Konten dari Pengguna

Balada Rumah Bekas Pesugihan yang Mengganggu Mahasiswa KKN

Pesugihan

Pesugihan

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rumah (Foto: Yustinus Wijaya Kusuma/Kompas)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rumah (Foto: Yustinus Wijaya Kusuma/Kompas)

Sudah beberapa minggu aku dan ketujuh temanku melaksanakan KKN di daerah Mojokerto. Kami disambut dengan hangat oleh masyarakat di daerah tersebut. Kami bahkan diberikan tempat tinggal yang terlampau bagus untuk kumpulan mahasiswa KKN.

Sudah beberapa minggu aku dan ketujuh temanku melaksanakan KKN di daerah Mojokerto. Kami disambut dengan hangat oleh masyarakat di daerah tersebut. Kami bahkan diberikan tempat tinggal yang terlampau bagus untuk kumpulan mahasiswa KKN.

Mulanya, kami senang sekali dengan perlakuan masyarakat yang sangat baik kepada kami. Mulai dari tempat tinggal yang nyaman hingga mau bekerja sama dengan seabrek program kerja kami untuk desa tersebut.

Namun, akhir-akhir ini, terjadi berbagai kejanggalan di rumah yang kami tempati ini. Hampir semua teman KKN yang tinggal di sini mengalami hal aneh. Salah satunya Fais yang setiap jam tiga malam selalu tidur berjalan menuju pintu depan rumah.

Lalu, teman-teman perempuan kami juga merasa ada yang mengintip mereka mandi dari kolong atap. Selain itu, Ferdi, salah satu temanku yang rajin sekali beribadah juga sering melihat sosok cantik setiap kali ia mengaji di malam hari.

Ada juga pengalaman mengerikan dari Hadi. Ia tidak tahu kalau ada larangan membuang sampah di samping rumah saat sore menjelang maghrib. Padahal, Ferdi sudah pernah diperingatkan oleh warga, tapi dia lupa memberi tahu Hadi.

Akibatnya, Hadi waktu itu mengalami hal yang membuatnya trauma sampai sekarang. Saat sudah selesai membuang sampah di tempatnya, Hadi mendengar bunyi gemerisik dari pepohonan rindang yang tumbuh di samping rumah.

Tiba-tiba, “duuuk”. Ada bunyi sesuatu telah jatuh dari pepohonan itu. Otomatis Hadi penasaran dan mencari apa yang jatuh itu. Setelah berjalan beberapa meter, iya menemukan sebuah kepala orang yang bersimbah darah.

Sontak, ia lari ketakutan menuju rumah. Aku ingat sekali, waktu itu Hadi langsung menelungkupkan badannya di depan Fais dan aku yang sedang bermain game online di ponsel. Saat kami tanya kenapa, wajahnya terlihat sangat pucat dan belum bisa berkata apa-apa selama beberapa menit.

Baru setelah kami berikan air dan sedikit tenang, Hadi berani menceritakan apa yang baru saja ia alami. Kejadian itulah yang menjadi awal mula masing-masing dari kami bercerita hal aneh yang dialami. Sebab sebelumnya, kami tidak berani bercerita karena khawatir membuat yang lain juga ikut ketakutan.

Seketika itulah aku mulai memikirkan kembali keanehan yang berasal dari masyarakat. Saat pertama kali survei lokasi, aku baru ingat kalau aku pernah melihat sekelebat bayangan yang lewat dari dapur. Selain itu, Bu Wati yang mengurus rumah ini juga bertingkah tak wajar.

Saat ia mengantarkanku untuk melihat rumah ini, ia berkata kalau kami dilarang memasuki sebuah kamar yang katanya dijadikan gudang. Tapi, setiap malam kami mendengar keran bocor dari kamar itu yang mengganggu tidur kami.

Kemudian, aku berinisiatif memanggil Bu Wati untuk memperbaikinya. Dia terlihat sekali tidak ingin kami melihat isi gudang itu. Buktinya, sewaktu ia memperbaiki keran, ia langsung menutup rapat pintu yang baru dibukanya, menandakan kami tidak boleh melihat apapun.

Ilustrasi pintu (Foto: Infia)

Seketika keluar, raut wajahnya pun aneh. Wajahnya terlihat sedikit ketakutan yang bercampur khawatir. Dari situ, aku merasa ada yang aneh dengan rumah ini.

Terlebih, saat aku bertanya perihal rumah ini kepada warga, ada yang keceplosan kalau rumah itu bukan ditinggalkan, melainkan bekas rumah orang mati. Ketika aku mencoba menggali lagi, mereka seakan ingin menutupi hal itu rapat-rapat.

Akhirnya, kami mengalami puncak keanehan di rumah ini. Setelah kami melakukan rapat dengan warga, salah satu teman perempuan kami, Sofi, yang waktu itu sedang sakit tiba-tiba kesurupan.

“TUMBAL! BERI AKU TUMBAL HHAHAHA!” kata Sofi sambil matanya melotot ke arah kami.

Yang membuat kami terkejut adalah, ia kesurupan setelah memasuki gudang yang dilarang Bu Wati. Kami pun heran, bagaimana caranya ia bisa masuk. Terlebih, Sofi susah sekali dikendalikan. Ia jingkrak-jingkrak tak karuan di kasur.

Namun, dari kejadian itu pula, kami akhirnya mengetahui kalau gudang itu ternyata berisi kemenyan. Anehnya, tidak ada satupun dari kami yang suka bebauan itu, apalagi menyimpannya di gudang yang tidak pernah kami jamah.

Esok harinya, Ipang, salah satu temanku yang mempunyai kelebihan khusus, mengajakku ke pos ronda untuk membicarakan suatu hal. Aku tidak tahu apa, yang pasti, aku menebak dia akan bercerita hal yang dialaminya di rumah itu.

“Bas, kita harus segera pergi dari sini,” kata Ipang sesampainya kami di pos ronda.

“Lah, kenapa memangnya, Pang?” tanyaku bingung.

“Kejadian yang menimpa kita sudah keterlaluan. Aku takut akan terjadi hal yang lebih buruk lagi,” katanya.

“Aku tahu, Pang. Memang banyak hal aneh di situ. Tapi, KKN kita belum selesai. Kita mau pergi dengan alasan apa?” tanyaku.

“Kamu tahu Bas, yang ditemui Fais di pintu rumah setiap kali ia tidur berjalan itu adalah semua tumbal pesugihan yang sudah mati,” kata Ipang.

“Hah, tumbal pesugihan?” tanyaku bingung.

“Iya, Bas. Rumah itu dulunya jadi tempat pesugihan pemiliknya. Kamu dengar kan kalau pemilik rumah itu sebenarnya meninggal, bukan rumah itu yang ditinggalkan seperti kata Pak RT. Pemilik itu mati karena pesugihan yang dilakoninya sendiri,” jelas Ipang.

Aku tidak tahu harus percaya kepada Ipang atau tidak. Tapi, karena dia punya kelebihan itu, aku memutuskan untuk percaya dan membantu teman-teman untuk segera keluar dari sini.

Terlebih, aku tidak ingin ada hal yang lebih buruk lagi menimpa kami. Akhirnya, kami izin kepada Pak RT untuk meninggalkan desa tersebut dengan alasan KKN kami ditarik dari kampus dengan alasan yang belum diketahui.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.