Konten dari Pengguna

Cerita Pesugihan: Tumbal Terakhir untuk Kaya Tujuh Turunan

6 Mei 2020 20:47 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pesugihan. Foto: Aditia Noviansyah/ kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesugihan. Foto: Aditia Noviansyah/ kumparan.
ADVERTISEMENT
Hari ini tepat seminggu kepergian ibu, sehabis azan Isya warga kampung sudah mulai datang ke rumah untuk melakukan pengajian tahlilan tiga harian. Kegiatan ini sudah sebagai tradisi warga untuk mendoakan orang yang telah tiada.
ADVERTISEMENT
Setelah acara selesai aku ditugaskan bapak untuk mengantar sesepuh sampai depan pintu rumah dan memberikan ucapan rasa terima kasih atas kehadirannya. Saat satu per satu tamu sudah kembali ke rumah, kini hanya tersisa Mbah Solihin, kakek yang disegani oleh warga karena kesaktiannya. Sebelum pulang ia sempat mengajakku untuk berbincang perihal kematian ibu.
“Ibu mu baru tiga hari meninggal, berarti makamnya masih basah. Kalau bisa tempat pemandian jenazah ibumu diberi jaring-jaring atau pukat harimau agar tak terjadi hal yang tidak dinginkan.” Ucapnya menyarankan.
Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang diucapkan Mbah Solihin, pasalnya untuk apa melakukan hal seperti itu dan apa hubungannnya dengan seekor harimau. Namun sebelum aku melontarkan pertanyaan tersebut si mbah berkata lagi.
ADVERTISEMENT
“Jangan sampai jenazah ibumu dibawa lari oleh siluman harimau untuk dijadikan tumbal,” katanya mengingatkan. Aku pun menerima masukkan itu dan berniat untuk menyampaikan langsung ke bapak.
Setelah peringatan yang diberikan mbah Solihin, setiap hari aku selalu bergantian menjaga tempat pemandian jenazah yang ada di belakang rumah. Kali ini giliran aku yang bertugas.
Sebelum azan Maghrib berkumandang aku mengeluarkan pukat harimau yang tersimpan di gudang dan mulai membentangkan jaring-jaring tersebut hampir menutupi pekarangan rumah. Terakhir yang aku dengar dari bapak, kegiatan ini harus selalu dilakukan selama 40 hari setelah kematian ibu.
Waktu menunjukkan pukul 01.00 pagi namun bapak tidak kunjung balik dari pos ronda. Dengan mata yang sedikit menyipit dan mengeluarkan air mata karena mengantuk, aku pun mencoba untuk menyeduh segelas kopi di dapur.
ADVERTISEMENT
Sedang sibuknya memasukkan air panas ke dalam cangkir tiba-tiba dari kejauhan aku melihat hewan besar yang memiliki corak coklat dan hitam pada tubuhnya, kemudian macan itu mendekati jaring di belakang rumah.
Karena terlalu panik, kucoba mengarahkan senter ke tubuh hewan itu sambil bergegas mengambil golok milik bapak di belakang pintu.
“Hei siapa di sana!” teriakku.
Namun, anehnya hewan itu malah lari dengan kekuatan penuh menjauhi rumahku dan hilang di tengah kegelapan malam. Dari sana aku berpikir jika macan tersebut bukan hewan pada umumnya melainkan sebuah siluman.
Kesokkan hari aku dan bapak berbincang untuk meminta bantuan orang pintar untuk menjaga rumah kita. Kemudian bapak menyuruhku untuk mengabari mbah Solihin, sesepuh yang terkenal karena sakti.
ADVERTISEMENT
Tanpa pikir lama aku langsung mengunjungi rumah mbah Solihin yang terletak dekat kuburan Karimata. Sesampainya di sana aku hanya lihat Agus, anak Pak Solihin yang sedang sibuk mengasah pisau belati di depan rumah.
“Mbah ada Gus?” tanyaku dengan sopan.
“Tadi ada, coba kamu masuk ke dalam saja Mad” ucapnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah mbah Solihin mencoba memanggil si mbah namun tidak ada jawaban. Saat ingin keluar menanyakan lagi kepada Agus tiba-tiba saja suara mbah Solihin terdengar dari belakang rumah.
“Kenapa Mad, cari mbah?” ucapnya lirih sambil menghampiriku.
Selanjutnya aku mencoba untuk menjelaskan tentang kejadian semalam dan keinginan bapak untuk meminta bantuan kepada mbah Solihin. Dengan senang hati si mbah menyetujui permintaan itu. Namun, ia tidak bisa datang awal karena harus ke rumah kerabatnya dahulu di kampung sebelah untuk mengobati keluarga yang diguna-guna.
ADVERTISEMENT
***
Malam itu, aku dan bapak berjaga seperti biasa, sesekali bapak menjelaskan jika siluman macan memang sudah menjadi rumor di kampung, bahkan banyak jenazah yang tiba-tiba hilang dari makam dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Kebanyakan, mayat di kuburan akan hilang ketika macan itu berhasil masuk ke dalam tempat dimandikannya jenazah pertama kali. Mereka meyakini setelah datang ke rumah yang dituju, macan itu kemudian mengambil jenazah dari makam untuk dijadikan pesugihan.
Pesugihan tersebut akan berhasil ketika pelaku sudah mempunyai jenazah sebanyak 99 orang, diyakini harta yang akan didapat tidak akan habis tujuh turunan.
Sedang seriusnya berbincang dengan bapak tak berapa lama Mbah Solihin datang. Kita bertiga menunggu kehadiran macan siluman itu, apalagi kemarin malam ia sudah menunjukkan batang hidungnya.
ADVERTISEMENT
Setelah 3 jam menunggu tiba-tiba terdengar suara geraman dari balik semak-semak pohon beringin. Kami bertiga lantas bangun dan mengambil benda tajam yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mbah Solihin terlihat meramalkan mantra kemudian mendekati pukat harimau di belakang rumah.
Benar saja harimau tersebut datang memperlihatkan deretan taringnya mencoba untuk masuk ke dalam jaring. Untungnya ada mbah Solihin di sana, dengan secepat kilat si mbah melempar tumpukan garam ke arah harimau itu. Lantas badan sang harimau berlonjak, berputar, sebentar membujur ke arah utara, sebentar berbalik ke selatan.
Kemudian harimau itu lari dari dengan keadaan setengah lemas. Mbah Solihin dan bapak mencoba mengejar harimau itu. Aku pun bergegas mengikuti mereka, namun suatu benda yang tergeletak di tanah tiba-tiba mengalihkan pikiranku.
ADVERTISEMENT
Kucoba ambil pisau belati dengan gagang merah dan tali hitam yang menggantung. Benda tersebut rasanya tidak asing bagiku, namun aku temukan belati tersebut tepat di mana siluman macan tadi berdiri. Tak sampai semenit akhirnya aku menyadari jika benda itu adalah milik Agus, anak Mbah Solihin.
Akupun lari menghampiri mbah Solihin dan bapak yang mengejar macan tadi. Namun, yang aku lihat sungguh miris karena di pelukkan mbah Solihin kini sudah ada Agus yang berlumuran darah dengan pisau menancap di tenggorokan.
Tulisan ini merupakan rekayasa dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.