Konten dari Pengguna

Cerita Pesugihan: Mendapat Kekayaan dengan Menumbalkan Karyawan

Pesugihan

Pesugihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pesugihan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesugihan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan.

Sudah ketiga kalinya Aji mendatangi bagian kasir. Itu semua karena pegawai yang baru bekerja selama 2 minggu belum menguasai mesin kasir dan tidak kuat terjebak di dalam kecanggungan akibat pelanggan dihadapannya yang menunggu dengan tatapan sinis. Jika sudah begitu Aji melaksanakan tugasnya sebagai seorang manajer yang baik, membantu bawahannya yang mengalami kesulitan.

Aji harus mengerahkan semua tenaganya untuk memastikan semua karyawan bekerja dengan baik. Ia tidak ingin restoran yang menjual masakan khas Indonesia kehilangan reputasinya sebagai primadona dan juga kehilangan pelanggannya yang datang tanpa memandang hari kerja ataupun akhir pekan.

Hal itu bukan perkara sulit baginya, jika ia tidak sedang diselimuti duka. Setiap menghampiri mesin kasir, Aji selalu mengingat kawannya yang bernama Rian. Rian adalah rekan kerja juga seorang kawan yang piawai dalam urusan menjaga mesin kasir. Mereka berdua adalah karyawan yang bertahan sejak restoran ini bediri 4 tahun lalu, hingga Rian meninggal sebulan yang lalu.

Aji mengingat jelas bahwa 3 hari sebelum Rian meninggal, Bersama dua orang rekan kerjanya yang lain, mereka memutuskan untuk pergi ke warung kopi selepas menutup restoran. Di Warung kopi, mereka mengobrol, tertawa, dan menghabiskan waktu bersama karena keesokan harinya mereka harus pulang ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan Idul Fitri yang tinggal menghitung hari.

Menjelang hari raya, Aji mendapatkan kabar yang membuatnya seakan disambar oleh petir. Rian kawannya, ditemukan meninggal satu hari setelah ia tiba di kediaman orang tuanya. Mendengar kabar itu, Aji hanya bisa mengucapkan bela sungkawa kepada adik Rian yang berada di seberang telepon. Bukan hanya kematian yang Aji sedih, tetapi juga ketidakmampuannya untuk mengantarkan teman seperjuangan ke tempat terakhirnya karena mereka tinggal di pulau yang berbeda.

Bagi seseorang yang harus mengenali setiap rekan kerjanya, kehilangan satu orang rekan di tempat kerja memang selalu meninggalkan sebuah lubang di hati Aji, tapi rasanya jauh berbeda dengan kehilangan seorang kawan dekat. Bagi Aji, lubang tersebut seakan menganga lebar di dadanya dan belum terasa sembuh.

Kesedihan itu belakangan ini menganggu konsentrasinya dalam bekerja, terlebih jika Aji harus membantu Arman yang sekarang menjadi pengganti posisi Rian. Meski begitu, pria itu selalu mencoba untuk tidak mengendurkan performanya sebagai seorang manajer.

“ Ji, muka kamu kayanya capek banget. Sampai rumah istirahat.”.

Aji yang mengenali suara itu spontan mengalihkan pandangan dari daftar bahan baku ke arah pak Yanto sebelum hendak pulang. Pak Yanto sendiri adalah orang nomor satu di restoran itu. Sebagai pemilik restoran, ia adalah orang yang paling dihormati, bukan hanya oleh karyawan, tapi juga masyarakat.

Pria paruh baya itu adalah seorang pebisnis sukses di kota. Tempat-tempat mulai dari pusat perbelanjaan, café, restoran, hotel dan indekos miliknya tidak pernah sepi pelanggan. Tentu saja kekayaannya berlimpah dan ia pergunakan kembali untuk membuka 3 hektar sawah dan sebuah peternakan kambing di dekat rumahnya. Maka dari itu tidak ada yang tidak mengenal pak Yanto dengan kekayaan yang selalu membuntuti namanya.

“Saya mau ngerjain kerjaan saya dulu di dalam. Kalau mau pulang duluan saja, biar saya yang kunci,” ujar pak Yanto sembari tersenyum.

Aji sudah tahu bahwa sebulan sekali pak Yanto pasti datang ke restoran ketika restoran baru dibersihkan dan hendak tutup. Hanya saja, Aji tidak pernah mengetahui mengapa atasannya melakukannya secara rutin sejak pertama kali ia bekerja di sini.

Alasan yang selalu diutarakan pak Yanto adalah mengerjakan sebuah pekerjaan yang dilakukan di ruangan pribadinya yang ada di belakang restoran. Walau tidak suka mengurusi masalahan orang lain, kedatangan pak Yanto setiap se bulan sekali di waktu malam terkadang menimbulkan pertanyaan di kepalanya Aji. “Mengapa hanya setiap Rabu malam ia bekerja di kantor, sedangkan hari-hari lainnya hanya datang di saat siang saja?” adalah sesuatu yang belum terjawab oleh Aji.

“Ngomong-ngomong, gimana hari ini?” tanya pak Yanto.

“Semua berjalan lancar, pak, terkecuali Apin yang masih beradaptasi sama pekerjaan barunya,” jawab Aji dengan santun.

“Tidak apa-apa, namanya juga anak baru. Kamu pantau dan ajarin terus aja dia. Saya percaya kamu itu manajer yang baik dan berpengalaman,” jawab pak Yanto sambil tersenyum.

“Kan bapak yang ngajarin,” ujar Aji.

