Konten dari Pengguna

Aku Jadi Korban Pesugihan Ayahku yang Menumbalkan Pegawai Pabriknya

Pesugihan

Pesugihan

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak di atas kursi roda. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak di atas kursi roda. (Foto: Pixabay)

Semalam aku mimpi buruk lagi. Tentang ayahku yang selalu jadi monster yang memakan pegawai pabriknya. Aneh memang. Ayahku dulunya memang punya pabrik tekstil yang mempekerjakan banyak pegawai.

Namun, aku ditinggal ayah dan ibuku saat aku berusia lima tahun. Benar, terlalu dini untuk dapat mengingat jelas kedua orang tuaku yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Terlebih, semakin hari, ingatanku akan sosok ayah perlahan digantikan oleh sosok seram yang selalu menghantui mimpiku itu.

Selain ditinggal kedua orang tua, usia lima tahun itu juga menjadi waktu terakhirku bisa berbicara dan berjalan. Seketika orang tuaku meninggal di tempat karena kecelakaan, aku yang saat itu sedang bermain bersama temanku tiba-tiba jatuh tersungkur. Aku jadi lumpuh dan bisu.

Sekarang, usiaku sudah 12 tahun. Artinya, sudah tujuh tahun lebih aku berusaha menerima keadaanku yang menyedihkan ini. Sampai sekarang pun, tidak ada dokter yang dapat memastikan penyebab aku menjadi seperti ini.

Sudah selama itu pula, aku tinggal bersama nenekku yang sangat penyayang. Meski sering merasa aneh, aku justru lebih menyayangi nenekku daripada kedua orang tuaku. Mungkin karena mereka meninggalkanku terlalu cepat. Entahlah.

Yang pasti, aku senang hidup bersama nenek. Aku dirawat seperti anak kandungnya sendiri. Aku pun diajari bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan anak-anak yang lain di sekolah.

Tapi, kebahagiaanku tidak serta merta dapat menghilangkan ketakutan dari trauma masa kecil dan mimpi buruk yang sering kualami. Karenanya, aku sering menangis seorang diri di kamar.

Esoknya, nenek mengelus kepalaku saat aku masih pulas tidur. Seketika itu pula, aku membuka mataku melihat nenek menatapku pilu. Aku tidak mengerti dengan ekspresinya waktu itu karena dia selalu tersenyum setiap kali membangunkanku.

“Nana, sepertinya.. sudah saatnya nenek menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” kata nenek pelan.

“‘Maksud nenek’?” tanyaku melalui bahasa isyarat.

Nenek kemudian membantuku duduk. Sambil memegangi tanganku yang hangat, nenek memulai ceritanya.

---

Dulu, pabrik ayah hanyalah usaha kecil. Kualitas baju yang jelek dan harga yang terlalu tinggi menyebabkan banyak pelanggan menghilang. Setiap bulannya, ia merugi. Tidak ada keuntungan yang bisa diambil dari pabrik itu.

Hingga suatu hari, ayah berani mengambil risiko untuk memakai pesugihan. Dia takut kalau penghasilan satu-satunya itu bangkrut.

Akhirnya, setelah menemui seorang dukun, ayah sepakat melakukan ritual pesugihan yang ternyata menjadi penyebab dirinya dan ibu meninggal.

Ilustrasi perdukunan (Foto: Aditia Noviansyah/Kumparan)

Kata dukun itu, selain menyiapkan ruangan untuk ritual, ayah harus menumbalkan seseorang setiap malam Jum’at Kliwon. Ia tentu tidak ingin mengorbankan keluarganya untuk hal itu.

Bagaimana mungkin ayah melakukan itu saat alasan menggunakan pesugihan adalah demi kelangsungan hidup keluarganya. Ayah kemudian terpaksa menumbalkan satu per satu pegawainya agar pesugihan itu bisa berjalan.

Mulai dari memberikan wawancara yang dipenuhi pertanyaan terkait kecocokan weton pegawai sebagai tumbal, hingga mengeksekusi sendiri pegawainya, semua ayah lakukan demi kami.

Pabrik ayah semakin ramai pelanggan setelah itu. Dengan keuntungan yang bertambah, pabrik ayah juga mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas. Alhasil, pegawai ayah semakin bertambah banyak.

Hal ini juga menjadi pertanda baik bagi ayah karena ia akan lebih leluasa memilih tumbalnya. Mulanya, tidak ada satupun pegawai yang mencurigai pesugihan yang dilakukan ayahnya. Namun, suatu hari, ada seorang pegawai yang membuat semua rencana ayah berantakan.

Pada suatu malam Jum’at Kliwon, ia sedang menyekap seorang pegawai yang sudah dipilih menjadi tumbal di gudang penyimpanan. Saat ia mau mengeksekusi pegawai di depannya itu, tiba-tiba terdengar suara di belakang pintu.

Saat ayah membuka pintu, ia melihat seseorang berlari keluar dari pabrik. Sekilas, ia melihat seseorang yang berlari itu. Selesai sudah. Ayah tertangkap basah melakukan pesugihan oleh pegawainya, Saliman.

Karena takut ketahuan oleh pegawai lain, ayah terpaksa mendatangi dukun yang dulu pernah membantunya. Ia ingin membunuh Saliman agar bisa tutup mulut dengan apa yang sudah dilihatnya di gudang.

Dukun itu mengabulkan permintaan ayah. Saliman meninggal dengan penyakit yang tidak jelas dua hari kemudian. Namun, cerita itu belum berakhir. Untuk kali ini, ayah lalai dan tidak mengindahkan peringatan yang seharusnya ia dengarkan.

Sehari setelah Saliman meninggal, istrinya datang ke pabrik milik ayah. Ia berdiri di tengah pabrik dan berkata sumpah serapah kepada ayah.

“Dasar manusia biadab! Terkutuklah kau dan keluargamu! Atas semua pegawai yang sudah kau tumbalkan untuk pesugihanmu, aku bersumpah atas kematianmu!

Ingat, kesengsaraanmu tidak akan berhenti pada dirimu saja. Aku juga bersumpah, anakmu akan cacat seumur hidup!” istri Saliman mengucapkan kalimat itu keras-keras di hadapan semua pegawai yang sibuk bekerja di bagian masing-masing.

Ayah hanya menertawakan perkataan itu. Memang, perkataan itu tidak mempengaruhi ayah, tetapi justru pegawai pabrik lain. Sejak kejadian itu, banyak pegawai yang mengambil cuti dan berakhir tidak bekerja lagi. Mereka percaya dengan perkataan istri Saliman dan takut dijadikan tumbal.

Hal itu tentu mempengaruhi kinerja pabrik. Semakin hari, produk yang dihasilkan semakin berkurang. Keuntungan pabrik juga semakin menyusut. Yang lebih parah lagi, kemerosotan itu mempengaruhi ritual pesugihan ayah.

Ia tidak bisa lagi memperdaya pegawainya untuk dijadikan tumbal. Ayah jadi frustasi dan sering uring-uringan. Ibu yang selama ini menjadi penenang ayah sudah tidak mempan lagi.

Hingga suatu hari, saat mereka menuju dukun langganan, mereka tewas kecelakaan akibat ayah terlibat argumen pedas dengan ibu saat menyetir.

---

Nenek mengambilkanku segelas air putih. Aku perlahan meneguknya sampai habis. Akhirnya, aku tahu penyebab kondisiku yang seperti ini.

Sekarang, aku bisa tidur tenang tanpa memimpikan ayah sebagai sosok yang seram. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah meminta ampunan dari dosa-dosa yang sudah mereka perbuat.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan belaka.