Konten dari Pengguna

Sang Alkemis: Sejauh Apa Kita Harus Pergi untuk Menemukan yang Kita Cari?

Mahayu Rindang

Mahayu Rindang

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mahayu Rindang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana jika ternyata sesuatu yang kita cari dengan susah payah selama ini sudah berada di dekat kita? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dari buku Sang Alkemis karya Paulo Coelho.

Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Source: foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Source: foto pribadi

Sang Alkemis ditulis oleh Paulo Coelho, penulis asal Brazil. Novel ini pertama kali diterbitkan pada 1988 dengan judul O Alquimista. Buku yang saya baca merupakan edisi terjemahan bahasa Indonesia cetakan ke-53. Dari segi fisik, buku ini memiliki 221 halaman, tidak terlalu tebal sehingga cukup mudah dibaca. Bahasa yang digunakan juga cukup sederhana, meskipun terdapat beberapa gagasan yang membutuhkan waktu untuk direnungkan.

Novel ini dimulai dengan Santiago, seorang pemuda Andalusia yang memilih menjadi gembala meskipun sebelumnya pernah belajar di seminari. Ia ingin melihat dunia secara langsung. Suatu hari, Santiago mengalami mimpi berulang tentang harta karun yang berada di dekat piramida Mesir. Rasa ingin tahunya membawa ia bertemu Melkisedek, seorang raja tua yang memperkenalkannya pada konsep “Legenda Pribadi”, yaitu sesuatu yang benar-benar ingin dicapai seseorang dalam hidupnya. Santiago kemudian menjual domba-dombanya dan memulai perjalanan menuju Mesir.

Sesampainya di Tangier, Santiago ditipu dan kehilangan seluruh uangnya. Ia kemudian bekerja di sebuah toko kristal selama 11 bulan. Ia belajar tentang kerja keras, berdagang, dan keberanian untuk kembali mengejar tujuannya. Setelah mengumpulkan cukup uang, Santiago melanjutkan perjalanan menuju Mesir bersama sebuah kafilah.

Dalam perjalanan melewati gurun, Santiago bertemu seorang pria Inggris yang sedang mencari seorang alkemis. Ia mulai belajar memahami berbagai tanda di sekitarnya dan mengenal gagasan tentang "Jiwa Dunia". Ketika tiba di Oasis Al-Fayoum, Santiago bertemu Fatimah dan jatuh cinta. Ia sempat ingin menetap, tetapi sebuah penglihatan tentang serangan terhadap oasis membuatnya kembali mengikuti perjalanan. Peristiwa tersebut kemudian mempertemukannya dengan sang Alkemis.

Bersama sang Alkemis, Santiago melanjutkan perjalanan menuju piramida. Dalam perjalanan, ia kembali menghadapi berbagai ujian yang membuatnya belajar menghadapi ketakutan dan semakin percaya pada dirinya sendiri.

Setelah sampai di piramida, Santiago menggali tempat yang diyakininya sebagai lokasi harta karun dalam mimpinya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Ia kemudian mengetahui dari seorang perampok bahwa ada mimpi tentang harta karun di sebuah gereja tua di Spanyol. Santiago menyadari bahwa gereja tersebut adalah tempat ia biasa tidur bersama domba-dombanya. Ia pun kembali ke Andalusia dan menemukan peti berisi emas dan batu-batu berharga di sana.

Pada akhirnya, Santiago menemukan harta yang dicarinya. Namun, perjalanan panjang tersebut membuatnya memahami bahwa harta bukan satu-satunya hal penting. Pengalaman, kegagalan, pertemuan, cinta, dan keberanian yang ia dapatkan selama perjalanan menjadi bagian dari proses menemukan dirinya sendiri.

Resensi

Novel Sang Alkemis bukan hanya novel yang menceritakan kisah pencarian harta karun. Harta karun tersebut dapat dilihat sebagai simbol dari sesuatu yang ingin dicapai seseorang, sedangkan perjalanan Santiago menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan, seseorang terkadang harus berani meninggalkan kenyamanan.

Hal tersebut terasa ketika Santiago harus memilih antara kembali menjadi gembala atau melanjutkan perjalanan menuju Mesir. Ia sebenarnya sudah memiliki kehidupan yang cukup nyaman bersama domba-dombanya, tetapi rasa ingin tahunya membuat ia berani meninggalkan kehidupan tersebut. Dalam novel, terdapat kutipan:

“Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita memahami bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia ditulis oleh tangan yang sama.”

Menurut saya, kutipan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik karena menggambarkan ketakutan yang juga dialami Santiago. Ia harus meninggalkan kehidupan nyamannya untuk mengejar sesuatu yang belum pasti. Namun, justru dengan berani meninggalkan kenyamanan tersebut, Santiago mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin ia peroleh jika tetap menjalani kehidupan sebagai gembala.

Hal ini juga berkaitan dengan kutipan yang cukup terkenal dalam novel:

“Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.”

Kutipan tersebut menarik karena sepanjang cerita Santiago memang mengalami berbagai peristiwa yang mengarahkannya menuju tujuannya. Namun, bukan berarti perjalanan Santiago berjalan dengan mudah. Ia tetap mengalami penipuan, kehilangan, ketakutan, dan kegagalan. Karena itu, menurut saya, pesan novel ini bukan sekadar “bermimpi dan alam semesta akan membantu”, tetapi juga tentang keberanian untuk mengambil langkah dan bertahan ketika perjalanan tidak sesuai harapan.

Kelebihan utama novel ini adalah gaya Paulo Coelho yang sederhana, tetapi mampu membawa gagasan filosofis ke dalam sebuah cerita. Alurnya juga cukup mudah diikuti karena perjalanan Santiago menjadi pusat cerita. Setiap tempat dan tokoh yang ditemuinya memiliki peran dalam perkembangan perjalanan tersebut. Namun, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Karena buku yang saya baca merupakan edisi terjemahan bahasa Indonesia, terdapat beberapa bagian yang pilihan katanya terasa sedikit kaku atau kurang natural ketika dibaca.

Penutup

Sang Alkemis bukan hanya cerita tentang seorang pemuda yang pergi mencari harta karun. Novel ini justru menunjukkan bahwa terkadang seseorang perlu berjalan sangat jauh untuk memahami sesuatu yang sebenarnya sudah dekat dengannya. Santiago tidak akan pernah menemukan harta di bawah pohon ara jika ia tidak lebih dahulu berani meninggalkan kehidupan lamanya.

Menurut saya, buku ini layak dibaca, terutama bagi remaja dan mahasiswa yang sedang berada di fase menentukan pilihan atau mengejar sesuatu yang mereka inginkan. Ceritanya ringan dan mudah diikuti, tetapi tetap memberikan ruang untuk merenungkan tentang impian, kegagalan, cinta, dan keberanian untuk mengambil jalan sendiri.