Konten dari Pengguna

Cerita Pelaku Pesugihan Harimau yang Berakhir di Mulut Buaya

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buaya (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buaya (Foto: Pixabay)

Dulunya, desa Sukoharjo merupakan kawasan yang paling aman bagi masyarakat daerah Yogyakarta. Namun, hal itu sudah tidak berlaku lagi semenjak desa itu digegerkan oleh sebuah kejadian yang mengundang tanya.

Rumah seorang warga yang kaya raya bernama Sanusi semalam telah kemalingan. Bukanlah kemalingan yang membuat masyarakat khawatir, akan tetapi kejadian itu juga merenggut nyawa Sanusi beserta istrinya.

Menurut keterangan polisi, mereka tewas karena gigitan binatang buas di leher yang menyebabkan mereka kehabisan darah. Herannya, tidak ada seorangpun yang memelihara binatang membahayakan di desa itu.

Yang ada hanya beberapa hewan ternak seperti sapi atau kambing. Para warga yang suka menyimpulkan, menganggap bahwa itu adalah perbuatan seseorang yang menggunakan pesugihan.

Namun, bagi Bejo, seorang polisi yang diperintahkan untuk mengusut kasus ini tentu tidak ingin mempercayai omongan itu begitu saja. Dari hasil pemeriksaan polisi, kejadian itu adalah murni perampokan dan pembunuhan oleh pelaku.

Luka di leher korban dianggap berasal dari sabetan benda tajam yang diterjamkan beberapa kali. Kini, tugas Bejo adalah mencari siapa pelakunya. Untuk melakukan itu, Bejo melakukan interogasi kepada beberapa orang yang saat ini jadi tersangka.

Yang pertama adalah Paijo. Ia adalah tukang kebun yang suka membersihkan rumah korban. Tapi, tuduhan tersebut segera gugur karena ia tidak berada di tempat saat peristiwa perampokan itu terjadi. Paijo diketahui sedang libur kerja dan bersantai di rumah bersama keluarganya.

Sedangkan yang kedua adalah tukang bakso yang terekam di CCTV sedang lewat di depan rumah korban. Ia dijadikan tersangka karena memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan. Bejo segera membawa masuk tukang bakso itu ke dalam ruang interogasi.

“Pak Pardi, saya tidak ingin basa-basi. Saat lewat di depan rumah korban, ke mana saja bapak waktu itu?” tanya Bejo tegas.

“Maksud bapak apa? Saya ya keliling jualan bakso,” jawab Pardi sedikit ketakutan.

Bejo langsung menunjukkan rekaman CCTV saat Pardi tiba-tiba pergi meninggalkan gerobak baksonya begitu saja.

“Ini, bapak lihat! Ke mana bapak pergi selama itu? Padahal gerobak baksonya masih ada di depan rumah?” tanya Bejo kembali menyudutkan.

“I..itu saya pergi nyari tempat untuk buang air besar pak. Sumpah, saya tidak bohong! Saya ini hanya orang kecil pak, kok tega sampean menuduh orang kecil seperti saya,” jawab Pardi memelas.

Bejo terdiam mendengar jawaban Pardi. Karena tidak memiliki bukti cukup, Pardi akhirnya dilepaskan. Bejo hanya berharap tersangka kali ini bisa memberinya petunjuk untuk langkah selanjutnya. Yang terakhir, Bejo akan menginterogasi pembantu korban bernama Mbok Yem.

“Mbok, kalau Mbok menjawab semua pertanyaan saya dengan jujur, saya pastikan Mbok Yem akan segera bebas tanpa tuduhan apapun. Jadi, mohon kerjasamanya ya Mbok,” kata Bejo dengan nada sehalus mungkin karena Mbok Yem sudah sepuh.

Namun, sikap Mbok Yem aneh sekali. Ia tampak sangat ketakutan. Terlebih dengan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan Bejo.

“Saya melihat harimau jadi-jadian! Dia yang menyerang tuan dan nyonya sampai meninggal. Tukang bakso itu dalangnya pak polisi!” kata Mbok Yem sambil menangis tersedu.

