Konten dari Pengguna

Cerita Pesugihan: Menumbalkan Ibu Agar Toko Sembako Ramai

Pesugihan

Pesugihan

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

lustrasi makhluk ghaib. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
lustrasi makhluk ghaib. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan.

Asrul hanya terbujur kaku di atas kasurnya. Ia sama sekali tidak mati, tetapi penyesalan dari penyakit sudah membuatnya tubuhnya menjadi semacam penjara di mana penderitaan seakan tidak berakhir kecuali hidupnya berakhir. Meski begitu, ia juga tahu bahwa penderitaan akan berlanjut bahkan lebih parah ketika ia mati.

Semua bermula ketika ia membuka sebuah warung sembako di rumahnya. Asrul memutuskan untuk membuka usaha yang merupakan sebuah pilihan yang tidak biasa dilakukan orang-orang seusianya. Mirnah sang ibu meminta ia untuk mencari pekerjaan karena memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai pedang kue keliling dirasa tidak cukup untuk dia dan anak semata wayangnya.

Adapun sang ayah tidak pernah Asrul kenal sama sekali. Ibunya bercerita bahwa sang ayah pergi dari rumah dan tidak pernah kembali ketika asrul masih kecil. Maka dari itu bisnis toko sembako ini tidak lepas dari balas dendamnya kepada sang ayah yang tak pernah ia temui. Asrul berharap suatu saat ayahnya bisa melihat dirinya sukses meskipun hanya memiliki warung sembako.

Sayangnya hal itu tidak kunjung terwujud. Sudah hampir 6 bulan Asrul membuka warung, tetapi rezeki belum kunjung. Pembeli yang datang ke warungnya dalam satu minggu bisa dihitung jari.

Asrul tidak tahu menahu mengapain usaha yang ia buka dengan seluruh uang pesangonnya tidak membuahkan hasil. Adapun ibunya hanya meluapkan amarah ketika melihat warung sembako Asrul tidak berjalan baik. Ibunya kesal karena Asrul memilih untuk tidak mencari pekerjaan baru yang menjanjikan dan mempergunakan uang pesangonnya untuk bisnis kue ketimbang membuka warung sepi itu.

“Kita perlu uang, nak, dan kamu main-main dengan yang sebanyak itu,” kata ibunya.

“Saya gak main-main, ibu. Se rendah itukah saya di mata ibu? Sampai-sampai ibu tidak percaya sama saya untuk menjalankan bisnis,” ujar Asrul dengan membentak.

Belum ibunya selesai memberi penjelasan, Asrul pergi ke luar rumah dengan membanting pintu.

Di kios tempat ia biasa membeli minuman keras oplosan, ia berpikir bagaimana caranya membuat warungnya agar didatangi oleh pengunjung. Setelah beberapa tegukan, terbesit di pikirannya untuk menemui mbah Jamil.

Mbah Jamil dipercaya oleh orang-orang di kotanya sebagai seorang dukun yang mampu mendatangkan kekayaan kepada orang-orang. Berbeda dengan dukun-dukun lain, mbah Jamil biasa melayani pelanggan yang merupakan orang-orang kecil, mulai dari pengangguran hingga pedagang asongan.

Di hadapan mbah Jamil Asrul menceritakan bisnis sembakonya yang tidak kunjung laris. Mbah Asrul mendengarkan dengan seksama dan sesekali memanggut.

“Kamu besok temui saya di sini jam 10 malam dan jangan lupa bawa kembang,” ujar mbah Jamil.

*

Setelah ibunya tertidur, Asrul menyelinap ke luar rumah untuk memenuhi janji dengan mbah Jamil. Ia mengambil kembang yang ia sembunyikan di semak-semak depan rumahnya, lalu pergi dengan berjalan kaki.

Sesampainya di rumah mbah Jamil, pria tua itu sudah menunggu di jok sepeda motornya. Mereka langsung berangkat tanpa sepatah kata diucapkan.

