Cerita Pesugihan: Uang Ghaib yang Harus Dihabiskan dalam 40 Hari

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anto sudah duduk di depan kakek yang dipanggilnya mbah Roso ini, matanya melirik ke kanan ke kiri memperhatikan keadaan di dalam rumah kecil tersebut. Hari itu ia berniat untuk melakukan pesugihan uang gaib yang sebelumnya disarankan oleh seorang teman.
Jangan ditanya mengapa ia berani untuk mengambil risiko seperti itu, karena Anto baru saja diultimatum untuk membayar kontrakan secepat mungkin, kalau tidak dibayar dalam kurun waktu satu minggu ia harus rela untuk angkat kaki dari tempat tinggal yang ia telah huni selama 5 tahun itu.
“hem….hem…hem…” suara yang tidak jelas ditangkap oleh Anto keluar dari mulu si mbah.
Kepala si mbah bergoyang-goyang dengan tangan yang berputar di atas wadah arang kemenyan. Saat itu si mbah berkata kepada Anto apa ia siap untuk menerima risiko yang akan di dapat setelah melakukan ritual uang gaib. Kemudian dengan tegasnya Anto mengangguk, tanda menyetujui semua syarat yang berlaku.
Dari sana si mbah mulai menjabarkan apa saja yang harus Anto perbuat untuk melakukan ritual, termasuk menyediakan hewan kambing dengan satu tanduk di kepala. Setelah perjanjian seleai dengan si mbah. Anto pulang dalam keadaan kebingungan dn sedkit meragukan apa yang mbah Roso bilang kepadanya.
Namun dia berpikir, toh sudah terjun ke dunia mistik seperti ini, sayang juga jika tidak dilakukan sampai selesai. Hari itu Anto mencari bahan-bahan yang diperlukan mulai dari kertas koran, tempayan atau sejenis guci berwarna coklat, bunga melati dan tentu saja kambing sebagai persyaratan utama.
Kemudian Anto menggunting koran tersebut menyerupai ukuran uang kertas, ia lakukan hal tersebut satu demi satu hingga koran tersebut menutupi wadah yang telah disiapkan. Perlahan tapi pasti hingga potongan kertas tersebut menutupi guci yang dipakai Anton. Setelah itu ia bergegas untuk menuangkan air yang sebelumnya direndam dengan bunga melati. Tak lupa darah dari kambing yang telah ia sembelih ikut dimasukkan.
Mengikuti perintah mbah Roso tumpukan kertas koran tadi harus didiamkan semalaman, karena tak sabar sesekali Anto mengintip ke dalam tempayan tersebut apa sudah ada tanda-tanda perubahan apa belum.
Keesokan pagi, Anto dibuat kaget setengah mati karena apa yang dikatakan mbah Roso kepadanya benar adanya. Sekarang di dalam tempayan tersebut sudah ada tumpukan uang yang terdiri dari lembaran ratusan ribu. Anto dibuat girang sejadi-jadinya hingga ia melompat-lompat kecil di depan tempayan tersebut.
Jika dihitung uang itu berjumlah Rp 50 juta, tanpa pikir lama ia sisihkan dari uang tersebut untuk membayar kontrakan, kemudian karena masih tersisa banyak Anto belikan sepeda motor untuk menambah penghasilan. Sekarang di tempayan tersebut masih ada setengah dari jumlah uang yang diberikan oleh setan. Namun, saat itu Anto berpikir untuk menyimpan saja, toh nanti pasti ada kebutuhan lain yang harus ia keluarkan.
Hingga tak lama Anto sudah terbuai dengan uang yang ia dapatkan dan lupa untuk memberi sesajen kepada makhluk gaib yang sudah memberi pinjaman uang tersebut. Menurut si mbah uang gaib harus digunakan sebelum 40 hari setelah dilakukannya ritual, begitu juga dengan sesajen setiap harinya harus selalu tersedia di depan tempayan itu.
Namun, karena Anto terlalu asyik menikmati setengah dari uang gaib tersebut, saat ia ingin gunakan untuk terakhir kalinya dengan niat untuk membeli emas sebagai investasi. Tiba-tiba saja uang yang dipegang Anto berubah menjadi lembaran kertas koran seperti semula. Setelah itu Anto ditangkap dengan tuduhan penipuan dan berakhir di penjara.
Jadi sebenarnya pesugihan uang gaib hanya membutakan mata orang lain dengan sihir yang digunakan oleh setan. Aslinya lembaran kertas tersebut tetap berupa koran dan bukan uang yang asli.
Tulisan ini merupakan reka ulang dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