Ilustrasi harimau (Foto: Pixabay)

Ada banyak hal yang perlu dicerna Bejo di sini. Mbok Yem sudah menjadi saksi kasus pembunuhan itu. Tapi, Bejo masih tidak percaya kalau Mbok Yem mengatakan pelaku berubah menjadi harimau untuk membunuh korban. Apa hal itu masih terjadi sampai sekarang?

Sibuk berkutat dengan pikirannya, ada sesama polisi yang menelepon Bejo bahwa terjadi kasus yang serupa di desa itu lagi. Katanya, korban yang satu ini sangat mengenaskan. Mereka dikoyak-koyak tubuhnya sampai meninggal.

Karena kejadian itu terulang lagi, kini desa itu dipenuhi dengan polisi yang berjaga setiap malamnya. Kelompok-kelompok yang percaya hal gaib berbondong-bondong memanggil orang pintar untuk menerawang dalang peristiwa tersebut.

Sementara itu, Bejo merasa ia harus menginterogasi tukang bakso itu lagi. Meskipun bukti yang dikatakan Mbok Yem kurang meyakinkan dirinya, setidaknya Mbok Yem melihat kelakuan tukang bakso itu saat merampok rumah.

Namun, saat mendatangi rumahnya, Bejo tidak dapat menemukan tukang bakso itu. Istrinya yang membukakan pintu mengatakan kalau ia sudah tidak pulang beberapa hari ini. Hal ini tentu menambah kecurigaan Bejo.

“Loh, pak polisi, ada apa kemari?” tanya seorang warga sembari mendekati rumah Pardi. Orang yang bertanya tadi ternyata mendatangi rumah Pardi ramai-ramai bersama warga lain dan seorang dukun.

“Eh, bapak-bapak. Saya ke sini ingin menginterogasi ulang Pak Pardi karena ada indikasi ia jadi tersangka kasus yang terjadi belakangan ini,” jawab Bejo.

“Wah, kebetulan sekali Pak. Ki Arjo juga mencium hal yang tidak beres dari rumah Pardi, makanya kami buru-buru ke sini,” sahut salah satu warga.

“Tapi, kata istrinya, Pak Pardi sudah tidak berada di rumah selama beberapa hari,” kata Bejo.

Para warga itu kesal mendengar perkataan Bejo. Kemudian, karena sepakat Pardi terlibat dalam kasus ini, mereka memutuskan untuk mencari Pardi sampai dapat. Bejo yang ingin segera menemukan pelaku juga turut serta dalam pencarian itu.

Namun, ternyata tidak mudah menemukan Pardi di desa seluas ini. Bisa jadi juga ia sudah pergi entah ke mana karena ketahuan warga. Tiba-tiba, ada seorang warga berteriak.

“Bapak-bapak! Saya menemukan jejak harimau. Pasti ini si Pardi yang mencoba melarikan diri. Ayo kita ikuti saja,” kata seorang warga.

Ki Arjo mengangguk, tanda ia mengamini perkataan warga itu. Tak mau berlama-lama, mereka kemudian bergegas mengikuti jejak harimau tersebut. Meski ragu-ragu, Bejo yang masih belum percaya dengan hal-hal semacam itu memutuskan untuk mengikuti mereka di belakang.

Perjalanan mereka itu terhenti di sebuah danau. Jejak harimau yang mereka ikuti berakhir tepat di bibir danau. Mereka bingung. Apa kira-kira yang terjadi dengan Pardi? Tiba-tiba, ada seseorang yang berteriak lagi.

Ternyata, mereka menemukan seekor buaya besar yang sedang bersantai. Tapi, bukan buaya itu yang mengejutkan mereka, melainkan jasad Pardi yang ada di mulut buaya itu.

Menurut penerawangan Ki Arjo, Pardi memang berusaha bersembunyi dari orang-orang. Namun nahas, selama persembunyiannya, dia harus bertemu dan melawan seekor buaya dan akhirnya kalah.

Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanyalah kebetulan belaka.