Azab Juragan Bengkel yang Lakoni Pesugihan, Meninggal Terpeleset Oli

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah dua bulan sejak wabah pandemi Covid 19, bengkel motor milik Pak Purkoni sepi. Lima orang teknisi dan satu orang kasir nyaris tak ada pekerjaan. Dalam sehari hanya satu dua sepeda motor yang datang, itupun sekedar perawatan ringan ganti oli. Pemasukan yang ada tak cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional. Gaji karyawan terancam. Bonus tak mungkin lagi diberikan.
“Pak Purkoni, ini ada surat tagihan dari Bank untuk cicilan hutang bulan ini,” ujar Darmi kasir cantik yang juga merangkap sebagai asisten pribadi Pak Purkoni.
“Pusing saya, tabungan sudah terkuras semua untuk menutup biaya operasional. Masih ada lagi ini tagihan bank,” jawab Pak Purkoni dengan nada kesal.
“Ehhhmmmm…. Boleh saya usul Pak ?” ijin Darmi kepada Pak Purkoni.
Pak Purkoni mengiyakan.
“Saya ada solusi untuk mengatasi. Mari saya antar ke Mbah Wignyo di tepi sungai Progo. Beliau punya padepokan tempat banyak orang mencari solusi dari segala permasalahan,” tutur Darmi.
**
Sepulang dari padepokan Mbah Wignyo, bengkel Pak Purkoni mulai bergeliat. Setiap sepeda motor yang melakukan perawatan ganti oli pasti akan datang lagi.
Pak Purkoni telah mencampur oli curahnya dengan minyak pesugihan pemberian Mbah Wignyo.
Bengkel Pak Purkoni ramai kembali bahkan melebihi situasi sebelum wabah pandemi. Semua karyawan sibuk bekerja, bahkan seringkali lembur hingga malam hari.
Dalam waktu singkat, Pak Purkoni telah membuka cabang bengkelnya di beberapa tempat. Pundi-pundi kekayaannya mengalir deras. Darmi, diberinya jabatan sebagai manager dengan fasilitas rumah jabatan dan mobil operasional. Pak Purkoni tak lagi pusing dengan tagihan bank dan berbagai biaya operasional lainnya.
Pak Purkoni semakin kaya raya. Rumah peninggalan orangtuanya yang semula biasa saja, telah direnovasi menjadi megah dan luas. Pagarnya tinggi lengkap dengan anjing penjaga. Pak Purkoni menjadi orang terpandang di kampungnya. Kemanapun pergi dihormati dan disegani. Sayangnya, ia sangat congak. Kekayaan telah membawa dirinya pada kesombongan. Ia gila hormat dan enggan bersosialisasi dengan warga sekitar.
**
Di bengkelnya yang ramai pelanggan, Pak Purkoni sibuk mengawasi karyawannya bekerja. Ia selalu bersikap keras dan menuntut semua karyawannya untuk bekerja sempurna. Kinerja mereka dipantau ketat melalui grup Whatsapp. Semua harus melaporkan langsung apa yang telah dikerjakan. Sedikit saja ada kesalahan tak segan Pak Purkoni melakukan pemecatan.
Begitupula dengan Darmi, manager cantiknya. Ia suka mengadu domba para karyawan dengan melaporkan hal-hal yang membuat Pak Purkoni marah. Bahkan ia suka mengarang cerita tanpa dasar fakta yang benar. Darmi puas jika ada karyawan yang menjadi korbannya. Dengan begitu Darmi akan mendapatkan fasilitas dan kemudahan dari Pak Purkoni.
Kekejaman Pak Purkoni dan sifat jahat manager Darmi selalu membekas di hati para karyawan.
**
Sore itu bengkel Pak Purkoni penuh pengunjung. Puluhan kendaraan mengantri untuk dilakukan perawatan dan ganti oli. Seperti biasa Pak Purkoni datang untuk mengecek langsung pekerjaan karyawannya. Tampangnya dingin dan raut muka serius. Sedikitpun tak ada senyum di bibirnya. Serta merta ia marah-marah mendapati teknisi Rahmat menumpahkan oli di lantai bengkel. Pak Purkoni seketika mendatangi Rahmat dan memukulnya. Namun sayang, kakinya tergelincir oleh tumpahan oli. Pak Purkoni terpelanting jatuh dan kepalanya membentur lantai. Darah mengucur deras dari keningnya. Ia mati seketika.
Darmi panik dengan keadaan itu. Ia segera membawa pulang jenazah Pak Purkoni. Sesampai di pintu gerbang utama, anjing penjaga rumah yang lapar tiba-tiba menyerang Darmi hingga terkapar. Tubuhnya penuh luka tercabik-cabik gigi anjing.
Tulisan ini merupakan rekayasa dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
