Konten dari Pengguna

Cerita Pesugihan Batok Kelapa yang Berujung Pelakunya Mati Bunuh Diri

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batok kelapa (Foto: Wikimedia)
zoom-in-whitePerbesar
Batok kelapa (Foto: Wikimedia)

Suatu pagi, Sukarwi mengobrol dengan istrinya, Rahmah. Mereka membicarakan soal keuangan keluarga yang tidak kunjung membaik. Sepeninggal ibu dari Rahmah, mereka bingung harus mendapatkan pemasukan dari mana.

Selama 17 tahun berumah tangga, Sukarwi dan Rahmah menumpang di rumah orang tua Rahmah. Pernah sekali dua mereka berpisah rumah, tetapi penghasilan yang tak kunjung layak membuat ibunda Rahmah diandalkan.

Ibunda Rahmah adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintahan. Gajinya kerap digunakan untuk keperluan keluarga Sukarwi yang tidak bekerja. Anak Sukarwi ada empat, semuanya dibiayai oleh neneknya, mertua Sukarwi.

Sudah dua bulan yang lalu ibunda Rahmah meninggal dunia karena penyakit jantung. Ditinggalkan "sponsor" keuangan, keluarga yang telah belasan tahun menikah itu tak kunjung menemukan ide bekerja, kecuali meminjam uang ke rentenir.

Ditaksir-taksir, utang Sukarwi kepada rentenir sudah hampir mencapai Rp 10 juta. Kalau bukan menjual rumah, sudah jelas utang itu tak akan pernah terbayar. Namun, jelas keduanya tak mau menjual rumah warisan orang tua.

Jika rumah itu dijual, di mana keluarga mereka akan tinggal. Setidaknya itulah satu-satunya ide paling waras yang dimiliki Sukarwi. Seperti apapun pailitnya keuangan mereka, hingga kapanpun tak akan pernah menjual rumah.

Suatu ketika, Sukarwi menonton sebuah acara televisi yang mempertontonkan keberhasilan suatu amalan pesugihan. Katanya, pesugihan dapat membuat orang menjadi kaya mendadak.

Ingin sekali ia berpaling dari ketertarikannya akan acara tersebut, tetapi iming-iming kekayaan yang katanya dapat dihasilkan dari pesugihan membuat Sukarwi menganga.

"Mungkin ini takdir Tuhan mempertemukanku dengan acara ini. Satu-satunya jalan untukku menyelesaikan semua masalah ini adalah dengan pesugihan," kata Sukarwi kepada istrinya.

Mendengar kalimat itu, istrinya tak terlalu antusias karena tahu pesugihan adalah hal yang tidak masuk akal. Namun, Sukarwi terus mendesak agar mereka melakukan amalan tersebut.

Sedikit bertengkar, tetapi ujung-ujungnya Rahmah mengikuti juga saran suaminya. Diaturlah kemudian kapan mereka harus pergi ke seorang dukun yang dapat menuntun mereka.

***

"Amalannya mudah saja. Pesugihan ini tanpa tumbal, tanpa korban apapun. Kalian cukup rajin-rajin saja menyimpan batok kelapa di rumah orang-orang. Tapi, jangan sampai ketahuan!" kata sang dukun.

Tanpa membawa anak-anaknya, Sukarwi dan Rahmah menemui dukun yang sudah mereka cari tahu jauh-jauh hari. Mendengar tuntunan dukun, mereka hanya diam dan mengangguk-angguk.

"Syaratnya, kalian tidak boleh menggunakan batok kelapa tua, harus kelapa muda. Lalu, sebelum digunakan untuk 'memancing', siramlah batok kelapa tersebut dengan darah kelinci segar. Biar saya yang mengirim utusan ke dalam batok tersebut," kata sang dukun menjelaskan lagi.

"Apakah itu bukan mencuri namanya, Mbah?" kata Rahmah polos. Dengan responsif, Sukarwi cepat-cepat menepuk paha Rahmah sambil memelototinya.

"Tidak. Ini tidak mencuri dari siapapun. Batok kelapa itu akan menyalin rejeki yang telah ditakdirkan Gusti Allah kepada orang yang bersangkutan," kata sang dukun meyakinkan.

Mendengar jawaban tersebut, Sukarwi tersenyum lebar sembari melihat istrinya yang masing pelanga-pelongo memerhatikan ucapan-ucapan sang dukun.

Singkat cerita, keduanya setuju untuk melakukan semua yang telah diinstruksikan. Keduanya kemudian pulang dengan meninggalkan mahar yang didapat dari menjual lemari dan televisi di rumah.

***

Pesugihan batok kelapa itu benar-benar manjur. Setiap dini hari, Sukarwi kerap mengambil batok kelapa yang ia pasang pada malam hari dengan keadaan sudah terisi uang.

Uang yang terisi di dalamnya beragam. Kadang ratusan ribu, kadang hanya dua ribuan saja. Semakin banyak Sukarwi menyimpan batok kelapa, maka semakin banyak pula uang yang didapatkan.

Sudah hampir enam bulan keluarga mereka mendapatkan uang dari hasil pesugihan. Keadaan mereka membaik. Rumah pun direnovasi. Furniture di dalamnya pun semuanya baru.

Sayangnya, kebiasaan lama mereka masih saja tak kunjung hilang, yakni rajin meminjam uang kepada rentenir. Mungkin, saking percaya dirinya mereka mendapatkan uang setiap hari, maka semakin berani mereka meminjam uang.

Kali ini tak tanggung-tanggung, uang yang dipinjam hampir sebesar Rp 100 juta. Kata Sukarwi, tak apa meminjam, akhir tahun juga akan lunas.

Suatu pagi, batok kelapa yang Sukarwi simpan tidak terisi apapun. Sukarwi kaget bukan kepalang. Namun, ia tak ambil pusing. Mungkin, ini hanya berlangsung satu atau dua hari.

Siapa sangka, ternyata batok kelapa tersebut selalu kosong selama berhari-hari. Bahkan, sudah hampir memasuki akhir bulan, batok kelapa tersebut masihlah kosong.

Sukarwi sudah berkali-kali mengulang ritual yang disarankan sang dukun. Namun, tetap tak menghasilkan apa-apa. Semuanya tetap kosong.

Suatu hari, akhirnya Sukarwi memberanikan diri menemui sang dukun. Saat disambangi, rumah dukun yang ia dan istrinya datangi berbulan-bulan lalu telah kosong. Tak ada siapa-siapa di sana.

Tetangga sekitar juga tak ada yang tahu ke mana perginya si pemilik rumah. Sukarwi gemetar bukan main. Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah utang ratusan juta kepada rentenir.

Dengan lemas, pikiran kosong, seakan tak ada lagi pilihan hidup, Sukarwi menabrakkan dirinya ke truk kontainer yang sedang melintas cukup cepat. Ia tewas seketika dalam tragedi tersebut.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar adalah kebetulan.