Tantangan Sanitasi di Indonesia
Membahas isu lingkungan secara informatif dan inspiratif.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Perspektif Lingkungan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akses air bersih dan sanitasi layak masih menjadi tantangan penting di Indonesia, terutama di kawasan yang pertumbuhan penduduknya cepat dan infrastrukturnya belum memadai. Sanitasi yang buruk tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga berisiko mencemari air, tanah, dan lingkungan permukiman. Persoalan sanitasi merupakan masalah multidimensi yang dipengaruhi oleh infrastruktur, perilaku masyarakat, kebijakan, dan tata kelola.
Permasalahan Utama Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Penyediaan air bersih dan sanitasi tidak dapat dilihat sebagai persoalan teknis semata. Keduanya berkaitan erat dengan kondisi permukiman, kemampuan ekonomi masyarakat, kebiasaan hidup, serta kemampuan pemerintah dalam menyediakan layanan dasar yang merata.
Dalam jurnal Permasalahan Lingkungan Perkotaan: Tantangan dan Strategi Pengelolaan Kualitas Sanitasi di Perkotaan oleh Syukriyah, dkk., menyoroti bahwa masalah sanitasi di perkotaan mencakup aspek teknis, sosial, dan kelembagaan. Keterbatasan infrastruktur, sistem pengelolaan air limbah yang belum memadai, drainase yang buruk, rendahnya kesadaran masyarakat, serta lemahnya koordinasi antar instansi menjadi faktor yang memperburuk kualitas sanitasi.
Keterbatasan Infrastruktur Air Bersih
Ketersediaan infrastruktur menjadi salah satu hambatan utama dalam pemenuhan layanan air bersih dan sanitasi. Sistem air limbah yang tidak memadai dapat mencemari sumber air, terutama jika limbah domestik dibuang langsung ke sungai, danau, laut, atau meresap ke air tanah.
Syukriyah, dkk., menyebut bahwa banyak kota di negara berkembang masih mengandalkan sistem sanitasi tradisional atau belum memiliki sistem pengolahan air limbah yang baik. Kondisi ini membuat banyak rumah tangga masih bergantung pada sistem on-site sanitation seperti septic tank, yang tidak selalu memenuhi standar teknis.
Kesenjangan Akses di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan
Kesenjangan akses terhadap sanitasi dan air bersih masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Di kawasan perkotaan, layanan mungkin lebih tersedia, tetapi tidak selalu merata. Permukiman padat dan kawasan informal sering kali masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sistem pembuangan limbah yang terstruktur.
Syukriyah, dkk., menjelaskan bahwa urbanisasi cepat tanpa perencanaan memadai dapat memicu pertumbuhan permukiman yang padat dan tidak terorganisir. Akibatnya, penyediaan infrastruktur sanitasi menjadi lebih sulit, dan limbah domestik berisiko terbuang langsung ke saluran air atau tempat terbuka.
Faktor Sosial dan Ekonomi yang Mempengaruhi Sanitasi
Sanitasi rumah tangga juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi. Keluarga dengan keterbatasan pendapatan sering kali kesulitan membangun fasilitas sanitasi yang memenuhi standar. Sementara itu, rendahnya pengetahuan tentang sanitasi membuat sebagian masyarakat belum memahami risiko dari limbah yang tidak dikelola dengan baik.
Masalah ini menunjukkan bahwa perbaikan sanitasi tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas, tetapi juga perlu menyentuh aspek edukasi, pembiayaan, dan perubahan perilaku.
Mengapa Sistem Sanitasi Menjadi Tantangan di Indonesia?
Sistem sanitasi di Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks karena persoalannya saling berkaitan. Infrastruktur yang terbatas akan semakin berat ketika penduduk bertambah, permukiman makin padat, dan perilaku masyarakat belum mendukung kebersihan lingkungan.
Permasalahan sanitasi tidak hanya muncul dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi sosial, budaya, ekonomi, kelembagaan, dan lingkungan. Karena itu, solusi yang dibutuhkan harus menyeluruh dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pertumbuhan Penduduk dan Urbanisasi
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi cepat memberi tekanan besar pada sistem sanitasi. Semakin padat suatu wilayah, semakin besar pula volume air limbah, sampah, dan kebutuhan terhadap fasilitas sanitasi.
Indonesia disebut memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi, yaitu 56% pada 2020. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan sanitasi perkotaan meningkat pesat. Namun, berdasarkan data dalam sumber yang sama, hanya 21,8% rumah tangga urban yang tersambung ke sistem sewerage, sementara sekitar 70% masih menggunakan sistem on-site sanitation seperti septic tank.
Pola Hidup dan Perilaku Masyarakat
Perilaku masyarakat masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pengelolaan sanitasi. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, tidak memilah limbah, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya sanitasi dapat memperburuk kondisi lingkungan.
Keterbatasan Kebijakan dan Pengelolaan Sumber Daya
Tantangan sanitasi juga muncul dari sisi kelembagaan. Kurangnya koordinasi antar instansi, minimnya anggaran, lemahnya penegakan regulasi, dan rendahnya partisipasi masyarakat dapat membuat program sanitasi tidak berjalan optimal.
Pengelolaan sanitasi membutuhkan perencanaan jangka panjang, pembiayaan yang memadai, serta pembagian peran yang jelas.
Strategi dan Upaya Mengatasi Tantangan Sanitasi
Mengatasi tantangan sanitasi memerlukan strategi yang terpadu. Pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur, masyarakat perlu meningkatkan kebiasaan hidup bersih, dan sektor swasta dapat berperan melalui teknologi, pendanaan, serta inovasi layanan.
Peningkatan Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Edukasi menjadi langkah penting untuk mengubah perilaku masyarakat. Kampanye tentang kebersihan, pemilahan sampah, pengelolaan limbah rumah tangga, serta manfaat sanitasi bagi kesehatan perlu dilakukan secara rutin dan mudah dipahami.
Penyuluhan tidak hanya bertujuan memberi informasi, tetapi juga membangun kebiasaan baru. Ketika masyarakat memahami bahwa sanitasi buruk dapat mencemari air dan menimbulkan penyakit, dorongan untuk menjaga kebersihan lingkungan akan lebih kuat.
Perbaikan Infrastruktur dan Inovasi Teknologi
Pembangunan infrastruktur sanitasi perlu diarahkan pada sistem yang efisien, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kondisi wilayah. Fasilitas pengolahan air limbah, sistem drainase yang baik, dan pengelolaan lumpur tinja harus diperkuat agar pencemaran tidak terus berulang.
Teknologi inovatif juga dapat menjadi solusi. Syukriyah, dkk., menyebut teknologi seperti pengolahan limbah berbasis biofiltrasi dan teknologi energi terbarukan sebagai pilihan yang dapat membantu mengatasi keterbatasan fasilitas sanitasi.
Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat
Pentingnya kerja sama erat antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sebagai upaya mengatasi tantangan sanitasi. Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci agar pengelolaan sanitasi dapat berjalan berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat.
Kesimpulan
Tantangan sanitasi dan akses air bersih di Indonesia tidak berdiri sendiri. Persoalan ini dipengaruhi oleh keterbatasan infrastruktur, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, perilaku masyarakat, kesenjangan akses, serta lemahnya koordinasi kelembagaan.
Solusinya perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembangunan infrastruktur, edukasi publik, penggunaan teknologi ramah lingkungan, hingga kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Dengan komitmen bersama, akses air bersih dan sanitasi layak dapat diwujudkan secara lebih merata, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.