Terdapat rasa khawatir timbul di dalam diri Asrul ketika duduk dibonceng mbah Jamil, terlebih mbah Jamil yang baru ia kenal satu hari ini memacu sepeda motor ke tengah hutan yang biasanya dijauhi oleh orang-orang jika sudah malam-malam begini.

“Mbah, ini kita mau ke mana?” tanya Asrul sedikit takut.

“Sudah, nanti juga kamu tahu,” jawab mbah Jamil santai.

Setelah menghabiskan waktu 30 menit, sampilah mereka berdua di sebuah pohon besar. Asrul tahu kalau pohon itu adalah pohon beringin dan biasanya pohon beringin dipakai untuk melakukan ritual klenik.

“Mana kembang yang saya suruh bawa?” tanya mbah Jamil.

Asrul memberikan bungkusan kembang yang sedari tadi dia pegang. Di bawah pohon mereka berdua mengambil posisi duduk sila.

Mbah Jamil memulai ritual pesugihan yang biasa dilakukan. Asrul tahu akan hal itu karena tak sedikit orang yang membicarakannya. Karena ia tidak mengerti sama sekali, ia hanya menyimak mbah Jamil bekerja dan menunggu hasilnya.

Setelah melihat ritual yang dipenuhi oleh rapalan-rapalan mantra yang sangat sulit untuk di dengar, Asrul akhirnya lega karena mbah Jamil membakar rokok yang menjadi tanda bahwa ritual sudah selesai.

“Ritual sudah selesai. Sekarang kamu bisa mendapatkan kekayaan dari warung sembako kamu,” ujar mbah Jamil.

Ucapan tersebut bukanlah hisapan jempol semata. Sehari setelah melakukan pesugihan di bawah pohon beringin itu, pelanggan Asrul bertambah. Seiring berjalannya waktu, Asrul bisa mendapatkan belasan pelanggan dan mendapatkan keuntungan besar setiap minggunya.

Beberapa pelanggan bahkan menjadi pelanggan tetap dan biasa membeli barang kepada Asrul dalam jumlah banyak. Dalam waktu 2 bulan saja, nasib Asrul berubah.

Dari penghasilannya, Asrul bisa membeli sepeda motor dan membuka warung sembako lain di desa tetangga dengan merekrut temannya untuk bekerja sebagai penjaga warung. Uang itu juga ia pergunakan untuk membuka bisnis kue untuk ibunya sehingga ibunya tidak lagi harus berkeliling desa lagi.

Sayangnya, ibunya tidak sanggup lagi untuk berdagang. Semenjak Asrul sukses, sang ibu jatuh sakit. Ia sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan, tapi dokter sendiri tidak paham akan keadaan ibunya. Tidak ditemukan sedikitpun penyakit di tubuh ibunya.

Tidak perlu berpikir panjang untuk mengetahui bahwa penyakit ini adalah dampak dari pesugihan. Dengan kesal Asrul menghampiri mbah Jamil.

“Penyakit ibu kamu sudah tidak bisa disembuhkan dan itu adalah resiko yang harus kamu tanggung,” ucap mbah Asrul.

Kekesalan Asrul memuncak saat itu. ia sangat ingin menghabisi pria tua itu, tapi itu tidak berguna karena cepat atau lambat ia akan ditangkap oleh polisi dan dijebloskan ke penjara.

Sesampainya di rumah, Asrul tak menyangka bahwa ia mendapati ibunya terbujur kaku di atas Kasur dan tidak bernafas. Ia tam menyangka pesugihan demi toko sembako bisa merenggut nyawa ibunya.

Karena hal ini, kesehatan dan mental Asrul terganggu. Toko sembako yang ia miliki akhirnya tidak dikelola denggan baik dan berujung tutup.

Asrul hanya terbujur kaku di atas kasurnya. Ia sama sekali tidak mati, tetapi penyesalan dari penyakit sudah membuatnya tubuhnya menjadi semacam penjara di mana penderitaan seakan tidak berakhir kecuali hidupnya berakhir. Ia tahu bahwa ia akan mati sebagai tumbal pesugihan.

Tulisan ini merupakan rekayasa dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.