karena kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman.
Manfaat bagi Pertanian dan Kehidupan Sehari-hari
Kompos bermanfaat untuk memperbaiki media tanam dan mendukung pertumbuhan tanaman. Sampah organik yang telah terurai menghasilkan materi yang kaya unsur yang dibutuhkan tumbuhan, sehingga baik digunakan sebagai pupuk organik.
Kesimpulan
Pengomposan merupakan cara efektif untuk mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat. Sampah daun kering, sampah pasar, dan sampah rumah tangga dapat menjadi bahan utama, asalkan dipisahkan dari bahan anorganik yang tidak terurai.
Langkah ini bukan hanya menghasilkan pupuk alami, tetapi juga membantu mengurangi bau, menekan lingkungan kumuh, dan mendukung gerakan penghijauan masyarakat. Pengomposan dapat menjadi solusi sederhana yang berdampak besar bagi lingkungan perkotaan dan kehidupan sehari-hari.