Cerita Pesugihan Jenglot: Diri Sendiri dan Anak yang Harus Jadi Tumbal

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usman berjalan sendirian ketika penduduk kampung sudah di dalam rumah masing-masing dan hendak pergi tidur. Dingin malam terpaksa Usman tembus karena ia tak ingin seorang pun tahu apa yang akan ia lakukan sekarang.
“Jadi kamu yang namanya Usman,” tanya mbah Robiah.
“Betul, mbah. Saya Usman yang kemarin nelepon,” jawab Usman sambil tersenyum.
Rumah mbah Robiah hanya diselimuti temaram lilin saat itu, yang sebuah bisnis gelap di antara mereka berdua. Usman menemui mbah Robiah karena ingin meminta bantuannya untuk melakukan pesugihan jenglot.
Usman melakukan itu karena sudah hampir 7 bulan ini ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Terakhir kali ia menjadi kuli bangunan di sebuah proyek pembangunan ruko. Ketika, proyek selesai, Usman mendapatkan uang meskipun tak seberapa.
Ia harus pandai-pandai menyisihkan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SD. Adapun sang istri bekerja di negeri tetangga sebagai asisten rumah tangga sejak 1 tahun lalu.
Kelelahan hanya apa yang ia dapat setiap mencari pekerjaan. Ijazahnya yang hanya sampai SMA tidak terlalu dilirik oleh para penerima kerja. Usman selalu pulang ke rumah tanpa pekerjaan satupun, hanya uang yang terpakai untuk ongkos dan beli air minum.
“Jenglot ini tinggal kamu simpan di pinggir jalan besar dan biarkan dia memilih korbannya sendiri,” ujar mbah Robiah.
Tidak ada cara lain untuk mengekspresikan rasa antusias Usman selain tersenyum sembari memegang jenglot yang tak lebih besar dari ukuran tangannya itu. Seusai perjanjian, ia memberikan sejumlah uang kepada mbah Robiah sebagai bentuk hibah atas jenglot yang ia bawa pulang.
Keesokannya, Usman sudah berdiri di pinggir jalan besar yang juga melintasi pintu masuk desanya. Jalan besar meliuk-liuk itu sudah seperti ular raksasa yang menerobos hutan di kiri dan kanannya, terkesan menyeramkan dan menyimpan maut. Hanya saja orang-orang baik yang menggunakan sepeda motor, mobil, dan truk berani untuk memacu kendaraan disaat jalan itu dipenuhi tanjakan dan turunan karena tidak ada jalan lain.
Bagi Usman, jalan tersebut dapat menyembunyikan niat jahatnya karena tanpa menaruh jenglot agar mendatangkan tumbal, kabar bahwa jalan itu selalu mendengar korban jiwa sudah sering terdengar, apalagi ketika musim mudik tiba.
Ketika jalanan sudah disesaki oleh kegelapan , Usman mulai melancarkan aksinya. Ia menyembunyikan jenglot yang diberikan mbah Rubiah di sela-sela akar pohon besar yang menaungi sebuah tikungan. Ia melakukannya dengan cepat karena khawatir ada lampu kendaraan yang menyoroti tindakannya.
Setelah itu, Usman hanya menunggu jenglot itu bekerja. Ia akan mendatangkan kecelakaan di tikungan itu dan darah yang tumpah dari kematian akan dipergunakan sebagai sesembah untuk jenglot.
Selama 4 hari Usman menunggu kabar kecelakaan di tikungan itu dan akhirnya kabar itu datang di hari kelima. Setelah adzan shubuh, sebuah mobil truk menghantam pohon tempat jenglot milik Usman di simpan.
Kedua supir tewas di tempat dan Usman menghampirinya dengan perasaan senang. Ia membantu warga setempat dan pengemudi yang turun untuk membereskan kecelakaan, tapi maksud dan tujuannya tak lain adalah ingin memastikan jenglotnya baik-baik saja.
Apa yang dikatakan mbah Robiah benar adanya. Usman langsung mendapatkan pekerjaan di tempat yang sama sekali tidak ia sangka akan menerimanya. Gajinya tergolong cukup besar untuk membuka warung sembako di depannya.
Kematian lain yang terjadi di antara pengendara sepeda motor yang terseret sejauh 3 meter akibat menabrak bus antar provinsi juga membawa kekayaan yang semakin berlimpah bagi Usman. Warung sembakonya kian hari kian ramai, Usman sedikit demi sedikit bisa terbebas dari jerat kemiskinan.
Berkat kekayaan yang ia dapat dari Jenglot, Usman bisa merenovasi rumah, membeli sepeda motor baru, dan membuka warung sembako lain di desa sebelah. Anaknya juga sudah bisa sekolah tanpa harus khawatir kekurangan uang jajan atau tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan sekolah. Usman sudah lebih dari cukup.
Hanya saja kekayaan Usman tidak diiringi lagi dengan kecelakaan di tikungan tempat ia mencari tumbal. Sudah hampir 1 bulan Usman tidak mendapati kecelakaan di tikungan tersebut. Ia berpikir bahwa jenglot tersebut sudah tidak berfungsi atau semacamnya.
Pertanyaan tersebut kemudian terjawab di dalam mimpi. Di dalam mimpi, ia menemukan dirinya tersesat di dalam hutan yang sangat gelap. Ia sendirian dan tidak memiliki apapun untuk menerangi langkahnya.
Saat Usman sedang berjalan, tiba-tiba ia melihat sepasang cahaya merah. Cahaya tersebut bergerak ke arahnya. Wujudnya semakin lama semakin jelas dan menyerupai sesuatu yang ia kenal. Ternyata benar saja, cahaya itu adalah mata jenglot yang menyala. Taringnya yang panjang bergerak seperti ingin menikam Usman.
Usman memutuskan untuk lari terbirit-birit karena jenglot tersebut ukurannya lebih besar dari Usman. Dalam mimpinya, ia menembus kegelapan dengan terbirbit, namun jenglot tersebut berhasil menangkapnya.
Di situlah ia terbangun dari tidur dengan tubuh yang bercucuran keringat. Ia baru saja ingin melanjutkan tidur ketika melihat anak semata wayangnya yang setiap hari tidur bersamanya kejang-kejang.
Usman merasa panik karena tidak tahu apa yang terjadi pada anak kesayangannya. Karena tidak memiliki obat dan ilmu medis, Usman terpaksa mengeluarkan sepeda motor dan membawa anaknya ke klinik 24 jam.
Usman menembus kegelapan dengan menggunakan sepeda motor bersama anaknya yang memeluk erat dari belakang. Kantuknya perlahan hilang ketika ia melihat sepasang mata merah di sebuah pohon yang berada di tikungan. Ia tahu bahwa itu adalah jenglot yang ada di mimpinya. Usman hanya memperhatikan jenglot dan tidak sadar bahwa ia berada di jalur yang berlawanan dan di hadapannya cahaya mobil truk bergerak dengan cepat diiringi bunyi klakson.
Ayah dan anak itu tewas di tikungan maut tempat sang ayah menaruh pesugihan jenglot.
Tulisan ini merupakan reka ulang dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
