Cerita Pesugihan Jaran Panoleh: Istri Tak Sengaja Menjadi Tumbal

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anto buru-buru memasukkan lembaran uang di atas wadah gerabah bewarna coklat miliknya. Lilin yang tersebar di sekeliling dinyalakan satu per satu. Angin malam yang menusuk tubuh ringkihnya tak membuat Anto mengurungkan niat untuk melakukan pesugihan Jaran Panoleh. Dengan sigap ia langsung meletakkan hiasan kepala yang diperolah dari Ki Dirman, sang juru kunci ritual ini. Tak lupa kaki kanan dan kiri ia sematkan sebuah gelang yang di beberapa sisi diletakkan lonceng kecil.
Setelah membaca mantra yang sudah ia hafal di luar kepala, tiba-tiba saja tubuh Anto seperti dirasuk oleh makhluk gaib. Perlahan ia mulai menekuk tangannya layaknya seperti seekor kuda. 3 kali ia menghentakan kaki ke tanah merah di kebun milik Pak Darjo, Ketua RT kampungnya. Perlahan Anto mulai memutar dan berlari keluar dari kebun Pak Darjo menuju rumah ketua RT itu Sesekali ia mengeluarkan suara ringkikan yang hanya bisa di dengar oleh orang-orang yang mempunyai indera keenam.
Mengejutkannya, tiba-tiba tubuh Anto hilang seperti debu, tubuhnya tak terlihat hanya meninggalkan jejak aksesoris yang ia pakai sebelumnya. Jiwa Anto masuk ke dalam rumah Pak Darjo dan mulai mencari harta yang tersimpan di rumah itu. Mulai dari kalung emas, cincin hingga tumpukan uang ratusan ribu ia bawa kabur dari rumah Pak Darjo. Setelah tujuannya tercapai ia langsung membereskan perlengkapan yang tertinggal sebelumnya.
Paginya di kampung Rahajeng, warga dibuat geger dengan laporan hilangnya harta benda milik Pak Dirjo.
“Pak, malam kemarin ada yang maling ke rumah Pak Dirjo, padahal rumahnya yang paling aman daripada yang lain. Haduh gimana rumah kita ya pak,” ucap istrinya dengan Risau.
“Rumah kita juga apa toh bu yang mau dimalingin, paling si maling hanya dapat pakai kumuh saja di lemari” jawabnya.
“Tapi pak, yang paling parah malingnya tidak meninggalkan jejaj, bahkan dilihat dari cctv pun tidak ada apa-apa” celetuk istrinya itu.
Rasanya ia ingin sekali memberitahu kepada istrinya ini, namun bagaimanapun juga ia tak ingin Sinta menganggapnya tidak punya harga diri karena telah mencuri dan meakukan perjanjian dengan setan.
Sorenya Anto bergegas ke rumah Ki Dirman untuk meminta petunjuk dan membagikan sedikit hasil barang curiannya itu, dari sana Ki Dirman menjelaskan setelah melakukan pesugihan tersebut maka ia harus siap untuk memberikan syarat berupa jantung pisang.
Ternyata itu di luar ekspektasi Anto, pasalnya ia sudah berpikir jika melakukan pesugihan maka ada tumbal yang biasanya dikaitkan dengan nyawa orang dan ia tak ingin jika orang tersayang menjadi korban atas kelakuannya.
Semenjak dari sana bukannya berpikir untuk bertaubat, Anto malah semakin giat untuk mencari uang dengan cara instan. Ia juga sudah mengincar rumah Pak Syamsul untuk ritual malam nanti, tempat tersebut ia pilih karena beredar kabar jika Pak Syamsul baru saja menjual tanahnya di kampung sebelah.
Saat waktu menunjukkan pukul 01.00 Anto mulai keluar dan mengendap ke belakang pekarangan milik Pak Syamsul ia pun mulai melakukan ritual seperti sebelumnya. Namun sayang saat itu ada warga yang berteriak dan menjulurkan senternya kepada Anto .
“Maling, Maling, Maling!” Teriaknya
Untungnya saat itu Anto bisa melarikan diri sebelum datangnya gerombolan warga. Jantungnya berdegup dengan kencang sampai ia tidak menyadari jika badannya berdarah karena tergores ranting pohon yang ia terjang saking paniknya. Dari sana Anto merasa kapok untuk melanjutkan ritual tersebut.
Karena kejadian itu, ia tak pernah lagi melanjutkan ritual pesugihan. Sampai akhirnya Ki Dirman menegaskan jika jantung pisang itu akan diambil secara paksa dari Anto.
Ternyata benar saja, seminggu setelah kejadian tersebut sang istri meninggal dunia dalam keadaan tangan menekuk dengan kepala yang mengada memperlihatkan jejeran giginya. Anto menyesali perbuatannya, ia menyadari jika jantung pisang yang dimaksud adalah orang yang paling ia cintai.
Tulisan ini merupakan reka ulang dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