“Ah, kamu minta naik gaji ya?” ucap pak Yanto yang dilanjutkan tawa mereka berdua.

Setelah percakapan antara atasan dengan bawahan, pak Yanto pamit masuk ke dalam dan Aji membereskan semua barangnya sebelum pulang. Ketika hendak menuju tempat parkir, ia melihat bahwa kaca belakang pak Yanto masih terbuka cukup lebar. Sebagai karyawan yang baik, Aji memutuskan untuk meminjam kunci mobil pak Yanto untuk menutup kaca mobil tersebut.

Ruang kerja milik pak Yanto terletak di sebelah gudang penyimpanan bahan baku. Sesampainya di depan pintu, Aji mencoba untuk mengetuk pintu ruang kerja pak Yanto. Tidak terdengar jawaban dari dalam, Aji mencoba untuk masuk dengan pikiran pak Yanto menggunakan headset di kupingnya untuk keperluan kerja sehingga tidak mendengar dirinya.

Di dalam ruangan, tidak ada siapa-siapa. Meski begitu, Aji terdiam sejenak untuk memperhatikan ruang kerja pak Yanto. Ruangan tersebut sebelumnya tidak pernah dimasuki oleh siapapun termasuk karyawan yang bertugas membersihkan restoran. Bagi karyawan, ruangan tersebut amatlah misterius dan mendatangan pertanyaan tentang apa yang ada di dalamnya

Kini, Aji adalah satu-satunya orang yang bisa masuk ke dalam ruang kerja pak Yanto. di dalamnya, terdapat sofa, kursi, meja yang dilengkapi AC, dispenser, dan televisi. Semua barang tersebut terlihat normal kecuali sesuatu yang berada di pojok ruangan.

Setelah menghampirinya, Aji menemukan semangkuk bunga berbagai macam jenis dengan harum yang begitu menyengat. Di sampingnya,terdapat kemenyan yang ditaruh di sebuah wadah khusus, dan dua batang lilin berwarna merah. Rasa heran semakin menjadi-menjadi ketika Aji menemukan foto temannya Rian, ada di antara barang-barang tersebut.

Foto itu adalah foto yang Rian gunakan untuk melamar pekerjaan di restoran ini. Melihat keterkaitan antar benda-benda tersebut, Aji yakin bahwa pak Yanto melakukan pesugihan.

“Aji, kamu ngapain di sini? Sudah saya bilang tidak ada yang boleh masuk ke ruangan saya,” ujar pak Yanto dengan nada tinggi.

“Bapak bisa jelaskan apa ini semua?” jawab Aji.

Karena tertangkap basah dan tidak memiliki peluang untuk mengelak, pak Yanto mencoba untuk berterus terang kepada karyawan kesayangannya.

“Iya, selama ini saya melakukan pesugihan. Semua yang saya dapat, yang sayang bangun, yang saya capai, semua berkat bantuan pesugihan ini. Saya mohon untuk menjadikan ini sebagai rahasia kita berdua. Saya janji akan memberikan yang kamu mau,” ujar pak Yanto mencoba untuk membujuk Aji.

“Bapak sudah kaya raya, mengapa masih melakukan ini?” tanya Aji.

“Saya memiliki anak dan istri yang harus diberi penghidupan. Saya terpaksa melakukannya, ji, Supaya bisa membangun restoran ini,” ucap pak Yanto pelan.

Aji tahu bahwa alasan tersebut hanya omong kosong belaka. Sebelum memiliki restoran ini, pak Yanto sudah kaya raya.

“Apa benar bapak menumbalkan Rian, karyawan bapak sendiri?” tanya Aji sembari menunjukkan foto rian di tangan kirinya.

“Semua ini butuh pengobranan,” jawab pak Yanto dengan nada yang lebih pelan.

Mendengar jawaban itu, Aji tidak lagi melihat sosok pemimpin yang ia segani, melainkan seorang iblis berwujud pria paruh baya gemuk dengan kacamata yang membuatnya semakin tampak konyol.

Ia tidak habis pikir bahwa temannya yang banti tulang bekerja hampir setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus tewas demi memuaskan nafsu atasannya. Ia tahu bahwa dirinya sendiri atau teman-temannya bisa menjadi korban tumbal pria tua itu.

Aji mencoba untuk lari dari ruangan itu dan segera melapor kantor polisi, namun ia terperanjat atas apa yang ia lihat. Di belakang pak Yanto, terdapat makhluk yang berwujud seperti kera, hanya saja ukurannya lebih tinggi, bermata merah, dan memiliki taring panjang.

Melihat Aji terjatuh, pak Yanto mencoba untuk mencekik Aji agar tidak ada saksi mata atas pesugihan yang ia lakukan. Meski begitu, Aji mencoba untuk melawan. Ia menendang pak Yanto dengan satu hentakan, lalu mulai menghajar balik ketika ia mendapati makhluk tersebut menghilang. Baku hantam tak terhindarkan dan taka da satu orang pun yang tahu.

Keesokan harinya, kabar tentang kematian pak Yanto menggemparkan seluruh penjuru kota. Pria terpandang itu dikabarkan tewas akibat dibunuh oleh karyawannya sendiri dengan cara dicekik berdasarkan hasil dari rekaman CCTV.

Adapun ketika polisi mendatangi kediaman Aji, pria tersebut ditemukan tewas dengan keadaan yang juga mengenaskan. Lidahnya menjulur dan matanya yang melotot seakan ketakutkan melihat sesuatu. Aji dibunuh oleh makhluk halus peliharaan pak Yanto.

Tulisan ini merupakan rekayasa dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.